Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sambut Ramadhan, Raih Ketakwaan

Wednesday, April 24, 2019 | Wednesday, April 24, 2019 WIB Last Updated 2019-04-24T08:21:49Z
Penulis : Yuliyati Sambas, S.Pt
(Member Akademi Menulis Kreatif Regional Bandung)


Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin kita ucapkan kepada Allah Swt yang telah memberi nikmat dan karunia berupa disampaikannya usia kita hingga bulan Sya’ban tahun ini. Satu bulan dimana di dalamnya terkandung demikian banyak kebaikan. Karena itu bahkan Nabi Saw mengkhususkannya untuk beribadah melebihi pada bulan-bulan lain.

Namun demikian, kaum muslimin saat ini justru banyak yang terlenakan dalam memuliakan bulan Sya’ban. Alih-alih mengikuti apa yang Rasulullah contohkan justru mereka terjebak pada beragam aktivitas mubah yang cenderung mendekati kesia-siaan. Acara-acara seperti tumpengan, botram menjelang munggahan, mengejar produk-produk diskon di area perbelanjaan adalah sederet kebiasaan umat yang jauh dari aktivitas yang semestinya mereka kejar.


 *Kemuliaan di Bulan Sya’ban* 

Kaum muslimin sangat merindukan akan perjumpaan dengan bulan ini. Ada beberapa kemuliaan khusus yang Allah limpahkan di bulan ini, mulai dari adanya riwayat bahwa di bulan Sya’ban diberlakukan penggantian catatan amalan seorang hamba sebagaimana hadits Nabi Saw:
”Bulan Sya'ban adalah bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dengan bulan Ramadan. Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal. Karenanya, aku menginginkan pada saat diangkatnya amalku, aku dalam keadaan sedang shaum.” (HR Abu Dawud dan Nasa'i) 

Rasulullah saja yang telah Allah Swt pastikan menjadi penghuni surga masih begitu bersungguh-sungguh dan mengkhawatirkan jika amalnya tidak layak ketika terjadi penggantian buku catatan perbuatan, apatah lagi kita selaku manusia biasa tentu wajib untuk lebih mengeratkan ikat pinggang kita dalam rangka memperbagus amal kebaikan di hadapan Allah Swt.

Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Anas bin Malik Ra, beliau berkata,
"Rasulullah Saw pernah shaum dan tidak berbuka, hingga kami berkata, ‘Tak ada pada diri Rasulullah Saw berbuka setahun.’ Kemudian Baginda Saw pun berbuka (tidak shaum), hingga kami pun berkata, ‘Tak ada pada diri Baginda Saw shaum setahun.’ Shaum (sunah) yang paling Baginda Saw sukai adalah di bulan Sya’ban.”

Pertanyaannya, apakah kita telah menyandarkan rasa suka kita sesuai dengan apa yang dibawa oleh Baginda kita yang mulia? Padahal dalam sebuah riwayat telah dipermaklumkan bahwa keimanan seseorang berbanding lurus dengan ketundukkannya pada setiap yang Rasulullah contohkan.
“Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (HR Ibnu Rajab Al-Hambali)


 *Aktivitas Rasulullah Saw dan Shahabat Memasuki Bulan Ramadhan* 

Kebiasaan Rasul Saw dan para shahabat Radhiallahu Anhuma ketika memasuki bulan Ramadhan berdasarkan kajian shirah adalah banyak menggencarkan dakwah dan jihad, selain tentunya terus menjalankan aktivitas yang diwajibkan agama dan meningkatkan intensitas ibadah nawafil. Berdakwah untuk menyebarkan risalah Islam di tengah masyarakat Madinah bahkan hingga ke manca negara, juga melakukan berbagai ekspedisi jihad dalam rangka menghilangkan penghalang fisik dakwah yang ada. Terbukti gemilang kemenangan telah berhasil dicapai pada sejumlah peperangan seperti perang Badar Qubra, menyiapkan squat militer untuk memerangi kaum musyrik Quraisy, perang Khandaq dan lain sebagainya semuanya terjadi di bulan Ramadhan. Melalui kemenangan yang diraih dari peperangan tersebut Islam berhasil menundukkan kepongahan kaum musyrik dan kafirun yang senantiasa tak pernah ridha Islam dianut dan diberlakukan secara kaffah di tengah masyarakat.

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan, kedatangannya tinggal menghitung hari, setiap muslim tentu wajib mempersiapkan diri dalam upaya meraih sukses di bulan ini. Jika Rasulullah Saw dan para Shahabat dahulu mencontohkan menghidupkan hari-hari di bulan Ramadhan itu dengan melakukan berbagai ekspedisi jihad dan berdakwah, disamping memperbanyak mengerjakan ibadah-ibadah nawafil seperti tilawah Alquran, shalat tarawih, qiyamullail, tak ketinggalan meningkatkan intensitas infak shadaqah dan lain sebagainya.

Saat ini tentu kita pun wajib meneladaninya dengan mengikuti apa yang beliau kerjakan. Untuk perkara ibadah nawafil, infak shadaqah lakukanlah dengan senantiasa meniatkannya dalam rangka kecintaan kita akan setiap apa yang Rasulullah contohkan. Berdakwah pun wajib kita kerjakan sebagai upaya untuk menyebarkan risalah Islam agar sampai meluas di tengah masyarakat. 

Apalagi di era sekarang kita hidup dalam naungan sistem kapitalis demokrasi yang menjunjung prinsip sekulerisme dimana aturan agama dikerdilkan hanya untuk mengurus permasalahan mahdhah dan ibadah ritual, sementara aturan dan hukum Allah yang berkaitan dengan urusan ghayr mahdhah justru dijauhkan dari kehidupan umat. Sehingga yang terjadi adalah pemilahan aturan syara’ dimana urusan kehidupan mereka gantungkan pada prinsip demokrasi yang bathil dan bukan berasal dari Islam.   

Allah Swt berfirman:
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An-Nisa’: 65)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS Al-Ahzab: 36)

Maka yang wajib kita kerjakan saat ini adalah terus menerus mengerjakan upaya dakwah secara bersama-sama untuk mengajak seluruh komponen umat dalam mengembalikan tegaknya seluruh hukum Allah di muka bumi, tentu dalam naungan yang diwariskan oleh Baginda Rasulullah Saw yakni Daulah Khilafah Islamiyah.

Melalui momentum kemuliaan bulan Sya’ban yang kita tengah berada di dalamnya ini, marilah kita persiapkan bekal fisik, ilmu, amalan, dan ruhiyah untuk menuju bulan suci Ramadhan dengan menjalani setiap aktivitas wajib, dan juga ditambah dengan ibadah sunnah, serta berdakwah, sehingga ketakwaan hakiki bisa diraih.
Allahu Akbar

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update