![]() |
| dr.Okty Lisnawati Narasumber PPI (Photo/nal) |
N3, Sarolangun, Program Kerja
(Pokja) Kegiatan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi PPI menjangkau kedalam
setiap unit di rumah sakit dan melibatkan staf klinis dan nonklinis di berbagai
unit kerja, antara lain departemen klinik, fasilitas pemeliharaan, dapur,
kerumahtanggaan, laboratorium, farmasi, dan unit sterilisasi. Kegiatan
sosilisasi dan simuloasi PPI diikuti oleh peserta Cleaning Service (CS) yang
digelar di aula RSUD Sarolangun.
Saat
sosilisasi dan simulasi dengan Narasumber dr.Okty Lisnawati terkait kebersihan
dan akibat terjadinya infeksi,
“ Untuk
pertemuan kita kali ini kita membahas tentang tata cara menjaga kebersihan
dirumah sakit. Seperti cara mengepel lantai, cara menyapu, mengumpulkan sampah
dan mandi sesuai aturan yang telah kita pelajari sebelumnya. Jadi saya ingin
itu diterapkan dan implementasinya kinerjanya harus meningkat tidak seperti yan
sudah sudah. Apabila kedapatan tentu ada sangsi dari saya dan pihak manajemen.
Karena kebersihan itu adalah hak pasien dan keluarga dan juga kita semua “.
Kata dr.Okty Lisnawati PJ PPI.
Rumah sakit menetapkan mekanisme untuk mengatur koordinasi kegiatan PPI.
Sesuai dengan peraturan perundang-undangan, pimpinan rumah sakit membentuk
organisasi pengelola kegiatan PPI di rumah sakit dan menetapkan tanggung jawab
dan tugas meliputi definisi infeksi terkait layanan kesehatan, metode
pengumpulan data (surveilans); membuat strategi atau program menangani risiko
PPI; proses pelaporan.
Lebih lanjut, dr.Okty Lisnawati menjelaskan bahwa PPI akan lumpuh jika
tidak ada petugas khusus dalam menangani kebersihan,
“ Kebersihan itu membebaskan kita dari resiko infeksi. Jadi, anda semua
pegawai Cleaning service (CS) RSUD Sarolangun adalah pahlawan pencegah infeksi,
tanpa anda rumah sakit tidak berarti apa apa tidak akan bersih dan tidak sehat “.
Tandasnya.
Tujuan pengorganisasian program PPI adalah
mengidentifikasi dan menurunkan risiko infeksi yang didapat serta ditularkan di
antara pasien, staf, tenaga profesional kesehatan, tenaga kontrak, tenaga
sukarela, mahasiswa, dan pengunjung.
Risiko infeksi dan kegiatan program dapat
berbeda dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya bergantung pada kegiatan
klinis dan pelayanan rumah sakit, populasi pasien yang dilayani, lokasi
geografi, jumlah pasien, serta jumlah pegawai. Program PPI akan efektif apabila
mempunyai pimpinan yang ditetapkan, pelatihan dan pendidikan staf yang baik,
metode untuk mengidentifikasi serta proaktif pada tempat berisiko infeksi,
kebijakan dan prosedur yang memadai, juga melakukan koordinasi ke seluruh rumah
sakit.(KARS/dok). (nal)

No comments:
Post a Comment