Oleh Ummu Laila
Aktivis Dakwah
Idul Fitri selalu identik dengan
kegembiraan. Takbir berkumandang, keluarga berkumpul, dan umat Islam merayakan
kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Namun di Gaza, Idul Fitri kembali
datang dalam suasana yang jauh dari kebahagiaan. Takbir tetap berkumandang,
tetapi bergema di antara puing-puing bangunan yang hancur dan tenda-tenda
pengungsian yang berdiri seadanya.
Faktanya, warga Gaza merayakan Idul
Fitri di tengah reruntuhan gedung dan tenda darurat. Banyak masjid, rumah, dan
fasilitas publik yang luluh lantak akibat serangan berkepanjangan. Anak-anak
yang seharusnya mengenakan pakaian baru dan merasakan kegembiraan hari raya
justru harus menghadapi trauma, kehilangan orang tua, dan hidup dalam
keterbatasan pangan serta air bersih. Idul Fitri yang seharusnya menjadi
momentum kebahagiaan berubah menjadi hari yang dipenuhi kenangan pahit dan duka
yang mendalam.
Nestapa yang menimpa warga Gaza pun
seolah tak berujung. Setiap hari dunia disuguhi kabar korban jiwa, kehancuran
infrastruktur, dan penderitaan yang terus berulang. Namun, di balik tragedi
kemanusiaan yang begitu nyata, perhatian dunia kerap beralih pada dinamika
politik global yang lain. Gaza seakan menjadi luka yang perlahan dilupakan.
Dalam konteks geopolitik saat ini,
derita warga Gaza bahkan makin terpinggirkan ketika perhatian Amerika Serikat
dan Israel tersedot pada upaya menghadapi Iran. Ketegangan yang meningkat di
kawasan membuat fokus politik dan militer mereka bergeser. Di tengah rivalitas
tersebut, tragedi kemanusiaan di Gaza tak lagi menjadi sorotan utama.
Penderitaan rakyat sipil seolah menjadi isu pinggiran dalam permainan kekuatan
global.
Ironinya, sebagian negara Arab di
kawasan Teluk justru memilih bersekutu dengan negara-negara Barat dalam
menghadapi Iran. Alih-alih menjadikan pembebasan Palestina sebagai prioritas
bersama, orientasi politik mereka lebih diarahkan pada kepentingan geopolitik
dan keamanan kawasan versi mereka sendiri. Realitas ini semakin memperlihatkan
betapa penderitaan rakyat Gaza sering kali kalah oleh kepentingan politik yang
lebih besar.
Padahal, Idul Fitri seharusnya
menjadi momen refleksi bagi seluruh umat Islam. Dalam ajaran Islam, kaum
muslimin digambarkan seperti satu tubuh. Ketika satu bagian tubuh sakit, maka
seluruh tubuh akan merasakan penderitaan yang sama. Artinya, nestapa yang
dirasakan warga Gaza semestinya juga menjadi duka bagi seluruh kaum muslimin di
berbagai penjuru dunia. Idul Fitri tidak hanya menjadi perayaan kemenangan
spiritual, tetapi juga pengingat kuat tentang pentingnya solidaritas dan
kepedulian terhadap sesama.
Sayangnya, dalam realitas politik
global, nasib perdamaian dan kemerdekaan Palestina tidak pernah benar-benar
menjadi prioritas bagi Amerika Serikat dan Israel. Kedua negara ini lebih
berkepentingan menjaga hegemoni dan pengaruh kekuasaan mereka di kawasan dan
dunia. Konflik Palestina kerap diperlakukan sebagai bagian dari strategi
geopolitik, bukan sebagai tragedi kemanusiaan yang menuntut penyelesaian adil.
Di tengah situasi tersebut, umat
Islam sebenarnya telah memiliki pedoman yang jelas. Al-Qur’an menggambarkan
karakter kaum mukmin sebagai orang-orang yang berkasih sayang terhadap sesama
muslim dan tegas terhadap orang-orang kafir yang memusuhi mereka. Allah SWT
berfirman, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama
dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang
sesama mereka” (QS. Al-Fath: 29).
Nilai inilah yang semestinya menjadi
landasan sikap umat Islam dalam menyikapi penderitaan saudara seiman. Ukhuwah
Islamiyah bukan sekadar slogan emosional, melainkan ikatan akidah yang
menghubungkan kaum muslimin di seluruh dunia. Ikatan ini seharusnya melahirkan
solidaritas nyata untuk membela dan membebaskan kaum muslimin yang tertindas,
termasuk rakyat Palestina.
Lebih dari itu, Al-Qur’an juga
memerintahkan kaum mukmin untuk berjihad menghadapi pihak-pihak yang memusuhi
mereka. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Perangilah
orang-orang kafir yang ada di sekitar kamu, dan hendaklah mereka merasakan
ketegasan darimu…” (QS. At-Taubah: 123). Ayat ini menegaskan bahwa umat
Islam tidak boleh bersikap pasif ketika kezaliman terjadi terhadap kaum
muslimin.
.jpeg)
No comments:
Post a Comment