Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tak Main-main, Limapuluh Kota Pacu 26 Dapur MBG Demi Generasi Bebas Stunting

Tuesday, April 21, 2026 | Tuesday, April 21, 2026 WIB Last Updated 2026-04-21T09:25:59Z

Nusantaranews.net, Limapuluh Kota — Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota tidak hanya mengejar target angka dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga memastikan pemerataan layanan hingga ke pelosok nagari. Melalui Dinas Pangan, pembangunan dan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kini difokuskan pada titik-titik strategis yang mampu menjangkau masyarakat secara luas.

Hingga April 2026, sebanyak 17 dapur MBG telah beroperasi. Namun, upaya percepatan terus dilakukan untuk mengejar target total 43 dapur yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten.

Kepala Dinas Pangan Kabupaten Limapuluh Kota, Hj. Yunire Yunirman, ST., M.Si., menyebutkan bahwa strategi utama yang diterapkan bukan sekadar menambah jumlah dapur, tetapi memastikan setiap titik benar-benar efektif menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

“Kita tidak ingin program ini hanya terpusat. Dapur MBG harus hadir hingga ke nagari-nagari, sehingga akses gizi benar-benar dirasakan merata oleh masyarakat,” ujar Yunire saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (21/4/2026).

Sejumlah dapur yang telah aktif saat ini ditempatkan di berbagai kecamatan, seperti Harau, Guguak, Mungka, Lareh Sago Halaban, hingga Kapur IX. Penentuan lokasi dilakukan dengan mempertimbangkan aksesibilitas, kepadatan penduduk, serta kebutuhan gizi masyarakat di wilayah tersebut.

Selain pemerataan, aspek pengawasan juga menjadi perhatian utama. Setiap dapur MBG dilengkapi penanggung jawab yang bertugas memastikan kualitas makanan, standar kebersihan, serta pemenuhan nilai gizi sesuai ketentuan.

“Ini bukan sekadar dapur biasa. Ada standar yang harus dijaga, mulai dari bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi. Semua kita awasi secara ketat,” tegasnya.

Dalam pelaksanaannya, Pemkab Limapuluh Kota juga mengedepankan kolaborasi dengan berbagai pihak. Sejumlah yayasan lokal turut dilibatkan, seperti Yayasan Kemala Bhayangkari, Yayasan Graha Berkah Mandiri, dan Yayasan Pondok Pesantren Arrisalah.

Kolaborasi ini dinilai menjadi kekuatan utama dalam mempercepat implementasi program sekaligus menjaga keberlanjutan operasional di lapangan.

Tak hanya berdampak pada kesehatan, program MBG juga dirancang untuk menggerakkan ekonomi lokal. Pemerintah daerah mendorong agar seluruh kebutuhan bahan baku dipasok dari petani, peternak, dan nelayan setempat.

Dengan pendekatan ini, perputaran ekonomi di daerah diharapkan semakin meningkat, seiring dengan meningkatnya kebutuhan pasokan untuk dapur-dapur MBG.

“Kita ingin program ini memberi efek luas. Bukan hanya anak-anak mendapatkan gizi, tetapi petani dan peternak juga merasakan manfaatnya,” tambah Yunire.

Saat ini, Pemkab Limapuluh Kota terus memacu pembangunan 26 dapur tersisa dengan tetap menjaga kualitas dan ketepatan sasaran. Pemerataan layanan menjadi prioritas utama agar tidak ada wilayah yang tertinggal dalam mendapatkan akses gizi.

Dengan kombinasi pemerataan, pengawasan ketat, dan kolaborasi lintas sektor, program MBG di Limapuluh Kota diharapkan menjadi fondasi kuat dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara berkelanjutan (R. Sitepu)

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update