(Founder Rumah Baca Cahaya Ilmu)
Setiap tanggal 21 April, kita selalu mengadakan seremonial untuk mengenang sosok RA Kartini.
Seorang ibu yang memiliki cita-cita mulia untuk mengeluarkan para wanita dari belenggu pingitan pemikiran.
Tujuannya bukan semata-mata menyetarakan posisi laki-laki dengan perempuan, namun menekankan peran penting seorang ibu untuk mendidik anak-anaknya, seperti yang tersirat dalam surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya yang dikirim pada 4 Oktober 1902.
Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, namun sebuah usaha untuk memperhalus budi pekerti dan penanaman karakter yang kuat. Puluhan tahun silam RA Kartini mengawali perjuangan untuk membuka pandangan para ibu, membawa mereka dari "kegelapan" menuju cahaya. Melalui kegigihannya cita-cita mulia tersebut bisa terealisasi. Banyak wanita yang mengenyam pendidikan tinggi sehingga bisa dijadikan bekal untuk mendidik anak-anaknya.
Puluhan tahun berlalu, era berganti. Saat ini tantangan yang dihadapi kaum ibu bukan lagi masalah buta aksara, namun kecanggihan teknologi yang dikuti dengan banjir informasi. Sebuah fenomena yang menjadi tantangan besar dalam mendidik anak-anak. Standar nilai pun ikut berubah. Tanpa disadari idealisme seorang ibu ikut tergerus. Patokan mendidik anak tidak lagi menggunakan pakem yang ada sesuai dengan tuntunan Rasulullah, namun menggunakan idealisme dunia maya.
Maka tidak heran jika banyak anak yang menjadi korban ambisi ibunya demi mengikuti standar media sosial yang konon katanya update.
Dalam kaca mata Islam, ibu merupakan madrasatul ula, sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Namun, kita sering lupa, fungsi madrasah bukan hanya tempat ujian dan pemberian nilai, melainkan tempat bimbingan yang penuh kasih sayang dan keteladanan. Sebagaimana
Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan. Allah memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan kepada kekasaran." (HR. Muslim).
Di era kecanggihan teknologi, komunikasi ibu dan anak sering mengalami perbedaan persepsi. Bahkan tidak jarang, sebagai ibu kita lebih sering menekan psikologis anak lewat larangan tanpa penjelasan, atau bahkan penghakiman tanpa dasar, hanya karena anak-anak tidak sesempurna sosok yang ibu lihat di media sosial.
Mendidik tanpa menghakimi, berarti sebagai ibu kita menerima fitrah anak sebagai manusia yang masih dalam tahap berproses dan boleh melakukan kesalahan. Islam mengajarkan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Maka sudah menjadi tugas orang tua untuk menjaga fitrah tersebut agar tetap bersih. Bukan justru memadamkannya dengan berbagai label negatif, seperti anak nakal, anak malas, dan kata negatif lainnya yang justru mematikan fitrah mereka.
Alih-alih mendidik dengan kasih, saat ini ibu penuh sering memberikan beban berat di bahu anak-anak. Tuntutan agar mereka menjadi anak yang pintar, berprestasi cemerlang, fasih bahasa asing sebenarnya hanya untuk kepuasan sesaat sang ibu. Tanpa disadari, anak dipaksa menjadi objek validasi ibunya. Jika anak gagal atau tidak sesuai harapan, ibu cenderung merasa malu dan akhirnya menghakimi sang anak. Terlihat sederhana namun fatal akibatnya. Karena lambat laun justru akan mematikan potensi anak.
Padahal jika ingin meneladani perjuangan RA Kartini, kita harus memahami makna emansipasi dalam arti yang lebih luas. Emansipasi tidak lagi dimaknai dengan posisi yang setara dengan laki-laki, namun juga berarti bahwa perempuan merdeka dari tekanan sosial, mampu melindungi martabat keluarganya, termasuk menjaga fitrah anak-anaknya.
Bahkan Al-Qur'an, sudah memberikan contoh secara langsung dengan mengabadikan pola pendidikan Luqman al-Hakim kepada anaknya. Sungguh kisah mulia, dari sana kita bisa mengambil ibrah. Bagaimana seorang ayah Luqman memanggil anaknya dengan panggilan yang lembut. Ya Bunayya "( wahai anakku tersayang). Sebuah panggilan yang penuh kasih sayang dan cinta, jauh dari makian dan penghakiman.
Di era digital seperti saat ini, kita perlu tabbayun sebelum menghakimi anak. Kita harus memastikan bahwa orang tua khususnya ibu adalah sahabat bagi anak-anaknya. Sebagai teman diskusi yang setara, sebagaimana dulu RA Kartini berdiskusi dengan teman-temannya di Belanda melalui surat.
Hari Kartini seharusnya bisa kita jadikan momentum untuk membawa pada satu kesadaran bahwa seorang ibu yang tidak mudah menghakimi akan menciptakan rumah yang menjadi baiti jannati, tempat pulang yang teduh. Sehingga, anak merasa aman untuk bercerita, tanpa ditakut dicela dan dihakimi.
Kecanggihan teknologi memang seperti dua sisi mata pisau. Di satu sisi Kita bisa manfaatkan sebagai alat (wasilah) untuk mendidik putar-putri kita. Namun jika tidak hati-hati bisa menjadi bumerang, bisa merenggangkan hubungan ibu dan anak.
Sebagai ibu, sudah seharusnya kita berusaha menjadi rumah teduh, tempat yang nyaman untuk pulang. Tempat anak-anak melepas penat, dari segala keriuhan dunia.
Wallahu a'lam bishawab

No comments:
Post a Comment