Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Krisis Adab Cerminan Kegagalan Sistem Sekuler

Monday, May 11, 2026 | Monday, May 11, 2026 WIB Last Updated 2026-05-11T11:06:53Z

 


Penulis Ratna Ummu Rayyan

Dunia pendidikan Indonesia saat ini diwarnai pola berulang yang mengusik nurani. Maraknya penghinaan, kekerasan, hingga kriminalisasi terhadap guru oleh siswa maupun orang tua menunjukkan memudarnya penghormatan terhadap guru sebagai figur pendidik sekaligus "orang tua kedua". Fenomena ini bukanlah sekadar kasus sporadis, melainkan cerminan kegagalan sistemik dalam menjaga relasi dasar antara murid dan guru.

Akar Masalah: Paradigma Sekuler Kapitalistik

Penyebab utama krisis ini adalah dominasi paradigma sekuler kapitalistik. Sisi kapitalisme telah menggeser relasi pendidikan menjadi relasi pasar yang transaksional. Dalam logika ini, siswa dan orang tua bertindak sebagai "konsumen", sementara guru diposisikan sebagai "penyedia layanan". Akibatnya, otoritas moral guru runtuh karena dituntut memuaskan pelanggan; setiap teguran atau pendisiplinan justru dianggap sebagai ketidakpuasan layanan.

Sisi sekularisme memisahkan agama dari ruang publik sehingga nilai moral menjadi relatif dan hanya berdasarkan konsensus sosial. Adab bukan lagi dianggap sebagai kewajiban spiritual, melainkan norma yang bisa dinegosiasikan. Hal ini melahirkan generasi yang cerdas secara akademik namun rapuh secara moral—peka terhadap kenyamanan diri, tetapi minim empati dan penghormatan.

Solusi Islam: Pendidikan Berbasis Akidah dan Adab

Berbeda dengan sistem sekuler, Islam memandang pendidikan sebagai proses pembentukan insan bertakwa yang mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal. Dalam tradisi Islam, guru (murabbi) memiliki kedudukan tinggi karena keberkahan ilmu sangat bergantung pada adab murid terhadapnya. Penghormatan ini lahir dari kesadaran akidah bahwa memuliakan guru adalah bagian dari ketaatan kepada Allah SWT.

Untuk memulihkan martabat guru, diperlukan perubahan paradigma mendasar:

  • Kurikulum Berbasis Kepribadian: Pendidikan harus diarahkan untuk membangun kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyah) yang mencakup pola pikir dan pola jiwa, bukan sekadar mencetak tenaga kerja untuk industri.

  • Otoritas Guru: Guru harus dipulihkan perannya sebagai pembimbing dan pendisiplin yang mendapatkan perlindungan hukum dari negara serta dukungan penuh dari masyarakat.

  • Peran Keluarga: Orang tua wajib kembali menjadi madrasah pertama yang menanamkan adab sejak dini, bukan justru menjadi pembela kesalahan anak di sekolah.

  • Dukungan Sistemik: Budaya masyarakat dan kebijakan publik harus mendukung pemuliaan terhadap ilmu dan para pengemban ilmu.

Kesimpulan

Kekerasan terhadap guru adalah puncak gunung es dari kegagalan sistem pendidikan sekuler yang transaksional. Islam menawarkan solusi akar rumput dengan menjadikan akidah sebagai fondasi dan kepribadian mulia sebagai tujuan utama. Pemulihan martabat guru hanya bisa tercapai dengan mengembalikan pendidikan kepada fitrahnya: membentuk manusia yang utuh, berilmu, dan beradab.

Wallahu a’lam bish-shawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update