Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Harga Kedelai Melonjak, Bukti Nyata Urgennya Kemandirian Pangan Negara

Wednesday, June 03, 2026 | Wednesday, June 03, 2026 WIB

Oleh: Sarinah 


Salah satu imbas dari kurs Indonesia yang melemah menyebabkan berbagai polemik di ditengah masyarakat yang makin menekan ekonomi masyarakat.

Hal ini dikarenakan kemandirian pangan Negara Indonesia yang tidak kokoh. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar tentu saja sangat mempengaruhi harga pangan impor, dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar menyebabkan polemik baru ditengah masyarakat.

Semisal harga kedelai impor saat ini. Harga kedelai dunia pada tanggal 21 mei 2026 naik sebesar 18,3 persen, hingga diprediksi akan naik lagi. Seiring dengan mahalnya harga kacang kedelai, para pedagang mensiasati untuk tetap menjaga agar harga tempe tidak mengalami kenaikan.

Salah satu cara yang digunakan pedagang adalah dengan mengurangi ukurannya.Ketika harga kedelai naik, para pengrajin tempe biasanya mengurangi ukuran tempe. Dengan begitu, meskipun di tengah melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang menyebabkan biaya impor kacang kedelai melejit naik, harga tempe masih terjangkau oleh masyarakat.

Rizki, pedagang tempe di Pasar Senen, Jakarta Pusat menyebutkan harga kedelai saat ini merangkak naik dari biasanya Rp 950.000 atau 970.000 per kwintal kini mencapai 1.100.000 per kwintal. Sementara harga tempe masih stabil, yakni Rp10.000 per papan.

Rizki menjelaskan, ukuran tempe dikurangi sekitar 5 persen lebih kecil dari ukuran normal ( kumparan 23 mei 2026).

Pelemahan rupiah membuat harga kedelai impor naik dan menekan perajin tahu-tempe di berbagai daerah.

Pedagang terpaksa harus memutar otak, untuk mencari solusi agar masalah ini dapat teratasi. Para pedagang tahu maupun tempe mensiasatinya dengan memperkecil ukuran tempe dan mengurangi produksi. Masyarakat terpaksa mencari solusi atas polemik yang muncul tanpa campur tangan dan solusi dari negara. Padahal pada faktanya persoalan kenaikan harga kedelai yang terjadi adalah karena melemahnya nilai tukar rupiah atas dolar, dan ini erat kaitannya dengan lemahnya kedaulatan pangan di Indonesia yang masih bergantung dengan negara lain.

Adanya impor pasokan pangan ke Indonesia senantiasa dikendalikan oleh mata uang negara lain, yakni dolar yang ditetapkan sebagai mata uang internasional. Sehingga ini tidak akan mensejahterakan rakyat Indonesia, dikarenakan nilai tukar mata uang rupiah rendah. Hal ini justru menguntungkan negara lain, dan cenderung merugikan Indonesia.

Kenaikan harga plastik kemasan turut menambah beban biaya usaha tahu-tempe. Sama-sama kita ketahui bahwasannya saat ini plastik juga mengalami kenaikan dari 50 hingga100 persen. Bahan baku plastik juga adalah impor dari negara lain ditambah BBM (Bahan Bakar Minyak) yang saat ini naik, turut melengkapi keterpurukan masyarakat. Sungguh ini melengkapi fakta ketidak kemandirian negara dan menunjukkan lemahnya peran negara dalam menjaga keberlangsungan usaha rakyat.

Ketergantungan impor kedelai mencerminkan lemahnya kemandirian pangan dan ekonomi negara.

Hal ini sungguh berbeda dengan periayahan dalam sistem Islam. Dalam pengurusan rakyat khilafah (kepemimpinan Islam) menggunakan mata uang emas dan perak sebagai mata uang negara, sehingga nilai tukar uang lebih stabil dan tidak mudah dipermainkan spekulan.

Khilafah menghidupkan lahan pertanian dan membangun reproduksi kedelai dan jenis pertanian lainnya dengan mandiri, sehingga tidak bergantung pada impor. Dengan demikian maka negara tidak tergantung dengan negara lain dan terwujudnya kemandirian pangan.

Khilafah akan melakukan pembiayaan terhadap pertanian masyarakat, diantaranya seperti benih, pupuk, perairan, penggarapan lahan pertanian, sehingga mempermudah masyarakat untuk mengembangkan pertanian. 

Politik ekonomi Islam berfokus pada pemenuhan kebutuhan pokok tiap individu, termasuk melindungi pengrajin kecil dari tekanan ekonomi. Pemenuhan kebutuhan individu harus benar-benar terealisasi dan kemandirian pangan harus terlaksana. Inilah gambaran kepemimpinan Islam dalam meriayah masyarakat, memiliki kemandirian dan bergantung kepada negara lain. Hanya dengan kemandirian lah negara Indonesia akan terbebas dari hegemoni negara lain. Hanya dengan menegakkan kepemimpin Islam (khilafah) satu-satunya harapan yang akan mewujudkan keberhasilan dan negara akan berdaulat.

Allahu a'lam bishawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update