By : Asti Marlanti, S.Pt
(Member Akademi Menulis Kreatif)
Ya Nabi salam 'alaika
Ya Rasul salam 'alaika
Ya Habib salam 'alaika
Shalawaatullaah 'alaika
Begitulah petikan selawat yang sering terdengar saat bulan Rabiul Awal. Kaum muslimin saat ini bersuka-cita menyambut bulan kelahiran Nabi Muhammad. Bahkan bagi masyarakat Madura, Maulid Nabi diibaratkan sebagai lebaran ketiga setelah Idul Fitri dan Idul Adha.Tradisi saling berkunjung dan silaturahmi dilakukan untuk berkumpul dengan keluarga layaknya lebaran. Tradisi mudik pun dilakukan saat perayaan Maulid ini. Selain itu, untuk memeriahkan Maulid, orang Madura merayakannya dari rumah ke rumah secara bergantian dengan jamuan makan sebulan penuh.
Begitu pun dengan masyarakat Bangka. Perayaan Maulid diisi dengan silaturahmi keluarga layaknya lebaran.
Seperti itulah sebagian masyarakat Indonesia menyambut dan merayakan Maulid Nabi. Perayaan Maulid Nabi merupakan perwujudan rasa penghormatan yang begitu tinggi terhadap sosok Rasulullah.
Baginda saw. merupakan manusia yang paling istimewa di bumi ini. Tidak hanya muslim, bahkan nonmuslim pun mengakuinya. Salah satunya adalah Michael H. Hart, Profesor astronomi, fisika dan sejarah sains, dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, menempatkan Nabi Muhammad di urutan kesatu karena satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses luar biasa, baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi. Selama tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar.
Namun, sungguh ironis kaum muslimin zaman sekarang. Alih-alih menghormati dan mencintai Nabi, faktanya banyak sekali yang menghina Nabi Muhammad dan ajaran Islam yang dibawanya. Contoh terdekat adalah pernyataan Sukmawati Sukarno Putri saat menjadi pembicara dalam sebuah diskusi bertema 'Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkap Radikalisme dan Berantas Terorisme' beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan itu Sukmawati berkata, "Sekarang saya mau tanya, yang berjuang di abad 20 itu Nabi yang mulia Muhammad atau Insinyur Soekarno? Untuk kemerdekaan Indonesia?". Pertanyaan ini dilontarkan dengan emosional dan tendensius. Hal tersebut jelas merupakan penghinaan terhadap jasa dan perjuangan Nabi Muhammad. Ditambah lagi dengan pertanyaan,
"Saya ingin bertanya lagi, di mana itu bendera hitam dengan tulisan Arab? Di mana?", "Kok ujuk-ujuk sekarang berkibar-kibar seolah-olah mau mendirikan Negara Islam atau khilafah?".
Miris! Sungguh miris sekali. Di bulan Maulid ini harusnya menghormati Nabi Muhammad, Sukmawati malah mempertanyakan perjuangannya. Seharusnya kita mencintai sosok Nabi, Sukmawati malah membandingkannya. Dan seharusnya di bulan Maulid ini kita mengikuti perjuangannya, bukan malah menentang ajaran yang beliau emban dalam dakwahnya. Lantas mengapa hal ini terjadi terus-menerus dalam sistem saat ini?
Kita semua tahu bahwa bukan sekali ini saja Nabi Muhammad dan ajarannya dihina dan dinistakan. Baik melalui lisan elit politik negeri, budayawan, hingga masyarakat biasa di media sosial. Adanya penistaan yang terus berulang tersebut tidak bisa dilepaskan dari penerapan demokrasi sekuler yang menjamin kebebasan dalam kehidupan. Demokrasi yang merupakan sistem politik buah pikir Plato dan Aristoteles, menjamin kebebasan berpendapat. Adanya kebebasan berpendapat ini menjadikan setiap individu memiliki hak untuk mengutarakan pendapat atau opininya tentang segala sesuatu, termasuk menghina Nabi Muhammad dan ajaran Islam. Meski kebebasan di negeri ini katanya dibatasi dengan konstitusi, tapi tidak jarang justru mengangkangi konstitusi. Terutama bila terkait dengan simbol dan ajaran Islam.
Selain itu, penistaan agama banyak terjadi karena diterapkannya sistem sekuler di tengah masyarakat. Sistem sekuler adalah sistem yang memisahkan antara agama dan kehidupan, termasuk kehidupan bernegara dan menjadikan hukum buatan manusia di atas segalanya. Ringannya sanksi juga memperparah keadaan karena tidak menimbulkan efek jera. Alih-alih jera, justru menjamur berbagai penistaan dengan gaya dan motif yang berbeda.
Hukuman Bagi Penista Agama
Dalam buku yang berjudul ”Pedang Terhunus Bagi Penghujat Rasul” (”AsSarim al Maslul ’ala Shatim arRasul”), Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan sebuah pelajaran penting dari sirah Nabi saw. Dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa seorang pemuka Yahudi ahli syair warga Madinah bernama Ka’ab bin Al-Asyraf dibunuh oleh seorang sahabat Nabi bernama Muhamad bin Maslamah radhiyallahu ‘anhu. Ia dibunuh karena telah menulis puisi yang menghujat Nabi. Sebagaimana dalilnya:
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?”
Tidak usah kalian meminta maaf, karena kalian telah kafir sesudah kalian beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kalian (lantaran mereka tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At-Taubah : 65-66)
Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda :
“Siapakah yang mau “membereskan” Ka’ab bin Asyraf? Sesungguhnya ia telah menyakiti Allah dan rasul-Nya.” Muhammad bin Maslamah bertanya, “Apakah Anda senang jika aku membunuhnya, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Ya”…” (HR. Bukhari)
Itulah sanksi bagi para penista agama dalam hukum Islam. Tentunya sanksi tersebut bisa terlaksana jika syariat Islam dilaksanakan dalam tataran sebuah negara Khilafah Islam. Hukuman tersebut akan membuat efek jera bagi para pelakunya. Tentunya karena bersumber dari Sang Maha Pembuat Aturan, al Khaliq al Mudabbir Allah Swt.
Oleh karena itu wahai kaum muslimin, mari kita berjuang agar syariat Islam tegak di muka bumi, sebagaimana apa yang Rasulullah bawa dan ajarkan kepada kita semua. Mari kita merayakan Maulid disertai dengan melaksanakan seluruh ajarannya. Mari kita bangkit dan bersatu, agar syari'ah Allah tegak secepatnya. Kobarkan semangat, korbankan harta, tenaga, pikiran, bahkan jiwa kita demi tegaknya Islam dan kemuliaan Islam di muka bumi ini.
Wallaahu a'lam bish shawaab.

No comments:
Post a Comment