Oleh: Suryani
Fakta:
Kumparan.com - Seiring dengan mahalnya kacang kedelai, para pedagang memutar otak untuk menjaga agar harga tempe tidak mengalami kenaikan, yakni salah satunya dengan mengurangi ukurannya.
MALANG, Kompas.com - Taryono (60), salah satu perajin tempe di Kampung Sanan, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Rabu (20/5/2026), menuturkan, saat ini harga kedelai impor dari Amerika tembus Rp 10.500 per kilogram (kg). Harga sebelumnya masih dalam kisaran Rp 9.000 per kg. Adapun harga plastik yang semula Rp 35.000 per kemasan juga naik menjadi Rp 51.000.
Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah terus terpuruk terhadap dolar Amerika Serikat (AS) Pelemahan rupiah ini akan membuat biaya impor melonjak sehingga membebani konsumen dalam negeri.
Kompas.com - Di tengah makin meroketnya harga kedelai bahan baku pembuatan tempe, para perajin kini terpaksa memperkecil ukuran produk tempe produksi mereka.
Analisis:
Kenaikan harga kedelai impor tidak luput dari pengaruh eksternal dan internal. Dari segi eksternalnya seperti yang kita ketahui saat ini terjadi ketegangan geopolitik dan perdagangan disebabkan oleh konflik atau perang mengganggu jalur pengiriman dan perdagangan, sementara kebijakan ekspor-impor negara penghasil sering berubah-ubah. Hal ini menimbulkan ketidakpastian pasar dan memicu kenaikan harga.
Pengaruh internalnya sendiri di mana indonesia masih ketergantungan tinggi pada impor. Di mana indonesia hanya mampu memproduksi sedikit kedelai sendiri, kurang dari 30 % kebutuhan nasional, sisanya harus di datangkan dari luar negeri. Karena itu kita sepenuhnya tergantung pada harga pasar dunia dan tidak punya kekuatan untuk menentukan harga sendiri.
Hal tersebut di perparah dengan melemahnya nilai tukar rupiah. Harag kedelai di hitung dalam dolar AS. Ketika rupiah melemah terhadap dolar, maka biaya yang harus di bayar pengusaha indonesia jauh lebih besar, meskipun harga di luar negeri tetap atau naik sedikit saja. Ini adalah penyebab yang paling langsung dan paling cepat di rasakan perajin tempe.
Kurangnya dukungan dan penyangga harga, pemerintah belum memiliki cadangan pangan yang cukup besar atau mekanisme penyangga yang kuat untuk menahan lonjakan harga saat terjadi gejolak di luar negeri. Subsidi yang ada seringkali tidak cukup atau terhambat sampai ke pengrajin.
Karena semua faktor tersebut bersifat menumpuk maka harga kedelai impor yang di terima pengrajin menjadi sangat mahal, sementara mereka sulit menaikkan harga jual produknya karena daya beli masyarakat terbatas. Akibatnya keuntungan menyusut drastis, banyak pengusaha yang berhenti beroperasi, dan produksi dikurangi atau ukuran produk yang di perkecil.
PANDANGAN ISLAM:
Kenaikan harga kedelai dan penderitaan perajin tempe adalah akibat langsung dari sistem yang membuat kita bergantung pada luar negeri, menyerahkan pangan pada pasar bebas, dan peran negara yang lemah. Dalam Islam, hal ini tidak akan terjadi atau setidaknya dampaknya sangat kecil karena:
Pertama, Kita memproduksi sendiri kebutuhan pokok kita. Kedua, Negara hadir melindungi, bukan membiarkan rakyat berjuang sendiri. Ketiga, Ekonomi dijalankan atas dasar keadilan dan kemaslahatan, bukan semata keuntungan.
Masalah ini hanya bisa selesai secara tuntas jika akar masalahnya diperbaiki, yaitu mengubah pola dari ketergantungan menjadi kemandirian, dan menjadikan pangan sebagai urusan negara yang paling utama.
Wallahu'alam.

No comments:
Post a Comment