Tokoh Adat Tiyuh Margakaya Matangkan Prosesi Angkon Puakhi, Libatkan Elite Daerah hingga Rencana Dokumentasi Budaya
Pringsewu (Nusantaranews.net) Lampung Komunitas adat Lampung di Tiyuh Margakaya, Kabupaten Pringsewu, mulai mematangkan langkah besar dalam pelaksanaan prosesi sakral Seangkonan atau Angkon Puakhi—ritual pengangkatan menjadi keluarga adat yang sarat makna sosial dan kultural.
Musyawarah pembentukan panitia digelar pada Sabtu (2/5/2026) di kediaman tokoh adat Muhamad Alhusnuriski, bergelar Paksi Duluan.
Forum ini tidak sekadar teknis, melainkan menjadi ruang konsolidasi nilai antara para pemangku adat, tokoh masyarakat, dan warga setempat.
Agenda utama prosesi ini terbilang strategis: melibatkan Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas dan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal sebagai bagian dari ikatan simbolik melalui Angkon Puakhi.
Keterlibatan elite pemerintahan ini menandai persinggungan erat antara kekuasaan formal dan legitimasi adat.
Suasana musyawarah berlangsung hangat, namun penuh kesadaran akan tanggung jawab menjaga kemurnian pakem adat.
Para tokoh adat Pepadun menekankan bahwa prosesi tidak boleh sekadar seremoni simbolik, melainkan harus dijalankan dengan ketelitian—baik dari sisi tata cara, filosofi, hingga nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.
Perwakilan Bupati Pringsewu, Ustad Iqbal, dalam forum tersebut menegaskan bahwa Seangkonan merupakan simbol persatuan yang melampaui formalitas.
“Ini bukan hanya acara adat, tetapi ruang memperkuat persaudaraan dan penghormatan terhadap budaya Lampung,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan rencana strategis ke depan berupa dokumentasi prosesi dalam bentuk film. Langkah ini dinilai sebagai upaya serius menjadikan Angkon Puakhi tidak hanya hidup dalam praktik, tetapi juga terdokumentasi sebagai bahan edukasi lintas generasi.
Gagasan tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Di tengah kekhawatiran memudarnya tradisi akibat modernisasi, dokumentasi visual dianggap sebagai jembatan antara warisan leluhur dan generasi muda.
Sebagai salah satu tiyuh tertua di Kabupaten Pringsewu, Margakaya memiliki posisi penting dalam lanskap sejarah dan budaya Lampung. Karena itu, pelaksanaan Angkon Puakhi tidak hanya dipandang sebagai ritual internal, tetapi juga momentum strategis mempertegas identitas adat Pepadun di ruang publik.
Lebih jauh, masyarakat berharap prosesi ini tidak berhenti pada simbolisasi hubungan antar tokoh, tetapi benar-benar menjadi fondasi persaudaraan yang hidup dalam praktik sosial sehari-hari.
Panitia yang telah terbentuk kini menghadapi tantangan besar: memastikan seluruh rangkaian acara berjalan khidmat, tertib, dan tetap berpegang pada nilai-nilai asli adat. Di sisi lain, perhatian publik juga tertuju pada bagaimana keterlibatan pejabat daerah dalam ruang adat ini akan dimaknai—apakah sebagai bentuk pelestarian, atau sekadar simbol politik kultural.
Yang jelas, Angkon Puakhi di Tiyuh Margakaya kini tidak lagi sekadar tradisi melainkan panggung penting yang mempertemukan adat, kekuasaan, dan upaya pelestarian budaya di tengah arus zaman..(RGR)

No comments:
Post a Comment