Pemerhati masalah anak, remaja dan keluarga
Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel
Milan kunder “Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya, maka pastilah bangsa itu akan musnah. Benar sekali perkataan tersebut, buku amatlah penting keberadaannya demi keberlangsungan sebuah peradaban, manusia serta ilmu itu sendiri. Betapa tidak, jika buku sudah lenyap maka sejatinya ilmu-ilmu serta informasi-pun akan ikut raib bersamanya.
Buku adalah gerbang dunia dan membaca adalah kuncinya. Begitu pentingnya buku ini, sehingga diibaratkan dengan gerbang dunia. Dengan membacanya adalah salah satu cara untuk mendapatkan kunci agar gerbang tersebut bisa terbuka. Di bulan April ini, tepat pada tanggal 23 April diperingati sebagai hari buku internasional. Terlepas dari itu, muncul pertanyaan dibenak kita bahwa kapan sebenarnya buku mulai ada di dunia? Berikut ini adalah sejarah singkat terkait dengan buku dan kertas.
Fakta Sejarah
Dunia Islam telah berhasil mengembangkan kertas sebagai bahan dasar pembuatan buku. Hal itu terjadi pada tahun 793 Masehi, sekaligus berdirinya percetakan kertas yang pertama di wilayah Bagdad. Pendirian pabrik tersebut pada masa kepemimpinan Khalifah Harun al-Rasyid dari Daulah Abbasiyah. Setelah itu barulah pabrik-pabrik kertas bermunculan di wilayah Kairo, Damaskus, Tripoli, Tiberia, Sicilia Islam, Fez, Valensia, Jativa dan berbagai wilayah Islam yang lainnya. Sedangan dunia Barat baru mengenal kertas dan mendirikan pabriknya pada tahun 1276 masehi, jauh setelah Islam berhasil mendirikan pabrik kertas.
Pada masa itu buku terdapat dimana-mana, profesi menjadi penjual buku pun menjamur pula. Produksi kertas membuat rangsangan yang luar biasa untuk menuntut ilmu, sehingga ber-efek positif pada harga dan akses buku. Harganya lebih murah dan mudah ditemukan dimana-mana. Efek yang sangat besarnya adalah beberapa kota di wilayah kaum Muslim menjadi pusat peradaban. Orang-orang akhirnya berbondong-bondong kesana guna membaca buku. Aktivitas membaca akhirnya menjadi kegiatan rutin dan sangat digemari oleh kaum muslim. Hal itu membuat permintaan buku semakin tinggi, mereka berlomba-lomba untuk membeli dan mengoleksi berbagai macam buku. Bahkan buku menjadi komuditas nomor tiga paling dicari setelah garam dan emas.
Kala itu penulisan dan pembuatan buku sangat unik. Penulisan buku dilakukan di masjid-masjid sehingga Sarjana dan ulama yang hendak menerbitkan buku diwajibkan untuk mempresentasikannya kepada publik masjid.
Pandanagn Islam
Begitu luar biasanya Islam memandang terkait dengan buku dan aktivitas membaca. Bahkan dalam Al Qur’an tergambar secara jelas bagaimana perintah Allah kepada hambanya untuk melakukannya. Hal tersebut tertuang dalam wahyu pertama Rasulullah SAW.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, Yang Mengajarkan (manusia) dengan perantara kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (TQS Al-Alaq: 1-5)
Al Quran adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW lewat perantaraan malaikat Jibril. Di dalamnya terdapat berbagai ilmu dan pengetahuan. Hal tersebut akan mudah kita pelajari jika kita membacanya. Disamping itu juga didalam Al Qur’an terdapat perintah dan larangan Allah. Kemudian setelah tahu maka akan segera diaplikasikan dalam kehidupan kita sebagai konsekuensi dari keimanan.
Dari terjemahan ayat diatas menunjukkan bagaimana Allah SWT telah mengutamakan kewajiban membaca bagi setiap hamba-Nya tanpa pengecualian. Bahkan Allah menurunkan Surat Al-‘Alaq sebelum surar-surat yang lain. Hal ini tentu mengingat betapa pentingnya aktivitas membaca. Menurut para ahli tafsir, iqra mempunyai pengertian membaca dalam arti yang luas dan mendalam. Seperti menganalisis, menelaah, mengkaji serta meneliti. Sehingga makna kata iqra tidak sekedar bacalah tetapi mengandung arti itu. Dengan aktivitas membaca, maka manusia dapat memahami dan mempelajari berbagai hal yang belum diketahuinya. Ditambah lagi ketika seseorang membaca maka akan mendapatan informasi. Tingkat ketajaman daya berpikir seseorang akan tergantung pada seberapa banyak dan sejauhmana dia membaca.
Amat berbeda dengan kondisi kaum muslim zaman now, budaya membaca menjadi kurang diminati. Khususnya anak-anak dan remaja, mereka lebih senang bermain game online daripada membaca buku. Lebih senang jalan ke pusat-pusat perbelanjaan, nonton bioskop atau nongkrong bersama genk mereka. Itulah realita yang terjadi pada anak-anak serta remaja negeri ini. Padahal dari aktivitas membaca itu banyak sekali ilmu serta informasi yang kita dapatkan. Sangat miris melihat kondisi remaja yang jauh dari buku dan aktivitas membaca.
Remaja, di pundak-mu beban negeri ini akan kau pikul. Maju mundurnya bangsa ini berada di tanganmu. Jika kau mau bekerja keras dan sungguh-sungguh maka dunia ada digenggamanmu. Baca, pahami dan laksanakan setiap perintah Allah SWT dan jauhi laranganNya, niscaya kau akan selamat dunia dan akhirat.
Jika kita ingin maju, berkembang, menjadi teladan yang baik dan pencetus peradaban, maka tidak lain adalah dengan cara membaca. Dengan begitu kita akan mendapatkan ilmu sebagai bekal dalam kehidupan ini. Disamping itu, dengan adanya ilmu tersebut Allah SWT akan menaikkan derajat kita lebih tinggi daripada manusia yang lain. Sudah saatnya kita bangkit dan sama-sama berjuang demi kehidupan yang lebih baik. Menjadi pejuang adalah pilihan yang harus kita pilih, agar Islam kembali berjaya dan menorehkan tinta-tinta emas peradaban. Sebagaimana yang pernah terjadi di masa kejayaan Islam dahulu. Mulai saat ini, membaca adalah aktivitas pokok yang wajib kita lakukan setiap saat tanpa memandang situasi dan kondisi. Be the Best, Not Be Asa. Lakukan yang terbaik agar Ridho Allah bisa kau raih. Wallahu a’lam.

No comments:
Post a Comment