Penulis : Safiatuz Zuhriyah, S.Kom
Aktivis Pergerakan Muslimah

Ing ngarso sung tulodho. Slogan Ki Hajar Dewantara ini sangat terkenal di dunia pendidikan. Artinya ketika di depan harus bisa memberi contoh baik. Seorang pemimpin, ia harus memberi contoh baik untuk orang-orang yang dipimpinnya. Namun, apa jadinya negeri ini bila pemimpinnya sering berbohong?

Capres petahana tampil memukau pada acara debat putaran kedua Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019) malam. Ia menyajikan data-data yang diklaim sebagai keberhasilan selama 5 tahun masa pemerintahannya. Namun sayang, dari sekian banyak data yang disajikan, sebagian besar tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Pada kesempatan tersebut, capres petahana mengklaim bahwa tidak ada konflik dengan masyarakat saat pembebasan lahan untuk proyek pembangunan infrastruktur. Namun, klaim tersebut bertolak belakang dengan fakta di lapangan. Dimana, sejumlah pengerjaan proyek infrastruktur ditemukan kerap kali berujung konflik dengan masyarakat pemilik lahan. 

Berdasarkan catatan tahunan Konsorsium Pembaruan Agraria tahun 2017 maupun 2018, konflik akibat infrastruktur justru menempati posisi ketiga ketimbang pembangunan dalam bidang sumber daya alam (SDA) lain. Berikut datanya: Sebanyak 208 konflik agraria telah terjadi di sektor ini sepanjang 2017, atau 32 persen dari seluruh jumlah kejadian konflik. Sektor properti menempati posisi kedua dengan 199 (30 persen) jumlah kejadian konflik. Posisi ketiga ditempati sektor infrastruktur dengan 94 konflik (14 persen), disusul sektor pertanian dengan 78 (12 persen) kejadian konflik. Selanjutnya sektor kehutanan dengan jumlah 30 (lima persen) konflik, sektor pesisir dan kelautan sebanyak 28 (empat persen) konflik, dan terakhir sektor pertambangan dengan jumlah 22 (tiga persen) kejadian konflik.

Dengan begitu, selama tiga tahun pemerintahan petahana, telah terjadi sebanyak 1.361 letusan konflik agraria. Sementara itu, 2018, konflik lahan terkait infrastrukur dicatat sejumlah 16 kasus. Proyek-proyek tersebut semuanya berujung pada sengketa lahan. (Teropongsenayan.com)

Memang, bisa jadi ada kesalahan dalam mengutip data, dan itu bisa diralat. Namun, melihat begitu masifnya kesalahan data yang disuguhkan, menimbulkan kesan bahwa ada kesengajaan 'berbohong' demi pencitraan sebagai petahana. 

Sistem demokrasi-sekuler, yang memisahkan agama dari kehidupan, meniscayakan munculnya pemimpin pembohong demi meraih simpati. Yang ada di benaknya hanyalah cara cepat untuk meraup suara terbanyak. Karena tidak ada landasan agama, maka segala cara dihalalkan. Hatta harus berbohong dan mengingkari hati nurani. Sudah menjadi rahasia umum bahwa data bisa dipelintir sesuka hati.

Pemimpin seperti ini, yang dipikirkan hanya kekuasaan semata. Bukan kesejahteraan rakyat. Setelah pemilihan usai, maka ia akan segera melupakan janji-janji kampanyenya. Melupakan target-target kemakmuran yang telah dijualnya. Tidak ada keberkahan dalam pemerintahannya. Bila kita berharap kemakmuran untuk seluruh lapisan masyarakat, jauh panggang dari api. Mustahil.

Pemimpin dalam Islam, menjadikan taqwa sebagai pilar utama perilakunya. Ia tidak akan berani berbohong karena Rasulullah telah dengan tegas menyebut bohong sebagai salah satu sifat munafik. Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda: Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika diberi amanah dia berkhianat (HR. Al- Bukhari).

Secara spesifik, Rasulullah juga mengecam pemimpin yang membohongi rakyatnya. "Siapapun pemimpin yang menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka." (HR. Ahmad). Karenanya, seorang pemimpin akan selalu berusaha menyesuaikan antara ucapan dan perbuatannya. Sebagai teladan tertinggi dalam masyarakat, ia akan selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan. Tidak asal menerima laporan ABS (Asal Bapak Senang). Sang pemimpin bahkan rela melakukan sidak tengah malam, demi mendapatkan data riil kondisi masyarakat.

Itulah yang dilakukan Umar bin Khattab ketika menjadi khalifah. Di masa pemerintahannya, wilayah Islam telah sedemikian luas dan taraf perekonomian warganya meningkat. Namun, Sang Khalifah tetap melakukan sidak untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun warga negaranya yang kekurangan. Yaitu tidak bisa memenuhi kebutuhan dasarnya. 

Pada suatu malam  Khalifah Umar Ibnu Khattab mengunjungi sebuah desa. Ia memakai pakaian layaknya rakyat biasa hingga tidak dikenali. Dari jauh ia melihat api yang menarik perhatian. Di situ ada seorang wanita sedang memasak sesuatu untuk anaknya. Namun anehnya, masakan tersebut tidak pernah matang. Ternyata, sang ibu memasak batu hanya demi menenangkan anak-anaknya hingga tertidur. Mereka sudah tidak punya apa-apa untuk dimakan. Melihat hal ini, Umar bergegas ke Baitul Mal dan memanggul sendiri sekarung gandum untuk keluarga tersebut.

Seorang pemimpin, harus memastikan kesejahteraan warganya. Bukan menutupi data mereka yang kekurangan supaya dianggap berhasil memimpin. Dan mengemasnya sebagai kebohongan yang memukau. Pemimpin seperti ini, hanya dapat kita temukan dalam sistem Islam.
 
Top