Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Urbanisasi Meningkat Setelah Lebaran, Ancam Perekonomian Desa

Wednesday, April 08, 2026 | Wednesday, April 08, 2026 WIB

 



Oleh: Yuni Hidayati 


Satu tradisi yang tak pernah luput menjelang lebaran adalah "mudik" atau pulang kampung. Dimana perkotaan terasa longgar karena para perantau telah pulang ke kampung halamannya. Tidak hanya itu, untuk balik ke kota para perantau tak segan-segan untuk mengajak sanak saudara untuk sama-sama merantau ke kota. Karena merasa perekonomian dikota jauh lebih baik ketimbang di kampung.


Seperti yang telah diberitakan oleh METRO TV, di Jakarta, Jum'at 27 Maret 2026. Bahwa pada momen mudik lebaran 2026, angka arus balik di prediksi lebih besar dari pada arus mudik. Hal ini menunjukan bahwa urbanisasi masih dinikmati banyak penduduk pedesaan.


Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/ BKKBN, Bonivasius Prasetya Ichtiarto, mengatakan fenomena arus balik yang semakin ramai dari tahun ke tahun telah menjadi salah satu aspek penting dalam dinamika migrasi penduduk Indonesia. Bonivasius mengatakan,"masyarakat tidak hanya kembali ke kota setelah berlibur di desa, tetapi membawa keluarga, saudara, teman, bahkan keluarga besarnya untuk mencari peluang pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik di kawasan aglomerasi perkotaan."


Fenomena urbanisasi yang cepat justru semakin memperdalam kesenjangan antara dua wilayah ini. Kota-kota besar menjadi daya tarik bagi penduduk desa yang mencari pekerjaan dan kemajuan ekonomi. Namun, disisi lain desa telah kehilangan generasi mudanya.


Sesungguhnya kapitalisme menciptakan kesenjangan ekonomi antara kota dan desa. Dimana sistem kapitalisme cenderung mengalokasikan sumber daya ke tempat yang paling menguntungkan, yaitu kota.

Sementara program ekonomi untuk desa justru menjadi ajang bancakan proyek yang menguntungkan segelintir pihak.


Serba susah, karena banyak orang-orang yang urbanisasi ke kota untuk mencari kerja dan menciptakan hidup yang layak pun nyatanya tak semudah yang dibayangkan.


Bahkan banyak yang rela menjadi pengemis, pemulung, bahkan pekerjaan haram sekalipun agar bisa bertahan hidup di kota. Mirisnya, para penguasa tidak pernah benar-benar memikirkan hal itu. 


Dalam Islam, politik ekonomi mewujudkan pembangunan yang merata baik di kota maupun di desa. Karena adanya jaminan pemenuhan kebutuhan orang per orang. Dimana pun ada orang, akan dilakukan pembangunan ekonomi untuk melayani kebutuhannya. Negara akan menciptakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya yang membutuhkan. 


Dalam Islam, Khalifah atau pemimpin akan melakukan inspeksi sampai ke pelosok desa, sehingga tau betul kondisi dan kebutuhan rakyatnya. Sebagaimana Khalifah Umar bin Khattab yang rela patroli di malam hari untuk memastikan rakyatnya dalam keadaan aman, dan sejahtera. 


Wallahu a'lam bishawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update