Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Refleksi Hardiknas: Pendidikan Kita Kian Buram

Tuesday, May 05, 2026 | Tuesday, May 05, 2026 WIB Last Updated 2026-05-05T11:32:08Z




Oleh : Iffah Komalasari, S.Pd (Pendidik Generasi)


Setiap tahun, pada tanggal 2 Mei, masyarakat Indonesia kembali diingatkan pada pentingnya pendidikan melalui peringatan Hari Pendidikan Nasional. Spanduk ucapan dan seremoni digelar di berbagai tempat. Namun di balik perayaan itu, ada pertanyaan besar yang seharusnya mengusik nurani kita: benarkah dunia pendidikan kita sedang baik-baik saja?


Realitas di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Kasus kekerasan antar pelajar terus terjadi, bahkan sampai merenggut nyawa (kumparan.com, 21/4/2026). Pelecehan seksual di sekolah dan kampus semakin marak, membuat ruang pendidikan yang seharusnya aman justru terasa mengancam (kompas.id, 14/4/2026). Kecurangan dalam ujian juga makin terang-terangan, mulai dari praktik joki UTBK hingga budaya plagiat yang dianggap biasa (kompas.id, 22/4/2026).


Belum lagi maraknya peredaran narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa (kebumenupdate.com, 28/4/2026), serta fenomena pelajar yang berani melawan bahkan menghina guru (tribunnews.com, 19/4/2026). Tidak sedikit pula guru yang akhirnya dipidanakan hanya karena berusaha mendisiplinkan siswa (kompas.com, 22/4/2026). Semua ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan kita sedang mengalami krisis yang serius, bukan sekadar masalah teknis, tetapi krisis moral dan arah.


Sebagai seorang pendidik generasi, kondisi ini sangat memprihatinkan. Pendidikan yang seharusnya melahirkan manusia beradab, justru berpotensi mencetak generasi yang kehilangan arah hidup. Jika dibiarkan, ini bukan hanya masalah hari ini, tetapi ancaman nyata bagi masa depan bangsa.


Allah Swt. berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS Ar-Ra’d: 11).

Ayat ini menjadi pengingat bahwa perubahan harus dimulai dari kesadaran untuk memperbaiki sistem dan cara pandang kita terhadap pendidikan.


Analisis Penyebab Masalah


Fenomena buramnya dunia pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kegagalan sistem yang diterapkan saat ini, yaitu sistem sekuler kapitalistik. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan, termasuk dalam pendidikan. Akibatnya, pendidikan kehilangan ruhnya.


Pelajar didorong untuk mengejar nilai, gelar, dan kesuksesan materi, tetapi tidak dibekali dengan fondasi akhlak yang kuat. Mereka diajarkan untuk “berhasil”, tetapi tidak diajarkan dengan serius bagaimana cara yang benar untuk meraihnya. Maka tidak heran jika kecurangan seperti joki ujian atau plagiarisme dianggap jalan pintas yang wajar.


Sekularisme juga melahirkan pola pikir liberal, di mana kebebasan dijunjung tinggi tanpa batas. Pergaulan bebas, konten pornografi, dan budaya hedonisme dengan mudah masuk ke kehidupan pelajar. Tanpa filter halal-haram, generasi muda menjadi rapuh dan mudah terseret pada perilaku menyimpang, termasuk kekerasan dan pelecehan seksual.


Di sisi lain, sistem kapitalisme menjadikan pendidikan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan pasar. Sekolah dan kampus lebih fokus mencetak tenaga kerja dibanding membentuk manusia berkepribadian. Akibatnya, aspek moral sering terabaikan.


Negara pun belum hadir secara optimal sebagai pelindung generasi. Sanksi terhadap pelaku kejahatan di kalangan pelajar seringkali lemah dan dianggap sekadar “kenakalan anak”. Padahal dampaknya sangat serius. Ketika tidak ada efek jera, maka kejahatan berpotensi terus berulang.


Minimnya pendidikan agama yang mendalam juga memperparah keadaan. Pelajaran agama hanya menjadi formalitas, tidak mampu membentuk kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Inilah yang membuat banyak pelajar berani melanggar aturan tanpa rasa takut.


Solusi Tuntas


Mengatasi krisis pendidikan tidak cukup dengan memperbaiki kurikulum atau menambah aturan. Diperlukan perubahan mendasar, yaitu kembali menjadikan akidah Islam sebagai asas pendidikan.


Dalam Islam, pendidikan bertujuan membentuk insan yang berilmu sekaligus bertakwa. Ilmu tidak hanya untuk mencari pekerjaan, tetapi untuk memahami peran manusia sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi. Dengan pemahaman ini, pelajar akan memiliki kesadaran untuk menjauhi kecurangan, kekerasan, dan kemaksiatan.


Rasulullah saw. bersabda:

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menanamkan tanggung jawab sejak dini, termasuk bagi pelajar sebagai calon pemimpin masa depan.


Sistem pendidikan Islam akan fokus pada pembentukan kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyah), yaitu keselarasan antara pola pikir dan pola sikap. Pelajar tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia.

Negara dalam sistem Islam (Khilafah) memiliki peran sentral dalam menjaga pendidikan. Negara wajib menyediakan pendidikan berkualitas yang berasaskan akidah Islam, serta memastikan lingkungan belajar yang aman dan kondusif.


Selain itu, Islam juga menerapkan sistem sanksi yang tegas terhadap pelaku kejahatan, termasuk di kalangan pelajar. Sanksi ini bersifat mendidik sekaligus memberi efek jera, sehingga mampu mencegah terulangnya kejahatan.


Negara juga akan menciptakan suasana kehidupan yang mendukung ketakwaan, baik melalui media, lingkungan sosial, maupun kebijakan publik. Konten yang merusak moral generasi tidak akan dibiarkan bebas beredar. Sebaliknya, masyarakat didorong untuk berlomba dalam kebaikan.


Hal yang tidak kalah penting adalah sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam Islam, pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi tanggung jawab bersama yang harus berjalan seiring dalam satu visi, yaitu membentuk generasi yang taat kepada Allah.


Menyelamatkan Generasi, Menjaga Peradaban


Refleksi Hardiknas seharusnya menjadi momentum untuk jujur melihat kondisi pendidikan kita hari ini. Jika berbagai kerusakan terus dibiarkan, maka kita sedang membiarkan masa depan bangsa berjalan menuju krisis yang lebih besar.


Generasi muda adalah aset peradaban. Jika mereka tumbuh dalam sistem yang salah, maka kerusakan akan terus berulang. Sebaliknya, jika mereka dibina dengan sistem yang benar, maka mereka akan menjadi pemimpin yang membawa kebaikan bagi dunia.


Karena itu, solusi sejati bukan sekadar perbaikan parsial, tetapi perubahan sistemik menuju penerapan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Hanya dengan cara inilah kita bisa mengembalikan kemuliaan dunia pendidikan dan menyelamatkan generasi masa depan.


Wallahu a’lam bishshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update