Oleh. Ammylia Ummu Rabani
Komunitas Muslimah Peduli Umat
Penderitaan rakyat Gaza kembali menjadi sorotan dunia. Di tengah kondisi yang semakin memprihatinkan akibat agresi zionis Israel yang terus berlangsung, bantuan kemanusiaan yang hendak dikirim justru dihalangi dan dicegat di perairan internasional dekat Yunani. Ratusan aktivis ditangkap dan puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat tindakan represif militer zionis.
Peristiwa ini semakin memperlihatkan bahwa zionis tidak hanya menyerang Gaza dengan bom dan senjata, tetapi juga berusaha memutus seluruh akses kehidupan rakyat Palestina. Blokade yang berlangsung bertahun-tahun telah menjadikan Gaza seperti penjara terbuka terbesar di dunia. Masyarakat hidup dalam keterbatasan pangan, obat-obatan, listrik, hingga air bersih.
Krisis Kepemimpinan dan Sekat Nasionalisme
Ironisnya, tindakan brutal tersebut terus dilakukan di hadapan dunia internasional tanpa hukuman berarti. Zionis dengan mudah melanggar hukum internasional, bahkan menggunakan tuduhan “terorisme” untuk membenarkan agresi mereka. Label tersebut terus dipakai untuk membungkam perjuangan rakyat Palestina sekaligus menakut-nakuti masyarakat dunia agar tidak memberikan dukungan.
Lebih menyedihkan lagi, negeri-negeri Muslim belum menunjukkan kekuatan nyata untuk menghentikan penjajahan tersebut. Umat Islam yang jumlahnya mencapai dua miliar jiwa justru tercerai-berai dalam batas-batas nasionalisme. Setiap negeri sibuk menjaga kepentingan politik dan ekonominya sendiri, sementara Palestina terus berdarah. Padahal, penderitaan Gaza bukan sekadar persoalan kemanusiaan, melainkan persoalan kehormatan umat Islam secara keseluruhan.
Belajar dari Sejarah Kepemimpinan Islam
Fakta bahwa blokade terus berlangsung tanpa perlindungan nyata menunjukkan adanya krisis kepemimpinan di tubuh umat. Kita kehilangan institusi yang mampu menjadi pelindung dan pemersatu. Dalam sejarah, kaum Muslimin pernah hidup di bawah kepemimpinan Islam yang kuat sebagaimana pada masa Rasulullah ﷺ dan Khulafaur Rasyidin.
Rasulullah ﷺ bukan hanya seorang nabi, melainkan juga pemimpin negara yang melindungi umat dan menjaga kehormatan mereka. Ketika kaum Muslimin disakiti, negara hadir memberikan pembelaan. Begitu pula pada masa Khulafaur Rasyidin, persatuan umat di bawah satu kepemimpinan yang berlandaskan akidah Islam menjadikan kaum Muslimin disegani dan tidak mudah diintervensi oleh kekuatan asing.
Menuju Persatuan Hakiki
Berbeda dengan kondisi hari ini, umat Islam hidup terpecah dalam sistem sekuler kapitalistik yang memisahkan agama dari kehidupan. Nasionalisme menjadikan kaum Muslimin terkotak-kotak sehingga tidak memiliki satu komando untuk membela saudara mereka. Inilah sebabnya penjajahan terhadap Palestina terus terjadi tanpa penyelesaian yang hakiki.
Umat Islam tidak boleh hanya berhenti pada rasa sedih dan marah. Harus ada kesadaran akan pentingnya persatuan politik Islam yang menjadikan syariat sebagai dasar dalam mengatur kehidupan. Allah SWT berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS Ali ‘Imran: 103).
Ayat ini menegaskan bahwa persatuan di bawah aturan Allah SWT adalah sumber kekuatan. Sudah saatnya umat kembali menyadari pentingnya kepemimpinan Islam yang mampu menjadi pelindung dan perisai (junnah) bagi kaum Muslimin di seluruh dunia, agar tragedi di Gaza dan belahan bumi lainnya tidak terus berulang.
Wallahu a’lam bish-shawab
No comments:
Post a Comment