Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mudik yang Berulang: Korban Jiwa dan Kemacetan Sebagai Bukti Kegagalan Manajemen Negara dalam Kapitalisme

Saturday, April 04, 2026 | Saturday, April 04, 2026 WIB

 


 Oleh : Ummu Fatih (Pegiat Literasi)

 

        Setiap tahun, momen mudik dan balik Lebaran menjadi momen yang penuh dengan tantangan berat bagi masyarakat Indonesia. Sebagaimana dilaporkan oleh Metro TV News, pada periode mudik tahun lalu, sebanyak 190.000 kendaraan melintasi ruas jalan Nagreg-Nagrek di Jawa Barat, menyebabkan kemacetan mengular hingga 5 kilometer. Kondisi serupa juga terjadi di ruas jalan Gili Manuk yang dilansir oleh Suara.com, di mana kemacetan parah bahkan menelan korban jiwa sebagai akibat dari kondisi jalan yang tidak layak dan aliran kendaraan yang tidak terkendali. Selain kemacetan, kecelakaan menjadi momok yang selalu mengintai. Kumparan melaporkan terjadinya tabrakan antara bus dengan kendaraan LCGC di Tol Pejagan-Pemalang pada jalur one way mudik yang menewaskan 4 orang korban dan melukai beberapa orang lainnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa arus mudik bukan lagi sekadar perjalanan pulang kampung, tetapi telah menjadi peristiwa yang penuh dengan risiko dan ketidaknyamanan yang sangat tinggi.

         Salah satu aspek yang paling mengkhawatirkan adalah bahwa permasalahan kemacetan dan kecelakaan saat mudik bukanlah masalah baru, melainkan terus berulang setiap tahun tanpa ada tanda-tanda perbaikan yang signifikan. Data dari Korlantas yang dirilis melalui Kumparan  menunjukkan bahwa pada tahun 2026, jumlah kecelakaan saat mudik meningkat sebesar 12% dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun korban jiwa sedikit menurun dari 342 orang menjadi 318 orang. Dokumen yang diakses melalui Google Share juga mengkonfirmasi bahwa pola kemacetan dan kecelakaan yang sama terus berulang, dengan lokasi-lokasi rawan seperti Tol Cipali, Tol Pejagan-Pemalang, dan ruas jalan lintas Sumatera selalu menjadi titik masalah yang sama setiap tahunnya. Hal ini membuktikan bahwa upaya yang dilakukan selama ini hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar permasalahan, sehingga masalah terus muncul berulang kali.

       Dampak dari kemacetan dan kecelakaan saat mudik tidak hanya sebatas ketidaknyamanan dan kerugian materi, tetapi juga telah menelan korban jiwa yang tidak sedikit dari tahun ke tahun. Sejak lima tahun terakhir, berdasarkan data yang dikumpulkan dari berbagai sumber berita, total korban jiwa akibat kecelakaan saat mudik mencapai lebih dari 1.500 orang. Kasus tabrakan di Tol Pejagan-Pemalang yang menewaskan 4 orang adalah salah satu contoh nyata dari korban jiwa yang bisa dihindari. Selain itu, kemacetan yang berkepanjangan juga menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti serangan jantung pada beberapa pengemudi akibat stres dan kondisi cuaca yang panas, serta kelahiran prematur pada ibu hamil yang terjebak dalam kemacetan berjam-jam. Sebagaimana dikutip dari laporan Suara.com, kasus korban jiwa akibat kemacetan dan kecelakaan saat mudik menjadi bukti bahwa keselamatan masyarakat tidak mendapatkan prioritas yang tepat dalam manajemen perjalanan mudik.

         Upaya yang dilakukan pemerintah selama ini hanya bersifat teknis dan sementara, seperti penutupan jalur satu arah, penambahan pos pengamanan lalu lintas, dan penyebaran informasi kondisi jalan melalui aplikasi atau media massa. Namun, tidak ada upaya mendasar untuk mengubah sistem manajemen mudik yang sudah ketinggalan zaman. Pemerintah lebih fokus pada penyelesaian masalah secara sementara saat musim mudik tiba, bukan pada perbaikan struktural yang bisa mengatasi akar permasalahan.Lalu, banyak program yang diumumkan pemerintah untuk mengatasi kemacetan dan kecelakaan mudik justru menjadi proyek yang tidak efektif dan boros anggaran, tanpa memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak memiliki komitmen yang kuat untuk menyelesaikan masalah yang sudah berlangsung bertahun-tahun ini.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update