Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Selat Hormus Membara: Arogansi Imperium Sekuler-Kapitalistik Terpukul

Thursday, April 02, 2026 | Thursday, April 02, 2026 WIB


Oleh: Mei Widiati,  M.Pd. 


Agresi militer Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Iran sejak akhir Februari 2026 kini memasuki fase panjang tanpa kepastian. Perang yang semula diprediksi singkat justru berubah menjadi konflik berkepanjangan. Iran tidak hanya membalas secara militer, tetapi menggunakan strategi perang asimetris dengan mengendalikan titik paling vital dunia: Selat Hormus.


Selat ini bukan jalur biasa. Sekitar 30% perdagangan minyak dunia dan 20% LNG global melintasinya. Ketika Iran mengontrol akses di wilayah ini, dampaknya langsung terasa secara global: distribusi energi tergangg, harga bahan bakar melonjak, rantai pasok tersendat, dan ekonomi dunia tertekan.


Bahkan negara yang tidak terlibat langsung, termasuk Indonesia, ikut merasakan dampaknya. Kapal tanker tertahan, distribusi energi terhambat, dan kekhawatiran krisis pasokan mulai mencuat.


Di sisi lain, Amerika sebagai kekuatan besar justru menghadapi tekanan internal: gelombang demonstrasi rakyat, turunnya tingkat kepercayaan publik, dan biaya perang yang membengkak.


Fakta ini menunjukkan bahwa dominasi militer tidak selalu berbanding lurus dengan kemenangan cepat. Dunia kini berada di ambang krisis yang lebih luas akibat konflik ini.


Akar Masalah: Sekulerisasi dan Kapitalisasi Global


Di balik konflik ini, terdapat akar persoalan yang jauh lebih mendasar, yaitu penerapan sistem sekuler-kapitalistik dalam kehidupan global.


1. Sekulerisasi: Agama Dipisahkan dari Politik


Sekulerisme menjadikan agama tidak lagi menjadi rujukan dalam mengatur negara. Akibatnya: kebijakan ditentukan oleh kepentingan bukan kebenaran, standar benar-salah menjadi relatif, dan kekuatan menjadi tolok ukur utama.


Dalam kondisi ini, agresi militer dianggap sah selama menguntungkan secara politik dan strategis.


Allah SWT berfirman:


ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ 


“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (TQS. Ar-Rum: 41)


Ayat ini menegaskan bahwa kerusakan global, termasuk perang, merupakan akibat manusia meninggalkan aturan Allah.


2. Kapitalisasi: Sumber Daya Jadi Objek Perebutan


Kapitalisme menjadikan sumber daya alam sebagai komoditas ekonomi yang diperebutkan. Selat Hormus bukan lagi jalur netral, tetapi: alat tekanan politik, kunci dominasi ekonomi global, dan objek perebutan kekuasaan.


Negara-negara besar berlomba mengamankan akses energi demi mempertahankan hegemoni. Perang pun menjadi alat legitimasi untuk menguasai jalur strategis tersebut.


3. Politik Kekuasaan: Perang sebagai Instrumen


Dalam sistem ini, perang bukan solusi terakhir, tetapi justru: alat menunjukkan kekuatan, sarana mempertahankan dominasi, dan bahkan cara mengalihkan krisis domestik.


Rakyat akhirnya menjadi korban, baik di negara yang diserang maupun negara penyerang.


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Imam adalah perisai, di mana orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Namun dalam sistem sekuler, pemimpin justru kehilangan fungsi sebagai pelindung dan berubah menjadi aktor konflik.


Solusi Islam: Sistem yang Menyatukan dan Menyelamatkan


Islam tidak hanya mengkritik, tetapi menawarkan solusi yang komprehensif dan mendasar.


1. Menghapus Sekulerisme, Menjadikan Wahyu sebagai Dasar


Dalam Islam, politik dan kekuasaan harus tunduk pada syariat. Kebijakan negara: tidak boleh didasarkan pada hawa nafsu, harus berorientasi pada keadilan dan kemaslahatan.


2. Pengelolaan Sumber Daya sebagai Milik Umum


Islam menetapkan bahwa energi adalah milik umat, bukan korporasi atau negara tertentu.


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api (energi).” (HR. Abu Dawud)


Dengan prinsip ini: tidak ada monopoli energi, tidak ada eksploitasi oleh kekuatan global, dan distribusi dilakukan secara adil. 


3. Persatuan Politik Umat dalam Satu Kepemimpinan


Islam mewajibkan persatuan umat di bawah satu kepemimpinan (Khilafah), sehingga: tidak mudah dipecah-belah, memiliki kekuatan geopolitik besar, dan mampu mengontrol jalur strategis dunia.


Allah SWT berfirman:


وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ


“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (TQS. Ali Imran: 103)


4. Politik Luar Negeri Berbasis Dakwah, Bukan Imperialisme


Islam tidak menjadikan perang sebagai alat ekspansi ekonomi, tetapi: menjaga keamanan, melindungi umat, dan menyebarkan keadilan.


Khatimah 


Krisis di Selat Hormus adalah bukti nyata kegagalan sistem sekuler-kapitalistik dalam mengelola dunia. Alih-alih membawa stabilitas, sistem ini justru melahirkan: konflik berkepanjangan, krisis energi global, dan penderitaan lintas bangsa.


Selama dunia masih tunduk pada sistem ini, maka perang demi perang akan terus berulang.


Hanya dengan kembali kepada sistem Islam secara kaffah—yang menjadikan wahyu sebagai dasar, menyatukan umat, dan mengelola sumber daya secara adil—dunia memiliki peluang untuk keluar dari jurang krisis menuju tatanan yang stabil, adil, dan penuh rahmat bagi seluruh alam. 


Wallaahu a'lam bish-showab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update