Oleh. Nanih NurjanahKomunitas Muslimah Coblong
Lebih dari 2,4 juta warga Palestina di Jalur Gaza merayakan Hari Raya Idul Fitri 1447 H di tengah krisis kemanusiaan yang parah. Mirisnya, pada Idul Fitri tahun ini, tentara zionis justru melarang jemaah untuk melaksanakan salat Id di Masjidilaqsa.
Serangan Israel yang masih berlangsung tidak menyisakan ruang untuk perayaan. Kantor berita Anadolu melaporkan pada Minggu (30/3/2025), perayaan yang biasa dilakukan seperti berbagi manisan, memberi hadiah kepada anak-anak, dan berkumpul di alun-alun, kini tiada. Di Kota Gaza, ribuan orang terpaksa salat di dalam Masjid Agung Omari yang hancur sebagian. Di Khan Younis, warga pengungsi beribadah di tempat penampungan sementara. Di Gaza Tengah, ribuan orang berkumpul di dekat reruntuhan Masjid Al-Qassam di kamp pengungsi Nuseirat.
Kondisi Umat di Tengah Geopolitik Global
Ramadan dan Idul Fitri tahun ini dijalani di tengah situasi politik global yang terus memanas. Masjidilaqsa ditutup hingga jemaah terpaksa beribadah di jalanan. Pihak zionis tampak memanfaatkan ketegangan regional untuk memperketat pengepungan dan menggencarkan serangan, menyebabkan warga sipil kesulitan mendapatkan pasokan pangan, bahan bakar, serta bantuan kemanusiaan.
Alih-alih meraih kebangkitan, kondisi umat Islam saat ini justru masih jauh dari ideal. Mereka terpecah-belah di bawah bendera nasionalisme buatan penjajah. Sebagian penguasa bahkan tampak tunduk pada kebijakan negara penjajah demi kelangsungan kekuasaan dan dinastinya, tanpa peduli sesama Muslim dibantai habis-habisan. Posisi politik umat tetap lemah meskipun jumlahnya mencapai dua miliar jiwa.
Ramadan sebagai Momentum Perubahan Ideologis
Padahal, Allah SWT telah memberikan predikat sebagai sebaik-baik umat yang mampu memimpin dunia. Umat Islam dianugerahi potensi besar berupa sumber daya manusia, kekayaan alam yang melimpah, serta posisi geopolitik yang strategis. Potensi ini hanya akan maksimal jika Islam diposisikan sebagai ideologi kehidupan.
Sejarah menunjukkan bahwa kebangkitan umat di masa lalu adalah dampak penerapan Islam secara kaffah di bawah sistem kepemimpinan Islam (Khilafah) sebagai manifestasi ketakwaan kolektif. Momentum Ramadan dan Idul Fitri seharusnya bukan sekadar ritual individu, melainkan sarana membangun ketakwaan yang mendorong perubahan sistemik.
Rasulullah SAW meneladankan Ramadan sebagai bulan perjuangan. Banyak kemenangan besar seperti Perang Badar, Fathu Makkah, hingga penaklukan Al-Quds terjadi pada bulan suci ini. Namun, semua itu terwujud saat umat hidup di bawah satu kepemimpinan yang menerapkan aturan Islam secara utuh.
Menuju Kemenangan yang Hakiki
Oleh karena itu, ada urgensi untuk membangun kembali kesadaran bahwa Islam adalah agama politik-spiritual yang mengurusi seluruh aspek kehidupan. Perubahan mendasar diperlukan, yakni beralih dari sistem kepemimpinan yang penuh kerusakan menuju sistem kepemimpinan Islam yang mampu menjadi junnah (perisai).
Tanpa institusi yang menyatukan, umat Islam akan terus menjadi korban konspirasi internasional. Perjuangan ini membutuhkan kesungguhan dalam melakukan perang pemikiran (ghazwul fikri) untuk menyingkap strategi musuh. Idul Fitri semestinya menjadi titik tolak untuk mengonsolidasikan kekuatan umat guna meraih kemenangan nyata.
Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa adalah perisai. Maka jangan berkata kotor dan jangan berbuat bodoh...” (HR Bukhari dan Muslim).
Beliau juga bersabda:
“Sesungguhnya imam (khalifah) adalah perisai yang orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung...” (HR Muslim).
Wallahu a’lam bish-shawabi

No comments:
Post a Comment