Oleh Sahna Salfini Husyairoh, S.T
Aktivis Muslimah
Rupiah terus tertekan. Kini nilainya merosot hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan ini bukan sekadar angka di pasar valuta asing, melainkan pukulan nyata bagi dompet dan piring makan masyarakat.
Depresiasi rupiah memicu inflasi impor, meningkatkan biaya produksi industri, dan melambungkan harga berbagai kebutuhan pokok. Tragisnya, di saat biaya hidup meroket, pendapatan riil masyarakat justru jalan di tempat. Sektor manufaktur mulai tercekik mahalnya bahan baku impor, ruang usaha menyempit, dan bayang-bayang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kembali mengintai di depan mata.
Mengapa Rupiah Terus Merana?
Ada enam faktor krusial yang menjadi akar rapuhnya mata uang dan perekonomian kita saat ini:
Pertama, Ketergantungan Impor yang Tinggi: Meski kaya sumber daya alam, struktur industri kita masih bergantung pada impor bahan baku, mesin, teknologi, hingga pangan pokok seperti gandum dan kedelai.
Kedua, Rapuh Akibat Investasi Asing (Hot Money): Dalam sistem kapitalisme liberal, modal asing bisa masuk cepat saat untung, tapi juga bisa kabur massal (capital outflow) saat terjadi guncangan global, membuat rupiah sangat labil.
Ketiga, Ancaman "Tembok Utang" (Debt Wall): Tahun 2026 menjadi periode yang sangat berat. Jatuh tempo utang ribawi Pemerintah mencapai sekitar Rp 833,96 triliun. Kewajiban yang menumpuk ini menguras keuangan negara.
Keempat, Meningkatnya Risiko Negara (Country Risk Premium): Tingginya beban utang menurunkan persepsi positif investor. Akibatnya, biaya untuk menarik modal baru menjadi jauh lebih mahal.
Kelima, Hegemonis Dolar AS: Sistem keuangan global yang menempatkan dolar AS sebagai mata uang utama membuat nasib rupiah selalu mendikte kebijakan bank sentral AS (The Fed).
Keenam, Tekanan Berlapis: Kombinasi dari jeratan utang, ketergantungan impor, dan dominasi dolar menciptakan pelemahan struktural yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan obat penawar sementara.
Dari perspektif Islam, krisis yang berulang ini adalah alarm spiritual dan ideologis. Berbagai kesempitan ekonomi dan hilangnya keberkahan pada hakikatnya terjadi karena kita mencampakkan petunjuk Pencipta dan memilih menghamba pada sistem kapitalisme sekuler.
Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur'an:
وَلوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ
"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami). Karena itu Kami menyiksa mereka disebabkan perbuatan mereka itu." (TQS al-A’raf [7]: 96)
Untuk keluar dari kubangan krisis ini secara total, Islam menawarkan lima pilar perubahan struktural:
1. Memutus Rantai Sistem Ribawi
Akar masalah ekonomi modern adalah dominasi sistem riba yang dipimpin AS. Islam secara tegas mengharamkan riba mutlak (TQS al-Baqarah[2]: 275) bahkan menyatakan perang terhadap pelakunya (TQS al-Baqarah[2]:279). Negeri ini harus berani meninggalkan utang berbunga dan beralih pada pembiayaan syar'i.
2. Mengembalikan Kepemilikan Umum (SDA) kepada Rakyat
Syariah melarang keras privatisasi atau penyerahan kekayaan alam kepada asing dan aseng. Rasulullah SAW bersabda:
"Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput dan api." (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Tambang minyak, gas, batu bara, emas, nikel, dan hutan harus dikelola penuh oleh negara. Keuntungannya masuk ke Baitul Mal untuk mendanai kebutuhan rakyat, sehingga negara tidak perlu berutang atau memalak rakyat lewat pajak yang mencekik.
3. Kembali ke Mata Uang Dinar dan Dirham
Mata uang kertas (fiat money) berbasis dolar adalah ilusi yang mudah runtuh. Islam memerintahkan penggunaan mata uang berbasis komoditas berharga (emas dan perak). Sistem ini terbukti secara historis mampu menjaga stabilitas nilai, mengendalikan inflasi, dan kebal dari intervensi politik negara adidaya.
4. Mewujudkan Kemandirian Industri Riil
Negara wajib membangun kekuatan ekonomi dalam negeri yang bertumpu pada produksi nyata—mulai dari sektor pertanian, teknologi, hingga industri militer. Kita harus berhenti bergantung pada impor bahan baku agar ekonomi tidak mudah goyah oleh badai eksternal.
5. Menghidupkan Institusi Baitul Mal
Sistem keuangan Islam tidak mengandalkan pajak dan utang sebagai keran utama. Baitul Mal mengelola pendapatan dari pos-pos syar'i seperti kharaj, jizyah, fai’, ghanimah, ‘usyur, serta hasil pengelolaan harta milik umum. Ini menyediakan dana yang mandiri dan berdaulat.
Kesimpulan: Butuh Penerapan Kaaffah
Solusi di atas tidak akan pernah terwujud jika Islam hanya diambil dalam urusan ibadah ritual semata. Masalah ekonomi bukan sekadar hitung-hitungan teknis, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang wajib diatur oleh wahyu Allah SWT.
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
"Apakah sistem hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi kaum yang meyakini?" (TQS al-Ma’idah [5]: 50)
Oleh karena itu, jalan tunggal menuju mata uang yang kuat dan ekonomi yang berdaulat adalah dengan menerapkan syariah Islam secara menyeluruh (kaaffah) di bawah institusi pemerintahan Islam (Khilafah). Hanya dengan cara inilah, keadilan distribusi kekayaan, kemandirian politik, dan keberkahan bumi dapat dirasakan oleh seluruh umat manusia.
Wallaahu a’lam bi ash-shawaab.

No comments:
Post a Comment