Oleh : Ummu Fatih (Aktivis Muslimah)
Kekejaman Zionis tidak hanya menimpa warga Palestina yang masih hidup, tetapi juga mereka yang telah meninggal dunia. Ribuan warga sipil dibunuh, termasuk anak-anak dan perempuan. Bahkan jenazah warga Palestina pun tidak dihormati. Banyak kuburan dibongkar paksa dan jasad dipindahkan dari tanah mereka sendiri. Tindakan ini menunjukkan bahwa Zionis benar-benar ingin menghapus identitas dan keberadaan rakyat Palestina.
Kesaksian tentang kebrutalan tentara Israel juga diungkap dalam laporan media bahwa tentara Israel diperintahkan membunuh semua pria di Gaza tanpa memandang usia.
(Sumber berita:Republika Online dan google share )
Agresi Zionis tidak berhenti pada penghancuran Gaza. Mereka terus memperluas wilayah pendudukan dan menyiapkan serangan baru untuk menguasai lebih banyak tanah Palestina. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan Zionis bukan sekadar keamanan, tetapi penjajahan permanen atas Palestina.
Laporan media menyebutkan bahwa Israel terus memperluas pendudukan di Jalur Gaza dan mempersiapkan operasi militer berikutnya.
(Sumber berita:ANTARA News )
Kekejaman Zionis juga menyasar para jurnalis. Gaza kini disebut sebagai tempat paling mematikan di dunia bagi pekerja media. Lebih dari 300 jurnalis tewas sejak 7 Oktober 2023. Banyak di antara mereka dibunuh saat sedang meliput kondisi warga sipil.
Penargetan jurnalis menunjukkan bahwa Zionis ingin membungkam informasi agar dunia tidak melihat kejahatan perang yang mereka lakukan terhadap rakyat Palestina.
(Sumber berita:ANTARA Bali)
Jumlah korban akibat agresi Zionis terus meningkat secara mengerikan. Sejak 7 Oktober 2023, korban tewas mencapai puluhan ribu orang dan ratusan ribu lainnya luka-luka. Sebagian besar korban adalah warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan.
Data terbaru menunjukkan korban tewas mencapai 72.736 orang dan korban luka mencapai 172.535 orang. Ini menunjukkan bahwa genosida di Gaza masih berlangsung hingga hari ini.
(Sumber berita:ANTARA News)
Anak-anak Palestina menjadi korban paling tragis dalam perang ini. Banyak dari mereka kehilangan tangan atau kaki akibat serangan bom Zionis. Bahkan Gaza kini disebut sebagai wilayah dengan jumlah amputasi anak tertinggi di dunia akibat perang modern.
(Sumber berita:Tempo dan Metro TV News)
Dalam perspektif kritis,zionis tidak mempedulikan berbagai kesepakatan gencatan senjata. Mereka terus menyerang Gaza dengan dukungan politik, militer, dan keuangan dari Amerika Serikat serta negara-negara Barat. Dukungan ini membuat Zionis semakin leluasa memperluas pendudukan dan melakukan genosida terhadap rakyat Palestina.
Pembunuhan terhadap jurnalis juga menunjukkan upaya sistematis untuk menutupi kejahatan mereka dari dunia internasional. Ketika media dibungkam, maka kebohongan dan propaganda lebih mudah disebarkan.
Akar agresi Zionis tidak bisa dilepaskan dari dukungan negara-negara besar kapitalis terhadap entitas penjajah tersebut.
Pendudukan Palestina seharusnya menjadi persoalan seluruh kaum muslimin, bukan hanya rakyat Palestina. Akar masalah Gaza adalah keberadaan entitas Zionis di tanah milik kaum muslimin. Selama entitas penjajah ini masih berdiri, maka penderitaan rakyat Palestina akan terus berlangsung.
Sayangnya, dunia internasional hanya sebatas mengecam tanpa tindakan nyata. Banyak negeri muslim pun hanya memberikan bantuan kemanusiaan, tetapi tidak melakukan langkah strategis untuk menghentikan penjajahan.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perumpamaan kaum mukmin dalam cinta dan kasih sayang seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit.”
(HR. Muslim)
Lebih dari 50 negeri muslim saat ini tidak bergerak melakukan pembebasan Palestina karena terbelenggu nasionalisme dan kepentingan politik masing-masing. Batas-batas negara membuat kaum muslim kehilangan persatuan hakiki.
Padahal Palestina adalah tanah kaum muslimin seluruh dunia. Ketika ukhuwah Islamiyah melemah, maka musuh-musuh Islam semakin mudah menyerang dan menjajah negeri-negeri muslim.
Sekat nasionalisme menjadi penghalang utama persatuan umat dalam membela Palestina.
Dalam perspektif Islam,pembebasan Palestina membutuhkan persatuan umat Islam sedunia dalam satu kepemimpinan yang mampu melindungi kaum muslimin. Islam mengajarkan ukhuwah Islamiyah yang melampaui batas bangsa dan negara.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
(QS. Al-Hujurat: 10)
Persatuan inilah yang dahulu menjadikan kaum muslim mampu membebaskan Palestina pada masa Shalahuddin al-Ayyubi.
Dalam sejarah Islam, Palestina pernah hidup aman di bawah pemerintahan Islam selama berabad-abad. Kaum muslim, Nasrani, dan Yahudi hidup berdampingan dengan damai. Hal ini menunjukkan bahwa syariat Islam memiliki mekanisme perlindungan terhadap manusia.
Allah SWT berfirman:
“Dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan.”
(QS. Al-Anfal: 72)
Persatuan politik umat Islam menjadi faktor penting dalam menjaga Palestina dari penjajahan.
Kaum muslim tidak boleh hanya menjadi penonton tragedi Gaza. Umat harus memiliki agenda serius untuk menghentikan penjajahan dan membebaskan Palestina dari Zionis.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Imam (pemimpin) adalah perisai, tempat kaum muslim berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, umat Islam harus memperkuat persatuan, membangun kepedulian politik Islam, serta terus mendukung perjuangan rakyat Palestina dengan berbagai cara yang dibenarkan syariat. Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan, tetapi juga persoalan kehormatan umat Islam.
Tragedi Gaza hari ini menjadi bukti bahwa ketika umat tercerai-berai, musuh dengan mudah menindas kaum muslimin. Sudah saatnya umat Islam kembali membangun persatuan dan kepedulian nyata terhadap pembebasan Palestina melalui Khilafah Islamiyyah.

No comments:
Post a Comment