Oleh : Sri Rahmawati
Prank, tindakan lucu-lucuan yang dilakukan pada orang lain dengan tujuan membuat malu, bingung, dan membuat tidak nyaman korbannya. Perbuatan sia-sia, tidak bernilai di mata Alloh, sekedar mengejutkan orang lain agar bisa memuaskan diri sendiri, tetapi merugikan orang lain.
Kisah nyata, disalah satu SMP di Bandung, ada sekelompok pelajar perempuan tengah asyik menukar dan mengikat sepatu para pelajar laki-laki yang tengah melaksanakan sholat Jum'at di masjid sekolah. Seusai itu mereka pelajar perempuan bersembunyi. Selesai sholat, para laki-laki berhamburan keluar masjid sambil kebingungan mencari-cari sepatu dan melepaskan ikatannya. Dibalik persembunyian, para akhwat tertawa terbahak-bahak merayakan kepuasan perbuatan buruk mereka berhasil dengan mulus. Inilah yang mereka anggap prestasi besar, tertawa di atas penderitaan orang lain.
Tidak sadar mereka bahwa malaikat maut menghampirinya setiap saat, sebanyak 70 kali dalam sehari. Tidak sadar juga mereka, bahwa malaikat Isrofil tidak pernah luput pandangannya ke atas, ke arsy Alloh, menunggu kode dari Alloh untuk ditiupkannya sangkakala.
Apabila kita melihat prank di lingkungan sekitar atau di sekolah, yang merugikan orang lain, maka tidak boleh dibiarkan, segera melaporlah kepada orangtua di rumah, atau guru sekolah, atau orang yang dituakan di lingkungan rumah. Apabila kita mengenal dekat pelakunya, maka nasehatilah pada saat kondisinya baik dan tenang, nasehatilah dengan lembut dan sopan (beradab), tidak keras atau sambil.marah-marah. Apabila belum mampu menasehati maka doakanlah agar pelaku bertaubat dan memperbaiki akhlaknya. Kemudian rangkullah, hiburlah korban, besarkan hatinya yang sedang sedih /down. Kasihanilah korban, bisa saja berakibat dia menjadi stres dan depresi, tidak mau sekolah lagi, tidak mau bertemu orang lagi.
Kenapa pelaku melakukan ini? Karena dijangkiti penyakit hati Iri, dengki, tidak mau tersaingi, tidak suka orang lain bahagia, ingin mendapat pengakuan /terkenal/viral namanya (sebagai murid paling cerdas, dll), tidak menerima kekurangan diri, sombong, tempramen / mudah marah, mengharap dunia /ingin pujian, dan sibuk menyalahkan orang lain tanpa introspeksi diri.
Apabila kita menjadi korban, atau bahkan pernah menjadi pelaku, maka solusinya :
- tahan amarah, tidak membalas dendam. Berusaha membalas kejahatan dengan kebaikan, tetap senyum dan menyapa duluan orang yang pernah menjahati kita.
- tenangkan diri setiap saat dengan dzikrulloh /istighfar, berdoa,
- bersyukur atas kekurangan dan kelebihan diri, ikut bahagia saat orang lain senang. Minder dan putus asa tidak ada gunanya, hanya menambah kesedihan.
- introspeksi diri, memperbaiki sikap/ hubungan pertemanan, yang galak dan keras berubahlan lebih lembut, yang cengeng dan sensitif berubahlah lebih tegar dan selalu ceria.
- memperbaiki ibadah kepada Alloh, wudhunya, sholatnya, doanya, dzikirnya, sedeqahnya, yakini Alloh maha mengawasi semua makhluq jadi kita selalu takut dan hati-hati untuk tidak menyakiti orang. Orang yang sudah baik sholatnya akan terhindar dari perbuatan keji.
- memperbanyak minta maaf dan mudah memaafkan orang.
- ingatlah, bahwa menyakiti orang lain akan mendapatkan balasan dari Alloh di dunia dan akhirat.
- Setiap kali kita bersedih bila mengingat perlakuan jahat orang lain, maka bersabarlah dan ingatlah bahwa kesedihan dannrasa sakit itu akan menghapus dosa kita, berpahala beaar, dan momen dikabulkannya doa, jadi perbanyak doa. Ingatlah kisah orang sholeh yang dijanji surga kala diperlakukan dengan buruk oleh orang lain. Sebagaimana Rasulullah saw saat mendapat perlakuan buruk dari masyarakat Thaif kala itu, Rasul berdakwah, malah dilempari batu hingga kepalanya berdarah yang darahnya tercecer di kaki dan tanah, Rasul kemudian ditawari untuk menimpakan gunung di sekitarnya biar kota itu hancur!
Kalau kita, mungkin bakal dengan semangat 45 jawab: Ya! Ya! Hancurkan mereka sekarang juga!!
Tapi jawaban beliau...
“Tidak, namun aku berharap supaya Allah melahirkan dari anak keturunan mereka orang-orang yang beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya.”
Kalaulah balas menyakiti itu baik, mungkin sudah sejak dulu Rasul lakukan.
Tapi, alih-alih membalas dan mendoakan keburukan, padahal udah ditawarin, beliau malah memaafkan seraya berdoa semoga Allah bukakan pintu hidayah bagi mereka.
Jadilah sebaik-baik orang, yang baik juga dalam memperlakukan orang lain.
Tapi kalau, suatu hari, kita bertemu yang semacam penduduk Thaif, bikin kesal luar biasa, rasanya ingin balas kejahatan mereka. Kita punya pilihan, untuk mengingat bagaimana Rasul menyikapinya.
Bertahun setelahnya, doa Rasul dikabulkan. Masyarakat kota itu seluruhnya jadi muslim yang taat.
Sebab tulisan ini hakikatnya tentang keteladanan yang bisa kita ambil. Bahwa "balas dendam" terbaik bukan dengan kembali menyakiti, melainkan membungkam mereka dengan kebaikan, karena kita jaauuuhh lebih baik daripada mereka.
Jangan jadi joker yang berlindung dibalik alasan pernah disakiti saat ia berbuat jahat.
Wallohu A’lam bish Showab.
No comments:
Post a Comment