Oleh: Suryani
PURWAKARTA, KOMPAS.com – Ibu guru Syamsiah, pengajar mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di SMA Negeri 1 Purwakarta, memilih memaafkan siswa yang mengolok-oloknya. Syamsiah, atau yang akrab dengan nama ibu atun, menegaskan tidak akan membawa kasus pelecehan etika ini ke ranah hukum.
Detik.com, bandung – Peristiwa memprihatinkan kembali mencoreng dunia pendidikan. Sebuah video memperlihatkan sejumlah siswa menunjukkan sikap tidak pantas terhadap seorang guru di dalam ruang kelas. Dalam rekaman tersebut, para siswa terlihat mengejek hingga melakukan gestur acungkan jari tengah yang dinilai melecehkan sosok yang seharusnya di hormati.
Informasi yang dihimpun, kejadian itu terjadi di SMAN 1 Purwakarta. Aksi para siswa tersebut menuai kecaman luas karena dinilai mencerminkan krisis etika dan penghormatan terhadap guru dilingkungan sekolah. Kasus ini menjadi salah satu dari banyaknya kasus serupa yang seharusnya dapat membuka mata kita bahwa pendidikan saat ini tidak dapat menjamin karakter seorang siswa.
Analisis:
Sistem pendidikan saat memisahkan urusan agama, nilai-nilai spiritual, atau etika universal dari kurikulum akademis. Dimana pendidikan saat ini fokus utamanya adalah logika, sains, dan fakta objektif. Adapu dari segi kapitalistik yaitu pendidikan berorientasi pada pasar, kompetisi, efisiensi, produktivitas, dan pencapaian materi. Pendidikan sering di pandang sebagai investasi untuk mendapatkan keuntungan ekonomi di masa depan.
Dalam sistem saat ini, penilaian terhadap sesuatu didasarkan pada manfaat praktis dan keuntungan bukan pada kebaikan atau kebenaran moral. Akibatnya, nilai-nilai seperti kejujuran, empati atau tanggung jawab dianggap subjektif dan tidak terukur, sehingga terpinggirkan di bandingkan dengan nilai akademis atau teknis. Siswa di latih sebagai pemain ekonomi yang efisien bukan berfokus pada pelatihan akhlak terlebih dahulu.
Sekulerisme memisahkan pendidikan dari landasan yang kokoh, moralitas menjadi relatif dan fleksibel. Apa yang di anggap benar bisa berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kepentingan. Akibatnya, etika hanya menjadi pelajaran teori di kelas, bukan menjadi prinsip hidup yang dipegang teguh saat menghadapi tantangan.
Pendidikan diperlakukan seperti barang dagangan. Sekolah kerap kali di jadikan ladang bisnis dan siswa adalah konsumen, fokus beralih ke pelayanan fasilitas, reputasi, ijazah bukan pada pembentukan karakter. Moralitas seringkali hanya menjadi pemanis atau citra institusi, bukan substansi utama pendidikan.
Kontruksi islam:
Untuk menekan sistem sekuler kapitalistik sejatinya kita butuh penegakkan sistem islam, dalam pandangan islam perlindungan terhadap generasi merupakan bagian dari tujuan di syariat kan nya hukum islam, khususnya dalam aspek menjaga jiwa dan menjaga akal.
Islam memandang pendidikan bukan sekedar transfer ilmu pengetahuan, tetapi pembentukan syakhshiyah islam (kepribadian islam), di mana seseorang di tanamkan sejak dini kesadaran bahwa setiap perbuatan di awasi oleh allah. dengan ini, motivasi untuk tidak berperilaku buruk terhadap seseorang karena ketaatan kepada sang pencipta yakni allah SWT.
Kontruksi islam dalam pendidikan dengan mengembalikan pendidikan pada tujuan dasarnya yakni membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Dengan menempatkan nilai-nilai islam kaffah sebagai landasan, mengintegrasikan ilmu dan moral serta menekankan hubungan hubungan antara manusia dengan allah SWT sang pencipta, islam mampu mengatasi krisis moral yang muncul akibat sekuler-kapitalistik.
Islam menawarkan solusi yang komprehensif, mencegah dari dalam dan iman, membentengi dari samping dengan keluarga dan masyarakat, serta memutus jalur dari atas dengan kebijakan negara yang tegas dan berpihak pada moralitas.
Wallahu’alam.

No comments:
Post a Comment