Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Urbanisasi Pasca Lebaran: Cermin Ketimpangan Antara Desa dan Kota

Monday, April 13, 2026 | Monday, April 13, 2026 WIB Last Updated 2026-04-12T19:33:54Z



Oleh. Sinta Mustika Sari, S.E


Setiap tahun, setelah momen Lebaran telah usai, arus manusia dari desa menuju kota kembali menjadi fenomena yang tak terelakkan. Tradisi mudik yang seharusnya mempererat hubungan keluarga kini justru berakhir dengan gelombang urbanisasi besar-besaran. Fenomena ini bukan sekadar adanya pergerakan penduduk, melainkan sinyal kuat adanya persoalan mendasar dalam sistem ekonomi dan pembangunan negeri ini.


Dilansir dari metrotvnews.com melaporkan bahwa urbanisasi meningkat setelah Lebaran dan bahkan dinilai dapat mengancam perekonomian desa. Hal ini terjadi karena banyak masyarakat usia produktif memilih menetap di kota untuk mencari pekerjaan. Urbanisasi pasca Lebaran terus terjadi setiap tahunnya bahkan Kota tetap menjadi pusat tujuan utama dan desa berpotensi kehilangan tenaga produktif. Kota menghadapi tekanan akibat pertambahan penduduk hasil dari perpindahan tersebut. 


Melihat fakta tersebut, urbanisasi bukan sekadar pilihan bebas bagi masyarakat, melainkan cenderung menjadi salah satu langkah yang diambil karena dorongan situasi dan kondisi. Ketika kota terus menjadi tujuan utama, hal ini menunjukkan bahwa peluang ekonomi lebih banyak terpusat di sana. Sebaliknya, desa belum mampu menjadi tempat yang cukup menjanjikan bagi sebagian masyarakat untuk tetap bertahan. Dengan kata lain, urbanisasi mencerminkan adanya ketidakseimbangan yang dirasakan langsung oleh setiap masyarakat.


Jika kita cermati dari fakta yang ada, bahwa urbanisasi pasca Lebaran tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan bagaimana arah pembangunan berlangsung. Seperti kota yang terus menjadi magnet menunjukkan adanya pemusatan aktivitas ekonomi. Sementara itu, desa yang kehilangan tenaga produktif mengindikasikan bahwa peran desa dalam pembangunan belum optimal.


Selain itu kebijakan pengendalian urbanisasi oleh pemerintah daerah juga menunjukkan bahwa dampak urbanisasi sudah dirasakan secara nyata, terutama di wilayah perkotaan.dengan demikian, fenomena ini mengarah pada satu hal yaitu: pembangunan yang belum sepenuhnya merata antara desa dan kota.


Lantas dari permasalahan ini yang kian terus berulang sangat membutuhkan solusi yang bisa menyentuh seluruh akar persoalan. Dalam pandangan Islam, hal ini dapat diwujudkan melalui penerapan sistem Islam secara kaffah dalam naungan daulah Khilafah.


Pertama, negara akan memastikan pemenuhan kebutuhan setiap individu, baik di desa maupun di kota. Dengan demikian, tidak ada dorongan kuat bagi masyarakat untuk berpindah hanya demi mencari kebutuhan dasar.


Kedua, pembangunan dilakukan secara merata di seluruh wilayah. Negara tidak memusatkan pembangunan hanya di kota, tetapi juga memastikan desa berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya.


Ketiga, sektor pertanian sebagai basis kehidupan desa akan dikelola secara optimal sehingga mampu menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat desa.


Keempat, pemimpin (khalifah) bertanggung jawab langsung terhadap kondisi rakyatnya hingga ke pelosok wilayah, sehingga ketimpangan dapat diminimalkan.


Maka urbanisasi pasca Lebaran bukan sekadar fenomena tahunan, melainkan gambaran nyata ketimpangan antara desa dan kota yang masih terjadi. Selama ketidakseimbangan ini belum terselesaikan, arus urbanisasi akan terus berulang.


Hanya dengan Penerapan sistem Islam secara kaffahlah yang mampu menyelesaikan seluruh problematika urusan ummat. Dalam sistem Islam mampu menawarkan pendekatan yang berorientasi pada pemerataan kesejahteraan, sehingga baik desa maupun kota dapat berkembang secara seimbang. Wallahualam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update