Ahlul Badrito Resha, S.H, M.M
Wakil Bupati Lima Puluh Kota
Pembangunan daerah kerap direduksi pada satu angka yang paling mudah dibaca, yaitu *pertumbuhan ekonomi*. Tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lima Puluh Kota tercatat 3,46 persen, menurun dari 4,03 persen pada tahun sebelumnya. Angka ini adalah fakta dan tidak boleh dianggap remeh.
Namun pembangunan tidak bisa dibaca dari satu angka semata. Ia harus dilihat sebagai gambaran utuh tentang arah, pilihan, dan dampaknya bagi masyarakat.
*Kue yang Membesar dan Cara Membaginya*
Dalam ekonomi, pertumbuhan sering dianalogikan sebagai *kue*. Semakin besar kue itu, semakin besar pula potensi kesejahteraan yang bisa dibagi.
Dalam konteks ini, penting dicatat bahwa kue ekonomi Lima Puluh Kota justru membesar. Nilai *PDRB meningkat* dari Rp20,89 triliun pada 2024 menjadi Rp22,48 triliun pada 2025. Aktivitas ekonomi tetap hidup. Produksi terus berjalan. Kapasitas ekonomi daerah bertambah. Jumlah masyarakat miskin juga turun dari 27.720 atau 6,92 % pada 2024 ke 24.610 atau 6,10% pada 2025. Yang berubah bukan arah pertumbuhan melainkan laju pertumbuhannya.
Ekonom peraih Nobel, _Joseph Stiglitz_ mengingatkan bahwa keberhasilan ekonomi tidak cukup diukur dari seberapa besar output yang dihasilkan, tetapi juga dari bagaimana hasil itu didistribusikan dan dirasakan oleh masyarakat luas.
Di sinilah relevan pertanyaan mendasar: apakah pembangunan hanya tentang memperbesar kue, atau juga tentang *membaginya secara adil?*
*Antara Kecepatan dan Keadilan*
Ada daerah yang mampu “memanggang kue” dengan sangat cepat. Namun kue itu hanya dinikmati oleh segelintir orang. Ketimpangan melebar, dan rasa keadilan menjadi rapuh.
Ada pula daerah yang memastikan bahwa setiap potongan kue, meskipun tidak selalu besar, dapat dirasakan oleh lebih banyak orang.
Lima Puluh Kota memilih jalan kedua. Pendekatan ini sejalan dengan mandat konstitusi dalam Pasal 33 UUD 1945 yang menegaskan bahwa perekonomian disusun untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Dengan *Gini Ratio 0,218* (lebih rendah dari rata-rata provinsi) kita melihat bahwa hasil pembangunan relatif lebih merata. Peringkat 2 pemerataan di Sumatera Barat. Tidak menumpuk pada kelompok tertentu, tetapi tersebar di tengah masyarakat.
Pemikiran ini sejalan dengan _Amartya Sen_ yang menekankan bahwa pembangunan sejati adalah perluasan kesejahteraan yang nyata dalam kehidupan masyarakat, bukan sekadar peningkatan angka-angka ekonomi.
*Menghindari Ilusi Pertumbuhan Tinggi*
Pertumbuhan tinggi sering kali tampak menjanjikan. Namun tidak jarang menyimpan persoalan laten yaitu *ketimpangan yang melebar, konsentrasi ekonomi, dan ketidakseimbangan antar kelompok.*
Sejarah pembangunan di banyak tempat menunjukkan bahwa pertumbuhan yang tidak inklusif justru melahirkan kerentanan sosial baru.
Perlu diperhatikan bahwa setiap pertumbuhan sekecil apa pun sepatutnya memiliki makna yang lebih luas. Bahwa pembangunan tidak hanya menciptakan angka tetapi juga memperkuat keadilan sosial.
*Fondasi untuk Pertumbuhan yang Lebih Berkualitas*
Perlambatan yang terjadi hari ini harus dimaknai sebagai fase konsolidasi. Sebuah tahap untuk memperkuat fondasi ekonomi daerah agar ke depan tidak hanya tumbuh, tetapi tumbuh dengan kualitas yang lebih baik.
Perlu didorong lagi penguatan ekonomi nagari, peningkatan kapasitas UMKM, hilirisasi sektor pertanian, serta perluasan akses pasar melalui digitalisasi.
Langkah-langkah ini mungkin tidak menghasilkan lonjakan instan, tetapi akan menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
*Menata Arah, Bukan Sekadar Mengejar Angka*
Masyarakat menginginkan kemajuan yang lebih cepat. Harapan itu dapat menjadi energi untuk terus bekerja lebih baik.
Namun, diperlukan juga pemahaman yang tidak parsial bahwa pembangunan bukan sekadar soal kecepatan tetapi juga soal arah.
Apakah kita ingin kue yang cepat membesar tetapi hanya dinikmati sebagian kecil? Atau kue yang tumbuh dengan lebih terukur, namun dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat?
*Penutup: Bertumbuh Bersama*
Lima Puluh Kota hari ini mungkin tidak mencatat pertumbuhan tertinggi. Namun pertumbuhan yang ada adalah pertumbuhan yang tidak meninggalkan siapa pun di belakang. Lima Puluh Kota tidak sedang memperlambat langkah tetapi sedang memastikan bahwa setiap langkah membawa lebih banyak orang ikut maju.
Sebagaimana diingatkan para pemikir ekonomi, keberhasilan pembangunan tidak berhenti pada besarnya angka, tetapi pada keadilan dalam hasilnya.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan hanya seberapa besar kue yang kita miliki, tetapi seberapa adil kue itu dibagikan. (***)

No comments:
Post a Comment