Penulis : Eva Rahmawati
(Komunitas Penulis Bela Islam)
Siapakah Fanhash? Fanhash adalah orang Yahudi di Madinah yang diseru oleh Abu Bakar ra kepada Islam namun dia menolaknya. Bahkan kata-kata yang keluar dari mulutnya sangat buruk, sampai-sampai membuat Abu Bakar ra marah. Padahal kita semua tahu, Abu Bakar ra adalah salah satu sahabat Rasulullah Saw yang terkenal dengan perangainya yang halus, sabar dan lemah lembut.
Berikut perkataan Fanhash yang membuat Abu Bakar ra marah, "Demi Allah, wahai Abu Bakar, kami tidak fakir di sisi Allah, Dialah yang benar-benar fakir di sisi kami. Kami tidak tunduk kepada-Nya sebagaimana Dia tunduk kepada Kami. Sesungguhnya kami benar-benar tidak membutuhkan-Nya, Dialah yang membutuhkan kami. Seandainya Dia tidak membutuhkan kami, tentu Dia tidak akan meminjam harta kami sebagaimana yang diyakini oleh sahabatmu. Dia melarang dari kalian riba dan memberikannya kepada kami. Seandainya Dia tidak butuh kami, tentu Dia tidak memberikan riba kepada kami." Fanhash berkata demikian dengan merujuk firman-Nya:
"Siapa saja yang memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat gandakannya dengan pelipatan yang sangat banyak." (TQS. al-Baqarah : 245)
Mendengar jawaban tersebut Abu Bakar ra marah dan memukul wajah Fanhash dengan keras dan berkata, "Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, seandainya tidak ada perjanjian antara kami dengan kalian, pasti aku akan penggal kepalamu, wahai musuh Allah!" (Lihat kitab terjemah Daulah Islam karya Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, hlm 90-91)
Perdebatan sengit antara Abu Bakar dan Fanhash merupakan salah satu dari sekian banyaknya polemik yang terjadi antara kaum Muslim dan Yahudi. Polemik tersebut terjadi setelah Rasulullah Saw berhasil mendirikan Daulah Islamiyah di Madinah. Yahudi merasa kedudukannya terancam tatkala melihat perkembangan kaum Muslim di Madinah meningkat baik dari segi bangunan maupun kekuatannya. Kedengkian mereka juga semakin bertambah dengan adanya sebagian kaum Yahudi yang menerima Islam.
Sekelumit kisah pada zaman Rasulullah Saw yang menggambarkan perlakuan buruk kaum Yahudi terhadap kaum Muslim. Mereka sengaja memelintir ayat alquran untuk menyerang dakwah Rasulullah Saw dan para sahabat. Apa yang dilakukan oleh Abu Bakar menjadi tauladan, bagaimana semestinya kita bertindak terhadap musuh Allah Swt. Marah bukan karena nafsu, akan tetapi marah karena Allah Swt. Marah lah ketika Allah Swt dan Rasulullah Saw dinista.
Kini kembali kita saksikan Fanhash-Fanhash milenial memelintir ayat-ayat Alquran. Bedanya jika Fanhash dulu adalah seorang kafir yang menyerang dakwah Rasulullah Saw, Fanhash sekarang justru dari kalangan Muslim sendiri. Mereka mengaku Muslim tapi tak segan memelintir ayat demi menyerang dakwah Islam. Maka pantas lah jika mereka disebut dengan gelar munafik. Mereka bukan dari kalangan miskin ilmu, tapi mereka dari kalangan intelektual, cendekiawan Muslim yang mencampuradukkan haq dan bathil, memelintir dalil-dalil dan mengolah kata-kata seolah tampak benar.
Setiap masa, kebenaran akan selalu ada pejuangnya begitupun dengan kebathilan akan selalu ada pembelanya. Di era keterbukaan informasi seperti sekarang mereka terang-terangan melakukannya. Tak usah jauh-jauh, di negeri ini ada beberapa orang yang memelintir ayat-ayat Alquran untuk menyerang dakwah Islam. Apa yang sebenarnya mereka dapatkan? Hingga berani memelintir firman Allah Swt.
Salah satu contoh ayat Alquran yang sering dipelintir adalah QS an Nur ayat 31, terjemahannya yakni "... atau para pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan)...". Ayat tersebut digunakan mereka untuk membela kaum pelangi (LGBT). Dengan membaca ayat tersebut secara teks saja dan menafsirkan sesuai dengan kehendaknya. Mereka menganggap bahwa penyuka sesama jenis juga merupakan fitrah atau gen. Diciptakan oleh Tuhan, jadi bukan penyimpangan. Padahal dalam pandangan Islam, sangat jelas kaum pelangi adalah pelanggar syariat-Nya dengan sanksi yang sangat tegas. Bahkan bagi pelaku liwath (sodomi) dihukumi mati berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka hukum matilah keduanya, baik pelaku maupun objek.” (HR Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah)
Menurut pakar kedokteran jiwa dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) Prof. DR. dr. H. Dadang Hawari, perilaku LGBT bukan fitrah atau gen, melainkan penyakit.
"LGBT itu penyimpangan atau kelainan. Bisa dikoreksi (disembuhkan) karena bukan dari gen, tapi pengaruh lingkungan. Yang penting yang bersangkutan menyadari bahwa apa yang dia lakukan tidak sesuai fitrahnya,” terang Prof Dadang.
Dengan demikian, perlunya kita mewaspadai bahaya pemikiran Fanhash-Fanhash milenial. Jangan sampai kita terpedaya dan membenarkan apa yang mereka ucapkan. Caranya dengan selalu berpegang teguh dengan tali agama Allah Swt. Alquran dan Assunah menjadi pedoman. Langkah berikutnya dengan menjauhkan diri dan tidak menjadi bagian dari mereka. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wata'ala:
“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (QS. Al-An’am : 68)
Menjamurnya pemikiran-pemikiran Fanhash milenial tersebut didukung penuh oleh sistem yang menuhankan kebebasan. Liberalisme yang bercokol di negeri ini membuat kaum kafir dan munafik terus bersuara menyerang ajaran Islam. Hanya dengan penegakkan syariat Islam secara menyeluruh dalam bingkai Khilafah 'ala minhajin nubuwwah yang mampu menjamin terjaganya umat dari pemikiran-pemikiran yang menyesatkan.
Wallahu a'lam bishshowab.

No comments:
Post a Comment