Penulis ; Yuliyati Sambas
Member Akademi Menulis Kreatif

Hari ini 95 tahun yang lalu, institusi tertinggi umat Islam yakni Daulah Khilafah Utsmaniyah dihancur leburkan tanpa ampun. Diberangus oleh tangan durjana yang tak menghendaki Islam mengatur semua sendi kehidupan masyarakat dunia.

Institusi negara dengan legalitas sah yang berdiri sejak masa Khulafaur Rasyidin. Ia meneruskan tampuk pemerintahan yang dijalankan Rasulullah Saw dalam mengurus dan memimpin umat juga masyarakat secara umum yang ada dalam wilayah Daulah Islam Madinah dengan Al-Quran dan as-sunah semata.

Kini 95 tahun waktu berlalu, goresan luka pada diri umat telah demikian menganga, menorehkan segala keburukan karena ketiadaannya.

Negeri-negeri kaum muslimin yang dulu bersatu dalam lingkup negara nan kuat perkasa kini lemah karena telah disusupkan beragam virus kufur ke dalam benak umat dan tubuh Daulah.

Pemikiran sesat nasionalisme telah sukses mengerat kesatuan kaum muslimin yang sebelumnya bersatu di bawah Panji Liwa dan Rayahnya Rasulullah Saw. Terpecah menjadi negeri-negeri kecil yang diberi kedaulatan semu sebagai hadiah dari tuan penjajah Barat untuk ketundukkannya menerima konsep institusi negara bangsa. 

Umat menjadi lemah, karena tak lagi berada pada satu kepemimpinan, yang dahulu telah menjadikan negeri mereka demikian disegani kawan dan ditakuti lawan.

Ketika negeri-negeri muslim lemah tak berdaya, sang tuan penjajah dengan leluasa masuk mengintervensi setiap kebijakan dan produk hukum yang akan dijalankan, sehingga kedaulatan bangsa tinggal angan berbalut mimpi yang tak berkesudahan.

Kaum muslimin yang terpecah dalam sekat kebangsaan terus dicekoki dengan berbagai produk pemikiran kufur yang jauh dari nilai Islam. Demokrasi, liberalisme, selulersme telah sukses merasuk dalam benak umat sehingga mereka tak mampu merasakan betapa hal itu adalah racun yang akan menjatuhkan mereka pada jurang kenistaan hidup dan menjauhkan diri mereka dari ridha-Nya.

Dampak dari direngkuhnya sistem demokrasi kufur telah mengakibatkan umat sakit parah dan memunculkan berbagai penyakit di tengah masyarakat yang semakin massif dan seolah sulit dicari ramuan obat untuk menyembuhkannya. Fenomena busuk LGBT, incess, kriminalitas, kesetaraan gender, HAM, terkeruknya kekayaan alam milik umat, jurang kemiskinan yang demikian menganga, kedaulatan yang terkangkangi, dan seterusnya adalah contoh dari sederetan problematika umat yang tak berkesudahan.

Jikalah umat paham betapa sakit yang diderita adalah disebabkan ketiadaan institusi pelindung yang dinamakan Daulah Khilafah maka tentu upaya untuk meraih kembali kegemilangan Islam akan diperjuangkan dengan menggunakan segenap potensi yang dimiliki.

Umat akan bersatu padu mendakwahkan kepada sesama kaum muslimin dan kepada masyarakat dunia secara keseluruhan, betapa syariat dan khilafah adalah dua hal yang akan mengembalikan kejayaan Islam yang dahulu telah sukses dirasakan berabad lamanya. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw ketika mendapati fakta-fakta buruk di tengah masyarakat yang tak diterapkan hukum Islam kaffah di dalamnya. Hingga beliau mampu membawa umat pada masa kegemilangan dengan diterapkannya aturan Islam yang menyeluruh di masyarakat Madinah.

Namun ada bisyarah nabi yang menjanjikan bahwa cahaya Islam akan bersinar kembali menyudahi gulita peradaban kufur demokrasi kapitalis sebagaimana sabda beliau Saw,

تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ ا للهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ اَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًا ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَّرِيًّا ، فَتَكُوْنَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، ثُمَّ سَكَتَ

Artinya:
“Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih).

Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala aali sayyidina Muhammad.

Sungguh kami merindukan masa khilafah yang mengikuti risalahmu duhai Rasulullah junjungan kami.
 
Top