Oleh: Mei Widiati, M.Pd.
Gelombang urbanisasi pasca Lebaran kembali memuncak. Ribuan bahkan jutaan orang berbondong-bondong meninggalkan desa menuju kota, membawa harapan akan kehidupan yang lebih layak. Namun di balik arus manusia ini, tersimpan realitas pahit: desa bukan lagi tempat menjanjikan masa depan. Fenomena ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bukti konkret kegagalan sistem dalam mengelola pembangunan secara adil.
Fakta: Desa Ditinggalkan, Kota Kian Sesak
Setiap tahun, setelah Lebaran, kota-kota besar seperti Jakarta kembali dibanjiri pendatang baru. Mereka datang dengan harapan memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang lebih baik. Ini menegaskan adanya ketimpangan ekonomi yang nyata antara desa dan kota.
Dampaknya sangat jelas. Desa kehilangan generasi mudanya—tenaga produktif yang seharusnya menjadi tulang punggung pembangunan lokal. Sementara itu, kota justru terbebani oleh lonjakan populasi yang memicu pengangguran, kemiskinan, permukiman kumuh, hingga meningkatnya kriminalitas.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan kepadatan penduduk, tetapi mencerminkan distribusi pembangunan yang timpang.
Akar Masalah: Sekularisasi dan Kapitalisasi yang Melahirkan Ketimpangan
Masalah utama urbanisasi tidak bisa dilepaskan dari sistem sekuler-kapitalistik yang menjadi dasar pengelolaan negara saat ini.
Dalam kapitalisme, pembangunan tidak diarahkan untuk memenuhi kebutuhan seluruh rakyat, melainkan berorientasi pada keuntungan ekonomi. Akibatnya, wilayah yang dianggap potensial secara ekonomi—yakni kota—menjadi pusat pembangunan, sementara desa terpinggirkan.
Kebijakan anggaran pun cenderung kota-sentris. Infrastruktur, pendidikan, layanan kesehatan, hingga peluang kerja lebih banyak terkonsentrasi di perkotaan. Desa hanya mendapat porsi kecil yang seringkali tidak cukup untuk mendorong kemandirian ekonomi.
Lebih ironis lagi, berbagai program pemberdayaan desa seperti BUMDes atau koperasi desa kerap tidak berjalan optimal. Dalam banyak kasus, program tersebut justru menjadi proyek formalitas yang sarat kepentingan, bukan solusi substantif.
Inilah wajah sekularisasi: ketika agama dipisahkan dari kehidupan, kebijakan publik tidak lagi berlandaskan nilai keadilan hakiki, melainkan kepentingan pragmatis dan materialistik.
Solusi Islam: Membangun dari Akar, Menjamin hingga Individu
Islam menawarkan solusi yang tidak tambal sulam, melainkan menyentuh akar persoalan.
Pertama, dalam Islam, negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan dasar setiap individu, baik di desa maupun di kota. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa negara tidak boleh abai terhadap satu pun rakyatnya, di mana pun mereka berada.
Kedua, Islam mengatur distribusi kekayaan agar tidak menumpuk di wilayah atau kelompok tertentu. Allah SWT berfirman:
كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةًۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْ ۗ
“Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (TQS. Al-Hasyr: 7)
Prinsip ini menuntut negara untuk memastikan pembangunan merata, termasuk di desa-desa.
Ketiga, sektor pertanian sebagai basis ekonomi desa akan menjadi prioritas. Negara akan menyediakan sarana produksi, membuka akses lahan, serta memastikan distribusi hasil pertanian berjalan adil. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa saja yang menghidupkan tanah mati, maka tanah itu menjadi miliknya.” (HR. Tirmidzi)
Ini menunjukkan dorongan kuat Islam untuk menghidupkan sektor agraria dan memperkuat desa.
Keempat, dalam sistem Khilafah, pemimpin tidak hanya membuat kebijakan dari pusat, tetapi juga aktif mengawasi kondisi rakyat hingga ke pelosok. Sejarah mencatat bagaimana para khalifah turun langsung memastikan tidak ada rakyat yang terabaikan.
Khatimah: Urbanisasi Adalah Alarm, Bukan Sekadar Fenomena
Urbanisasi pasca Lebaran bukan sekadar pergerakan penduduk, melainkan alarm keras atas ketimpangan sistemik yang terus dibiarkan. Selama sistem sekuler-kapitalistik tetap menjadi fondasi, desa akan terus dikorbankan, dan kota akan terus menanggung beban sosial yang semakin berat.
Islam menawarkan jalan keluar yang menyeluruh: sistem yang menjamin keadilan distribusi, pemerataan pembangunan, dan tanggung jawab negara terhadap setiap individu. Tanpa perubahan mendasar menuju sistem yang adil, urbanisasi akan terus menjadi siklus tahunan—dan ketimpangan akan tetap menjadi luka yang tak kunjung sembuh.
Wallaahu a'lam bish-showab

No comments:
Post a Comment