Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tanggap Darurat Potret Buram Pendidikan Sekuler di Indonesia

Friday, October 11, 2019 | Friday, October 11, 2019 WIB


Oleh : Nur Ilmi Hidayah
Praktisi Pendidikan dan Member Akademi Menulis Kreatif

Dunia pendidikan di tanah air terus menjadi sorotan, khususnya dari sisi kualitas. Dari sisi infrastruktur pendidikan belum semuanya dikatakan layak. Masih banyak sekolah-sekolah yang masuk dalam ketegori memprihatinkan. Dari sistem pendidikan juga begitu.

Menurut kebijakan pemerintah yang tertuang dalam UU No. 22 Tahun 1999 mengenai Otonomi Daerah dan sejalan dengan UU No. 25 Tahun 1999 mengenai Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah merupakan konsekuensi dari keinginan era reformasi yang menghidupkan kehidupan demokrasi.

Maka di era otonomi daerah kebijakan strategi yang diambil Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah adalah: (1) Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah yang memberi kewenangan pada sekolah untuk merencanakan sendiri upaya peningkatan mutu secara keseluruhan, (2) Peningkatan berbasis partisipasi komunitas agar terjadi interaksi yang positif antara sekolah dan masyarakat, sekolah sebagai community learning centre, (3) Dengan menggunakan paradigma belajar yang akan menjadikan pelajar-pelajar menjadi manusia yang diberdayakan. (4) Pemerintah juga mencanangkan pendidikan berpendekatan Board Base Education Sistem (BBES) yang memberi pembekalan kepada pelajar untuk siap bekerja membangun keluarga sejahtera.

Bukan hanya perihal ketidaksopanan terhadap guru yang membuat potret pendidikan Indonesia semakin buram. Komisi Perlindungan Anak (KPAI) mencatat dari 87 juta populasi anak Indonesia, sebanyak 5,9 juta tercatat sebagai pecandu narkoba. (okezone.com, Mei 2018)

Padahal dalam pendidikan Indonesia, tujuan pendidikan nasional berdasarkan UU No. 29 Tahun 2003 adalah menjadikan murid mendapatkan keterampilan, akhlak mulia, kecerdasan, kepribadian, pengendalian diri dan kekuatan spiritual keagamaan.

Tujuan pendidikan Indonesia tampaknya sangat bagus, namun realita yang terjadi justru sebaliknya. Fakta yang ada justru jauh dari nilai-nilai akhlak mulia. Alih-alih mempunyai kekuatan spiritual keagamaan, mempunyai rasa hormat dan sopan santun terhadap guru yang telah memberikan ilmu saja sangatlah kurang.

Upaya untuk menangani persoalan yang melanda Pendidikan Indonesia sebenarnya telah dilakukan oleh pemerintah namun permasalahan pendidikan tersebut diantaranya mulai dari berulang kali mengganti kurikulum, diberlakukannnya penguatan pendidikan pada Perpres No. 87 Tahun 2017, sistem zonasi sekolah yang diberlakukan mulai 2018 lalu. Namun, permasalahan di dunia pendidikan tetap saja terjadi, dan malah semakin meningkat.

Pendidikan kita bersifat linear, yaitu maju tanpa berkelanjutan tanpa batas tanda mengetahui akhirnya ujung bentuk masyarakat dan peradaban yang diinginkan. Peran pemerintah yang menjadi tanggungjawabnya untuk menjamin pendidikan bagi warga negaranya, bukan sekedar alokasi anggaran tetapi perlu melihat kekulturan.

Generasi narkoba, seks bebas, aborsi, geng motor, tawuran, masih mewarnai dunia pendidikan kita. Belum lagi siswa sekolah yang bergaya hidup mewah, hura-hura, cinta mode, konsumeristik dan individualistik. Inilah sekilas potret buram pendidikan Indonesia yang tidak lain buah dari penerapan sistem pendidikan saat ini.

Gaya hidup bebas yang bersumber dari sistem kapitalismepun mendorong siswa untuk bergaya hidup mewah. Belum lagi para guru yang mengajar untuk mengejar jumlah jam demi mendapatkan sertifikasi, karena gaji yang tidak mumpuni terutama guru honorer. Sehingga orientasi guru tidak lagi mendidik dan mewujudkan generasi cemerlang, akan tetapi mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Inilah sistem pendidikan kapitalisme, dunia pendidikan kita dikomersilkan dan menjadi ujung bisnis yang subur. Sungguh kompleks dampak penerapan sistem kapitalisme ini. Kepribadian siswa dikaburkan hanya demi meraup keuntungan.

Islam Solusinya

Siapapun tidak menginginkan fenomena ini terus terjadi. Perlu ada solusi reel untuk mengubah kondisi ini, karena bagaimanapun pendidikan merupakan elemen yang sangat penting dalam kemajuan suatu bangsa. Kejayaan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas generasi yang membangunnya. Kualitas generasi berkorelasi pada mutu pendidikannya. Jika pendidikan yang diterapkan berkualitas, maka akan mewujudkan generasi yang berkualitas juga, pun sebaliknya.

Islam adalah agama sempurna dan paripurna. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan. Dari sistem ekonomi, sosial, kesehatan dan termasuk pendidikan di dalamnya. Pendidikan di dalam Islam menempati posisi yang sangat penting. Seperti firman Allah:

"Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (Surat al-Mujadilah ayat 11)

Sistem pendidikan Islam menjadikan akidah Islam sebagai landasannya. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah membangun kepribadian Islam pada generasi muslim dengan membangun pola pikir dan pola sikap. Mempersiapkan generasi muslim untuk menjadi ulama-ulama yang ahli, baik ilmu keislaman (ijtihad, fikih, peradilan, dan lain-lain), maupun ilmu-ilmu terapan (teknik, kimia, fisika, kedokteran, dan lain-lain).

Output siswa yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia akan menjadi hal yang ditanamkan pada proses pendidikan. Dalam pendidikan Islam akan senantiasa ditanamkan kepada generasi bahwa tujuan hidup hanya untuk beribadah kepada Allah Swt dan halal haram akan senantiasa tertanam sebagai standar dalam berbuat. Maka setiap siswa pasti akan selalu merasa diawasi oleh Allah, sehingga aktivitas yang dilakukanpun sesuai dengan syariat Islam. Mereka akan berpikir berulang kali untuk melakukan aktivitas yang melanggar syariat, semisal seks bebas, aborsi, narkoba, tawuran, melakukan tindakan kriminal kepada teman atau kepada gurunya. Maka dengan sistem pendidikan Islam akan menjadikan generasi yang bertakwa dan berakhlak mulia, serta membawa manfaat bagi kehidupan manusia.

Sistem pendidikan Islam pun hanya akan terwujud jika sistem pendidikan di negeri ini berlandaskan Islam. Islam sebagai peradaban agung yang dibangun Rasululullah Saw, telah mampu mengubah generasi yang bodoh menjadi generasi yang unggul, dan mampu menjadi penerang serta pelopor kemajuan sains dan teknologi untuk kemajuan dunia.

Peradaban agung dan mulia dengan sistem pendidikannya mampu melahirkan ulama-ulama dan ilmuan luar biasa, seperti Ibnu Sina, Al Khawarismi, Imam Syafi'i, Ibnu Al Haitsam dan masih banyak ilmuan-ilmuan lainnya yang keilmuannya menjadi rujukan.

Maka, tidak ada solusi lain untuk memutus rantai permasalahan pendidikan dan generasi kecuali dengan menerapkan kembali Islam sebagai sistem kehidupan yang mampu mencetak generasi yang fawih fiddin dan menjadi ilmuan-ilmuan yang berguna untuk kehidupan manusia.

Wallahu a'lam bish shawwab. []

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update