Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Adiksi Media Sosial, Merenggut Korban.

Wednesday, May 20, 2026 | Wednesday, May 20, 2026 WIB Last Updated 2026-05-20T04:39:09Z

Oleh Sintia 

Ibu Rumah Tangga


Dunia pendidikan Indonesia kembali berduka. Seorang siswa Taman Kanak-kanak (TK) dan siswa Sekolah Dasar (SD) Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, meninggal dunia. Kejadian naas ini terjadi diduga karena meniru aksi freestyle dari media sosial dan game online. (pontianak.tribunnews.com). 


Dari video yang beredar terlihat seorang anak melakukan gerakan ekstrim tanpa pengawasan yang bisa menyebabkan cedera pada tulang. Fomo terhadap sesuatu yang viral di Media Sosial tanpa pendampingan latihan oleh profesional sudah tentu menjadi kebahayaan. Media Sosial telah membawa penggunanya selalu terbawa arus konten yang viral tanpa keraguan. 


Agar kejadian ini tidak terulang, butuh peran orang tua, lingkungan dan negara. Orang tua sebagai pilar utama dalam kehidupan anak, sudah sepatutnya bisa memberi aturan mengenai penggunaan gadget. Mirisnya zaman ini orangtua akan bermudah-mudah memberikan gadget pada anak bahkan di usia dini. Dengan alasan supaya anak lebih anteng, anak mudah belajar, dan alasan lainnya. Gadget bisa menjadi pisau bermata dua, jika bukan kita yang dikendalikan maka  kita yang mengendalikan. semuanya bergantung pada kebijakan setiap orangtua. 


Lingkungan pun tidak jarang mendukung penggunaan gadget di usia dini. Anak-anak dapat dengan mudah kita temui memainkan gadget dengan temannya ketika bermain di luar rumah. Bahkan di rumah pun berlanjut terus sampai anak merasa cukup dengan layar birunya itu.  


Nalar anak yang belum sempurna menyebabkan mereka akan dengan mudah menyerap semua informasi yang tersaji. Pada usia pra membaca mereka lebih sering dipaparkan dengan short video yang menyebabkan dampak buruk. Rentang perhatian semakin pendek, penurunan daya ingat, resiko kesehatan mental, depresi dan kecemasan, menurunkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis (tentanganak.com).


Anak yang sudah bisa membaca memungkinkan mereka dengan mudah mencari apapun informasi yang mereka inginkan. Media sosialpun tidak dapat melacak informasi usia anak yang mengakses konten tersebut. Sedangkan data yang disajikan sangat beragam. Game online yang sudah merenggut dua korban ini dapat menjadi cermin dari lemahnya pengawasan orang tua, lingkungan bahkan negara terhadap konten konten yang dikonsumsi anak.


Orang tua sebagai pilar utama dalam pendidikan, diharapkan mampu hadir bukan hanya fisik tapi kasih sayang yang nyata. Orang tua harus mampu membekali anak anak mereka tentang hal hal yang baik dan menjadi filter terhadap informasi yang diakses oleh anak. Kita memang tidak bisa melakukan pengawasan selama 24 jam pada anak, sehingga menjadi penting adanya kontrol dari lingkungan yang juga merupakan  salah satu faktor yang mendukung tumbuh kembang anak.


Dalam islam, anak-anak yang belum baligh tidak dikenakan taklif hukum karena akalnya belum sempurna, hal ini selaras dengan apa yang sudah dijelaskan sebelumnya. Negara selaku pembuat kebijakan seharusnya mampu memfilter konten-konten yang bisa diakses oleh anak-anak. Hal ini bisa dilakukan dengan membuat kebijakan kebijakan untuk para penyedia konten digital agar lebih ketat dalam hal filtrasi konten konten di platform mereka. 


Negara juga perlu untuk memberikan edukasi yang berkelanjutan agar orang tua dan masyarakat semakin meningkat kesadarannya terkait pentingnya pengawasan terhadap penggunaan gadget di keluarga dan lingkungan sosial. Sinergi ketiganya sangat mampu untuk menjaga anak anak dari hal hal yang berbahaya bagi mereka. Dan mampu memaksimalkan potensi anak anak untuk Indonesia emas dan peradaban yang lebih cemerlang.


Wallahu A'lam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update