Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ridhomu Adalah Ridho Rabbku

Wednesday, July 24, 2019 | Wednesday, July 24, 2019 WIB Last Updated 2019-07-23T23:07:54Z
Oleh: Sumiati  
(Praktisi Pendidikan dan Member AMK )

Setiap keluarga tentu saja menginginkan bahagia, sakinah mawaddah dan warahmah. Pernikahan hendaknya dibangun berlandaskan syariat Islam. Ketika awal menikah, niatkan bukan karena dunia, namun niatkan karena akhirat. 

Benar, ada hadits Rasulullah saw mengatakan ketika memilih pasangan:
A. Cantik atau tampan 
B. Kaya 
3. Keturunannya 
4. Agamanya.
Namun Rasulullah saw memerintahkan untuk memilih pasangan yang baik agamanya.

Banyak kasus, ketika memilih tampannya, suatu ketika ia berkhianat karena ketampanannya menyebabkan banyak wanita tergoda, begitupun ketika memilih cantiknya, suatu ketika ia berpaling pula karena alasan yang sama.

Ketika memilih kayanya, suatu waktu pasangannya akan dihinakan karena kemiskinannya, terkadang kasta masih di nomor satukan. 

Begitupun ketika memilih dari keturunan ningrat, jika kita orang biasa, suatu saat pun, kasta akan berbicara, mencerca, mencela hingga tidak ada sakinah di dalamnya.

Pantas, baginda Rasulullah saw memerintahkan mencari pasangan yang baik agamanya, karena dengan agama sebuah rumah tangga akan bahagia, dalam bimbingan Allaah ta'ala.

Sebuah rumah tangga yang berlandaskan aqidah Islam, akan selalu ada solusi ketika badai ujian menghampiri, karena setiap permasalahan didalamnya akan diselesaikan dengan syariatNya.

Banyak rumah tangga yang kacau, suami tidak faham kewajibannya, begitupun istri, maka yang menjadi korban utama adalah anak-anak mereka. 

Banyak Ayah yang hanya menjadi mesin uang, pergi pagi pulang petang, sibuk dengan urusannya sendiri, tak pernah menyapa istrinya, istriku cukupkah uang belanja yang kuberikan? Terkadang fikiran sang istri ruwet, karena sulitnya mengatur keuangan dalam sistem kapitalis ini. 

Bahkan sang Ayah tidak pernah menyapa anak-anaknya, apakah mereka sudah bisa shalat, apakah mereka memanfaatkan waktunya hanya untuk main. Namun tak jarang sang Ayah marah semarah-marahnya kepada anak, ketika anaknya salah, padahal mendidiknya pun tidak pernah. Sang Ayah lupa, dipundaknya ada tanggung jawab yang berat kelak di hadapan Allaah ta'ala. 

Sering sang Ayah memaki anak mereka, Ayah itu dulu tidak seperti kamu, mengapa kamu begini? Akhirnya ujung-ujungnya sang Ibu menjadi tertuduh utama atas kesalahan anak-anaknya. Tanpa introspeksi diri, yang selama ini tak pernah peduli dengan perkembangan putra-putrinya. 

Ada juga sang Ayah memperlakukan istri seperti pembantu, sampai berazam, kalau sudah menikah tidak akan membantu pekerjaan istri di rumah, dengan alasan untuk apa menikah kalau masih mengerjakan pekerjaan rumah.
Subhanallaah..
Rumah tangga yang diawali dengan keegoisan, tidak akan ada sakinah di dalamnya. 

Ada juga rumah tangga, ketika istri memiliki kelebihan dalam hal kemampuan, maka sang suami sering mengekangnya karena sesungguhnya iri melihat istri berprestasi. Seringkali sang suami dzalim kepada istrinya. 

Di satu sisi sang suami menuntut istri membantu ekonomi suami, namun di sisi lain sang suami takut kalau sang istri lebih di kenal orang, lebih berpengaruh ketimbang dirinya. Dipastikan rumah tangga yang demikian tidak akan sakinah. Na'udzubillaahi min dzaalik. 

Ada kalanya disaat sang istri naik prestasi, muncul bahkan terucap dilisan suami ancaman, "kalau kamu begitu, kamu harus mencari mesin cuci yang bisa masak juga, bisa menemani tidur juga", SubhanaLlaah, haruskah Islam begitu memperlakukan istri?

Sungguh, surga bagi istri dalam sistem kapitalis amat sulit. Dalam kondisi ini semestinya memperbaiki komunikasi, bukan terus menghakimi, wahai para suami, tidakkah engkau tahu penghisaban kelak di yaumul akhir? Istri shalihah, sehebat apapun diluar sana, surganya ada di ridhomu wahai para suami, keegoisanmu hanya menambah luka dalam hatinya, sementara bibirnya dipaksa untuk tersenyum. Subhanallaah...

Ada juga sebuah keluarga yang istrinya tidak faham dengan syariat Islam, hingga sering berbuat nusyuz, memilih berkarir ketimbang belajar masak, padahal dengan berkarir sekalipun masih tetap bisa menjadi ummu warabatul bait, jika al Quran yang menjadi sandaran.

Sang suami yang sudah lelah bekerja untuk keluarga, tentu ingin melihat istrinya di rumah menunaikan kewajibannya sebagai istri dan Ibu. Tidak sampai ada tidaknya istri di rumah tidak di rasakan oleh suami karena abai terhadap syariat Allaah ta'ala. 

Suami adalah pemimpin bagi istri dan anak-anaknya, wajib dihormati, ditaati, dan diutamakan dari hal yang lainnya. Karena ridha suami adalah ridha Allaah ta'ala.

Ketika pun istri harus bekerja, tetap saja, berangkatnya istri dari rumah ke tempat kerja, harus atas ridha suami. Bekerja pun bukan untuk menghindari syariatNya, tetapi murni untuk membantu ekonomi keluarga dengan berbagai konsekuensinya.

Ketika suami belum mampu memenuhi kebutuhan keluarganya, dan istri akhirnya bekerja, tentu harus saling memahami, suami faham dengan keluarnya istri sepanjang hari, pasti akan ada pekerjaan tertunda, namun selama tetap dilakukan oleh istri, semestinya suami memaklumi, apalagi jika memasak, mencuci dan lain-lain masih dikerjakan istri, tak pantas rasanya terus menekan dengan alasan ada beberapa pekerjaan rumah tertunda. Sangat tidak bijak jika mencari nafkah dibantu, namun ada sedikit istri kurang dalam mengurus rumah, akhirnya memarahi istri dan mencelanya. Wahai para suami, tidakkah engkau lihat, geraknya tak lagi cepat, menandakan lelah dan usia bertambah. Sementara bibirnya tak pernah berkeluh kesah atas materi yang anda berikan.

Seorang suami memiliki peran dan tanggung jawab yang lebih besar. Di antaranya adalah peranan dan tanggung jawabnya kepada istrinya. Karena seorang istri sepenuhnya menjadi hak dan tanggung jawab suami.

Namun demikian, seorang suami juga tetap berkewajiban untuk menafkahi orangtuanya. Karena orangtua adalah tanggung jawab anak laki-laki (suami).

Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah Saw., “Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita? Rasulullah menjawab: “Suaminya” (apabila sudah menikah). Kemudian Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya lagi: “Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki? Rasulullah menjawab: “Ibunya,” (HR. Muslim).

Dari hadis tersebut jelas bahwa ibu adalah tanggung jawab anak laki-laki (suami). Namun yang terjadi sekarang umumnya berbeda. Seorang suami sepenuhnya dimiliki oleh istri. Padahal masih ada orangtuanya yang wajib ia nafkahi.

Nah, yang menjadi pertanyaan, siapa yang lebih didahulukan suami: ibu ataukah istri?

Siapakah yang lebih diprioritaskan oleh seorang suami, apakah bakti suami sebagai anak terhadap ibunya ataukah kewajiban suami terhadap istrinya? Ibu ataukah istri yang harus didahulukan suami? Ini merupakan persoalan yang sangat sulit bagi laki-laki.

Untuk menjawab pertanyaan diatas maka mari kita lihat penjelasan berikut ini:

Dari hadis di atas telah disebutkan bahwa yang berhak terhadap seorang laki-laki adalah ibunya. Namun bukan berarti seorang suami bebas menelantarkan istri demi seorang ibu. Itu salah, karena Ibu dan istri memiliki kedudukan yang sama pentingnya dalam islam, kedua-duanya harus diutamakan dan dimuliakan.

Tapi yang harus diingat bahwa seorang ibu yang shaleh akan melahirkan anak yang shalih hingga tumbuh jadi suami yang shalih pula. Sedangkan istri yang shalih akan menjadikan rumah tangga suaminya penuh dengan cinta dan kasih sayang, membantu suami dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan memenuhi kewajiban suaminya karena seorang wanita adalah milik suaminya dan seorang laki-laki adalah milik ibunya.

Seorang istri tidak perlu cemburu kepada mertuanya, karena dia yang telah melahirkan suaminya. Sebaliknya, yang layak untuk cemburu adalah mertua si istri. Seyogianya seorang istri membayangkan, jika mempunyai seorang anak laki-laki, ia bersusah payah melahirkannya sampai besar dengan keringatnya. Hingga suatu saat anak laki-lakinya itu menikah, kemudian ia melupakannya demi istri anak lelakinya itu. Bagaimanakah perasaan si istri jika dilupakan oleh anaknya sendiri? Sungguh menyedihkan, bukan? Begitu pula sebaliknya.

Seorang Istri yang shalihah tidak akan menghalangi bakti suami kepada orangtuanya. Karena berbakti kepada orangtua adalah kewajiban besar yang diperintahkan Allah Swt. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Quran surah Al-Isra’ ayat 23:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkanmu supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan “ah” kepada keduanya. dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka dengan perkataan yang mulia,” (QS. Al-Isra’: 23).

Dari ayat tersebut jelas perintah Allah untuk berbakti kepada orangtua. Jadi seorang istri harusnya menyadari akan kewajiban suaminya untuk berbuat baik dan berterima kasih kepada kedua orangtuanya.

Dengan menolong suami berbuat kebaikan maka Allah akan menolong seorang istri dengan menumbuhkan cinta kasih yang mendalam di hati suaminya. Dan suami pun akan bangga mempunyai istri yang selalu mendorongnya untuk berbuat kebaikan dan menyayanginya dengan penuh kasih sayang, serta menyayangi dan menghormati kedua orangtuanya.

Sejatinya, jika seorang istri berbuat baik kepada mertua, menganggap mereka sebagai orangtuanya sendiri, maka mertua pun akan baik dengannya.

Maka dari itu, seorang istri haruslah patuh dan taat kepada suaminya, karena mereka adalah imam baginya. Demikian pula dengan seorang suami, sudah semestinya menyayangi dan memuliakan istrinya.

Seorang suami harus ingat bahwa istri dan orangtuanya memiliki kedudukan yang mulia. Dengan istrinya pulalah seorang suami nantinya akan melahirkan anak-anaknya. 

Begitu peliknya kehidupan rumah tangga, begitu mahalnya surga bagi para wanita, bersikap bijak dalam berbagai kondisi adalah pilihan utama, abaikan ego, meluruskan semua permasalahan, bersandar kepada Islam kafah, insya Allaah rumah tangga berkah. Baik suami atau istri, fokus pada kewajiban, dan menunaikan hak pasangan, dipastikan tidak akan ada yang didzalimi.

Wallaahu a'lam bishawab.
×
Berita Terbaru Update