Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pendidikan dan Industri: Menimbang Arah dalam Nilai Islam

Wednesday, June 03, 2026 | Wednesday, June 03, 2026 WIB




Oleh Iit Supriatin, S.Pd., S.Ag., M.Pd.

Aktivis Muslimah


Perbincangan mengenai arah pendidikan tinggi di Indonesia kembali mengemuka seiring munculnya wacana penyesuaian bahkan penutupan program studi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri. Kebijakan ini didorong oleh keinginan untuk meningkatkan daya saing lulusan serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Pendidikan pun diarahkan agar lebih selaras dengan kebutuhan pasar kerja yang terus berubah.

Di sisi lain, sejumlah kalangan akademisi menyampaikan pandangan yang lebih hati-hati. Perguruan tinggi dinilai tidak semestinya diposisikan sebagai “pabrik pencetak tenaga kerja” semata. Pendidikan memiliki peran yang lebih luas, yaitu membentuk kualitas manusia secara utuh—baik dari sisi intelektual, moral, maupun sosial. Oleh karena itu, perubahan kurikulum dinilai lebih bijak dibandingkan dengan penghapusan program studi secara langsung.

Fenomena ini menunjukkan adanya tarik-menarik antara dua kepentingan: kebutuhan industri yang terus berkembang dan idealisme pendidikan sebagai proses pembentukan manusia. Dalam praktiknya, tidak sedikit perguruan tinggi yang mulai menyesuaikan diri dengan tuntutan pasar, baik melalui pembukaan program studi baru maupun pengurangan bidang ilmu yang dianggap kurang “produktif” secara ekonomi.

Dalam perspektif sekuler, pendidikan sering dipandang sebagai instrumen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Perguruan tinggi diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja dan sesuai dengan kebutuhan industri. Negara dalam hal ini berperan sebagai fasilitator yang menjembatani dunia pendidikan dengan dunia usaha.

Solusi yang ditawarkan dalam kerangka ini umumnya berupa penyesuaian kurikulum berbasis kebutuhan industri, peningkatan kerja sama dengan dunia usaha, serta penguatan kompetensi praktis mahasiswa. Pendekatan ini memang dapat meningkatkan daya serap tenaga kerja dalam jangka pendek. Namun, jika tidak diimbangi dengan visi yang lebih luas, pendidikan berpotensi kehilangan ruhnya sebagai sarana pembentukan peradaban.

Lebih jauh, orientasi yang terlalu kuat pada pasar dapat menyebabkan penyempitan makna ilmu. Bidang-bidang ilmu yang tidak memiliki nilai ekonomi langsung berisiko terpinggirkan, padahal keberadaannya penting dalam membangun pemikiran, etika, dan arah kehidupan masyarakat.

Berbeda dengan pendekatan tersebut, Islam memandang pendidikan sebagai tanggung jawab utama negara dalam membentuk manusia yang berkepribadian Islam sekaligus memiliki kemampuan dalam mengelola kehidupan. Pendidikan tidak semata-mata diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri, tetapi untuk mencetak generasi yang mampu menjalankan peran sebagai hamba Allah dan pengelola bumi.

Allah SWT berfirman:


> قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)

Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam, tidak dibatasi hanya pada aspek ekonomi, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan.

Dalam sistem Islam, negara berperan langsung dalam menentukan arah pendidikan, mulai dari visi, kurikulum, hingga pembiayaan. Pendidikan diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan umat, baik dalam aspek keilmuan, pelayanan publik, maupun pengelolaan sumber daya. Dengan demikian, negara secara aktif mencetak tenaga ahli di berbagai bidang sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar mengikuti dinamika pasar.

Selain itu, Islam menempatkan ilmu sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memberikan manfaat bagi manusia. Oleh karena itu, seluruh bidang ilmu memiliki nilai selama digunakan dalam kebaikan. Tidak ada dikotomi antara ilmu yang “berguna secara ekonomi” dan yang tidak, selama ia berkontribusi bagi kehidupan manusia.

Adapun solusi dalam perspektif sekuler cenderung berfokus pada penyesuaian terhadap kebutuhan industri, seperti restrukturisasi program studi dan peningkatan keterampilan kerja. Sementara itu, Islam menawarkan pendekatan yang lebih menyeluruh, dengan menempatkan pendidikan sebagai bagian dari sistem kehidupan yang terintegrasi.

Dalam Islam, negara memastikan bahwa pendidikan tidak bergantung pada kepentingan pasar atau tekanan pihak tertentu. Kemandirian ini memungkinkan pendidikan berjalan sesuai dengan tujuan utamanya, yaitu membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, dan mampu berkontribusi bagi masyarakat.

Dengan demikian, polemik mengenai relevansi program studi seharusnya tidak hanya dilihat dari sudut pandang kebutuhan industri semata. Diperlukan refleksi yang lebih mendalam tentang tujuan pendidikan itu sendiri. Apakah pendidikan hanya untuk memenuhi pasar kerja, ataukah untuk membangun kualitas manusia dan peradaban?

Pada akhirnya, arah pendidikan akan sangat menentukan arah sebuah bangsa. Ketika pendidikan hanya berorientasi pada kebutuhan jangka pendek, maka yang dihasilkan adalah generasi yang siap bekerja, tetapi belum tentu siap memimpin dan membangun peradaban. Namun ketika pendidikan dibangun di atas nilai yang benar, maka ia akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki arah hidup yang jelas.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update