Foto dok:Fuad Abrar Kasubbag umum dan Kepegawaian Aceh Timur.
Aceh Timur-nusantaranews,Terkait pemberitaan salah satu media baru- baru ini tentang RSUM Mempersulit Pasien,pihak Pengelola Rumah Sakit dalam Hal ini Dr ,Edi Gunawan,Mars selaku Direktur RSUM membantah tudingan yang disampaikan keluarga pasien melalui media tersebut, Rabu 28 Agustus 2019.
Lebih lanjut dr Edi berujar kepada awak sejumlah Awak media ini,pada prinsipnya selama ini kita memang hanya mengeluarkan surat keterangan rawatan atau tindakan yang sudah dilalukan oleh Rumah Sakit terhadap proses persalinan pasien, namun jika ada yang meminta cuti dari tanggal berapa sampai dengan tanggal berapa itu bukan kewenangan Pihak Rumah Sakit,sedangkan terkait berapa lama cuti yang akan diberikan kepada seseorang, itu instansinya yang lebih lanjut diatur oleh PPKnya dimana ASN itu bekerja, yang intinya bukan kewenangan di RSUM dan ini aturan yang selama ini berlaku demikian ujarnya.
saat dikonfirmasi kepada Dinas BKSDM Kabupaten Aceh Timur Drs.Irfan Kamal melalui Kasubbag umum dan Kepegawaian Fuad Abrar saat ditemui oleh media ini diruang kerjanya mengatakan bahwa untuk cuti melahirkan bagi PNS/ASN ini dihitung berdasarkan kelahiran atau persalinan, yaitu kelahiran anak pertama sampai dengan kelahiran anak ketiga diberikan cuti melahirkan selama 3 bulan, sedangkan untuk kelahiran anak seterusnya PNS diberikan cuti besar, yang lamanya cuti besar tersebut sama dengan lamanya cuti melahirkan yaitu 3 (tiga) bulan.
Jika melahirkan anak kembar, maka beda lagi dihitung, satu kali persalinan/kelahiran. Sehingga, pada persalinan pertama melahirkan 3 (tiga) anak kembar, masih berhak cuti melahirkan selama 3 (tiga) bulan pada persalinan kedua. Dalam hal ini, yang dihitung adalah persalinannya/kelahirannya, bukan jumlah anaknya.
Berikut Penjelasan Lengkapnya :
Pegawai Negeri Sipil (“PNS”) berhak memperoleh cuti sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (“UU ASN”)
Lebih lanjut aturan mengenai cuti terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil (“PP 11/2017”).
Jenis Cuti PNS
Cuti PNS terdiri dari:
a. cuti tahunan;
b. cuti besar;
c. cuti sakit;
d. cuti melahirkan;
e. cuti karena alasan penting
f. cuti bersama; dan
g. cuti di luar tanggungan Negara.
Cuti Melahirkan
Aturan lebih rinci mengenai cuti melahirkan diatur dalam Peraturan Badan Kepegawaian Negara Nomor 24 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pemberian Cuti Pegawai Negeri Sipil (“Peraturan BKN 24/2017”).
Untuk kelahiran anak pertama sampai dengan kelahiran anak ketiga pada saat menjadi PNS, PNS berhak atas cuti melahirkan. Untuk kelahiran anak keempat dan seterusnya, kepada PNS diberikan cuti besar. Lamanya cuti melahirkan tersebut adalah 3 (tiga) bulan. Selama menggunakan hak cuti melahirkan, PNS yang bersangkutan menerima penghasilan PNS.
Penghasilan yang diterima PNS yang sedang cuti melahirkan, terdiri atas:
a. gaji pokok;
b. tunjangan keluarga;
c. tunjangan pangan;
d. tunjangan jabatan sampai dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah yang mengatur gaji, tunjangan, dan fasilitas PNS.
Untuk dapat menggunakan hak atas cuti melahirkan, PNS wanita yang bersangkutan mengajukan permintaan secara tertulis kepada Pejabat Pembina Kepegawaian (“PPK”) atau pejabat yang menerima delegasi wewenang untuk memberikan hak atas cuti melahirkan. Hak cuti melahirkan diberikan secara tertulis oleh PPK atau pejabat yang menerima delegasi wewenang untuk memberikan hak atas cuti melahirkan
Cuti Besar
Cuti besar untuk kelahiran anak keempat dan seterusnya berlaku ketentuan sebagai berikut
permintaan cuti tersebut tidak dapat ditangguhkan;
a. mengesampingkan ketentuan telah bekerja paling singkat 5 (lima) tahun secara terus-menerus; dan
b. lamanya cuti besar tersebut sama dengan lamanya cuti melahirkan.
PNS yang telah bekerja paling singkat 5 (lima) tahun secara terus menerus berhak atas cuti besar paling lama 3 (tiga) bulan. Ketentuan paling singkat 5 (lima) tahun secara terus menerus dikecualikan bagi PNS yang masa kerjanya belum 5 (lima) tahun, untuk kepentingan agama Selama menggunakan hak atas cuti besar, PNS yang bersangkutan menerima penghasilan PNS.
PNS yang menggunakan hak atas cuti besar tidak berhak atas cuti tahunan dalam tahun yang bersangkutan. Untuk mendapatkan hak atas cuti besar, PNS yang bersangkutan mengajukan permintaan secara tertulis kepada PPK atau pejabat yang menerima delegasi wewenang untuk memberikan hak atas cuti besar. Hak cuti besar diberikan secara tertulis oleh PPK atau pejabat yang menerima delegasi wewenang untuk memberikan hak atas cuti besar.
Hak cuti besar dapat ditangguhkan penggunaannya oleh PPK atau pejabat yang menerima delegasi wewenang untuk memberikan hak atas cuti besar untuk paling lama 1 (satu) tahun apabila kepentingan dinas mendesak, kecuali untuk kepentingan agama, demikian ungkap Fuad Abrar Kasubbag umum dan Kepegawaian Aceh Timur.(*)


No comments:
Post a Comment