Oleh: Ummu Azimah
Pendidikan Tanpa Adab Melahirkan Pola Sikap yang Salah
Peristiwa memprihatinkan kembali mencoreng dunia pendidikan. Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan sejumlah siswa menunjukkan sikap tidak pantas terhadap seorang guru di ruang kelas. Mereka terlihat mengejek hingga melakukan gestur acungan jari tengah yang dinilai melecehkan sosok yang seharusnya dihormati.
Sebutlah Ibu Atun panggilan akrabnya, beliau salah satu guru yang bertugas mengajar mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) di SMA Negeri 1 Purwakarta.
Menurutnya, inseden itu terjadi pada hari Kamis 16 April 2026 di kelas XI IPS, tepat setelah kegiatan belajar mengajar (KBM) mengenai pengolahan makanan selesai. Beliau mengaku saat itu hanya fokus menjaga ketertiban kelas dan tidak menyadari bahwa tindakan provokatif siswanya mengacungkan jari tengah yang merupakan bentuk perundungan dan pelanggaran etika tersebut telah direkam dan viral di media sosial.
Ibu Syamsiah atau Bu Atun ini telah mengabdi sebagai pendidik 23 tahun sejak tahun 2003 sampai sekarang.
Meski sempat merasa sedih, tapi Ibu Syamsiah memilih untuk menguatkan diri melalui keikhlasan. Beliau berharap, kedepannya adab tetap menjadi pondasi utama bagi peserta didik. Tugas guru adalah terus sabar dan membimbing, pungkasnya.
Sekolah sudah memberikan skorsing selama 19 hari. Namun Dedi Mulyadi menilai sanksi tersebut belum tentu menjadi solusi terbaik dalam membentuk karakter siswa. Beliau mengusulkan bentuk hukuman yang lebih edukatif dan berdampak langsung pada perubahan perilaku.
Dampak Sistem Pendidikan Sekuler Liberal
Pelecehan guru di Purwakarta sebagai cerminan krisis moral akibat sistem pendidikan sekuler liberal yang mengabaikan adab kepada guru. Seringkali tindakan tersebut dilakukan demi konten atau pengakuan di media sosial. Siswa lebih mementingkan "Vitalitas" dan "keren-kerenan" di mata teman sebaya daripada menjaga martabat guru.
Kejadian ini sebagai bukti lemahnya wibawa guru. Mengapa siswa merasa berani melakukan hal tersebut? Apakah karena sanksi sekolah selama ini terlalu lembek atau guru tidak berdaya pada siswa yang berbuat salah karena takut dituntut jika menegurnya?
Kurikulum pendidikan yang saat ini diterapkan sering menggaungkan "Profil Pelajar Pancasila". Namun kasus ini menjadi tamparan keras bahwa hal ini baru sebatas formalitas administratif di atas kertas.
Sistem Pendidikan Islam Solusi Terbaik
Kurikulum pendidikan dalam Islam dibangun berlandaskan akidah Islam dalam rangka mencetak generasi yang memiliki syakhsiyah Islam yaitu pola pikir dan pola sikap yang sesuai syari'at. Dengan demikian, ilmu itu jika diamalkan dengan benar akan mewujudkan insan yang beradab karena adanya keselarasan antara pola pikir dan pola sikap yang Islami sehingga tercapai keberkahan.
Peran Negara juga sangat dibutuhkan dalam melindungi generasi dari berbagai faktor yang bisa merusak moral. Salah satunya dengan menyaring konten digital negatif seperti tayangan yang mencontohkan pembangkangan, pelecehan dan kekerasan.
Penerapan sistem sanksi Islam yang berfungsi sebagai penebus dosa (jawabir) bagi pelaku dan pencegah (zawajir) bagi orang lain agar tidak melakukan hal serupa. Sanksi ini harus memberikan efek jera yang nyata namun tetap adil sesuai syariat.
Dalam Islam, guru diposisikan sebagai sosok mulia yang mendapatkan penghargaan tinggi dan penghidupan yang sangat layak dari negara, sehingga wibawa mereka tetap terjaga di mata murid dan masyarakat.
Wallahu alam bi shawab.
No comments:
Post a Comment