Oleh: Ummu Junnah
Praktisi Kesehatan
Akhir-akhir ini, Pemerintah Indonesia melempar wacana yang cukup menggelitik: menghapus jurusan kuliah yang dianggap 'kurang relevan' demi mengejar target pertumbuhan ekonomi. Pak Badri Munir Sukoco, Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek yang juga dosen Unair, bilang bahwa jurusan kuliah harusnya menyesuaikan diri dengan kebutuhan masa depan, yang katanya ya kebutuhan industri itu.
Tapi tentu saja, usulan ini nggak serta merta diterima bulat-bulat. Rektor UMM dan Unisma misalnya, dengan tegas menolak penutupan prodi yang dianggap kurang laku di pasar. Bagi mereka, kampus itu bukan pabrik pencetak pekerja. Rektor UMY juga punya pandangan lain: lebih baik kurikulumnya disesuaikan, daripada prodi-nya ditutup. Sementara Rektor UGM cenderung lebih fleksibel; katanya, kampusnya rutin nge-evaluasi prodi, dan terbuka soal opsi menutup, membuka, atau menggabungkan prodi.
Kebijakan yang mengarah ke 'penghapusan jurusan' ini sebenarnya cerminan dari cara pandang yang liberal-sekuler. Pendidikan tinggi jadi kayak produk yang harus laku di pasaran. Negara pun lepas tangan, tidak bertanggung jawab soal kebutuhan SDM yang sesungguhnya untuk melayani rakyat. Kebijakan yang lahir pun reaktif, kayak respon pada kepentingan yang lagi bersaing, bukan dari perencanaan yang matang.
Sebenarnya, gimana sih konstruksi pendidikan dalam Islam?
Dalam Islam justru negaralah yang punya panggilan untuk menentukan: ahli di bidang apa saja yang dibutuhkan untuk melayani urusan rakyat. Soalnya, tugas pokok negara dalam Islam itu adalah melayani rakyatnya. Dunia pendidikan, dari tingkat dasar sampai tinggi, adalah tanggung jawab langsung negara. Bukan cuma ngasih dana, tapi juga menentukan visi-misi, kurikulum, sampai pembiayaan untuk guru, dosen, dan sarana prasarana. Dan negara ini berjalan mandiri, nggak gampang ditekan kepentingan dalam atau luar negeri, karena sandarannya syariat.
Prinsip Dasar Pendidikan dalam Islam
Islam memandang pendidikan itu bukan sekadar cari kerja. Lebih dari itu, pendidikan adalah proses strategis untuk membangun peradaban. Ilmu itu adalah sarana buat mendekatkan diri kepada Allah, sekaligus buat memakmurkan bumi sesuai syariat.
Allah Swt. sendiri berfirman, "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS Al-'Alaq: 1). Lalu Rasulullah juga bersabda, "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim." (HR Ibnu Majah).
Dari dua dasar ini, jelas bahwa pendidikan dalam Islam itu punya tiga dimensi yang nyambung semua: dimensi spiritual (ruhiyyah), dimensi pemikiran (fikriyyah), dan dimensi praktik (amaliyyah) semuanya itu terikat akidah. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani pernah menjelaskan, tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah membentuk syakhsiyah Islamiyah, yaitu selarasnya pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiah) yang berlandaskan akidah Islam.
Lalu posisi negara di mana?
Dalam Islam, negara (dalam hal ini khilafah) punya peran sentral, bukan sekadar fasilitator. Negara adalah penanggung jawab utama. Rasulullah saw. bersabda, "Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya." (HR Bukhari dan Muslim).
Menurut Abu Yasin dalam kitab Strategi Pendidikan Negara Khilafah, sistem pendidikan di Khilafah disusun dari seperangkat hukum syara dan peraturan administrasi yang terkait pendidikan formal. Hukum-hukum syara ini bersumber dari akidah Islam dan punya dalil yang jelas, mulai dari materi pelajaran sampai soal pemisahan murid laki-laki dan perempuan.
Sementara peraturan administrasinya sendiri sifatnya mubah (boleh) selama jadi sarana yang efektif buat menjalankan sistem pendidikan. Karena ini soal duniawi, bisa dikembangkan dan diubah sesuai kebutuhan zaman. Bahkan, Islam juga memperbolehkan kita mengambil pengalaman, keahlian, dan teknologi dari bangsa lain yang hukumnya mubah, selama tidak bertentangan dengan syariat.
Sistem ini dirancang supaya bisa mencapai tujuan utama pendidikan dalam Khilafah: membangun kepribadian islami. Caranya? Lewat pembinaan, pengaturan, dan pengawasan terhadap kurikulum, pemilihan guru yang kompeten, sampai pemantauan prestasi anak didik. Negara juga akan melengkapi sekolah, akademi, dan universitas dengan fasilitas seperti laboratorium dan lain-lain. Hasilnya, lahir generasi yang optimis, kreatif, dan punya ide-ide brilian.
Jejak Sejarah yang Nyata
Sejarah sudah membuktikan. Pada abad ke-10, misalnya, di wilayah Khwarezm (sekarang Uzbekistan), lahir seorang anak jenius bernama Abu Rayhan al-Biruni. Kecil-kecil, dia udah suka banget sama ilmu. Langit malam dengan bintang-bintangnya bukan sekadar pemandangan, tapi teka-teki yang ingin dipecahkannya.
Al-Biruni tumbuh jadi ilmuwan yang menguasai banyak bidang: astronomi, matematika, geografi, fisika, farmasi, dan sejarah. Dia bukan cuma baca buku, tapi juga turun langsung meneliti, mengukur, dan mengamati fenomena alam. Salah satu prestasinya yang bikin saya kagum: dia bisa menghitung keliling bumi dengan akurasi luar biasa, tanpa satelit, tanpa teknologi modern! Hanya mengandalkan perhitungan matematika dan pengamatan dari puncak gunung. Hasilnya? Nyaris sama dengan hitungan ilmuwan modern berabad-abad kemudian.
Lalu ada juga Abu Kamil Syuja (abad 10 M), ahli matematika muslim terbesar di abad pertengahan. Meskipun, hidupnya nggak banyak diketahui, tapi lewat Leonard dari Pisa dan pengikutnya, dia berpengaruh besar terhadap perkembangan aljabar dan geometri di Eropa.
Lebih dari Sekadar Slogan
Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) itu jangan cuma dijadikan seremoni tahunan yang penuh slogan. Tapi harus jadi momentum untuk muhasabah, berkaca sejujur-jujurnya tentang arah pendidikan kita. Wajah suram yang mulai kelihatan itu sebenarnya peringatan: pendidikan kita lagi kehilangan ruh dan tujuannya.
Sudah saatnya kita ubah dari akar, bukan perbaikan kecil-kecilan. Agar pendidikan kembali ke fitrahnya: membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, dan tahu arah hidupnya.
Allah Swt. mengingatkan dalam QS Ar-Ra'd ayat 11, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri."
Makanya, perubahan pendidikan harus dimulai dari mengubah cara pandang. Dari sistem yang hanya mengejar target duniawi, menuju sistem yang membangun manusia utuh. Saatnya pendidikan jadi modal awal kebangkitan untuk melahirkan generasi yang nggak cuma cerdas otaknya, tapi juga beriman dan sanggup membawa negeri ini ke peradaban yang lebih mulia.
Wallahu a'lam bishshawwab

No comments:
Post a Comment