Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ibroh Perang AS-Iran dan Urgensi Kesatuan Kepemimpinan

Wednesday, April 15, 2026 | Wednesday, April 15, 2026 WIB Last Updated 2026-04-15T07:22:40Z

Oleh. Septa Anitawati, S.I.P. (Alumni Fisipol UGM)

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kian memanas. Menyusul perundingan damai antara kedua negara di Pakistan gagal mencapai kesepakatan. Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberlakukan blokade di Selat Hormuz, langkah yang langsung memicu lonjakan harga minyak dunia kembali menembus US$100 per barel.

Ghalibaf menegaskan bahwa ancaman terbaru Trump tidak akan berpengaruh terhadap Iran.

“Jika Anda berperang, kami akan berperang … Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun,” tegasnya. Diberitakan oleh mediaindonesia.com 13/4/2026.

Realitas tersebut menunjukkan empat hal penting dalam perang AS-Iran.

Pertama, AS tidak mudah mengalahkan Iran. Padahal hanya satu negeri muslim.

Kedua, AS tidak bisa memaksa negara sekutunya untuk ikut terlibat langsung perang dengan Iran. 

Berdasarkan perkembangan geopolitik terkini (per Maret-April 2026). Sekutu AS, khususnya di Eropa dan beberapa wilayah, menunjukkan keengganan untuk bergabung dalam operasi militer langsung.

Ketiga, beberapa penguasa muslim bersekutu dengan AS. Berdasarkan informasi terbaru hingga awal 2026. Hubungan antara para penguasa negeri muslim dan AS ditandai dengan aliansi strategis. Terutama dalam konteks keamanan regional, ekonomi, dan upaya resolusi konflik di Timur Tengah. Beberapa negara mayoritas Muslim yang dikenal sebagai sekutu dekat AS antara lain Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Yordania, Mesir, Turki, Qatar, Pakistan, dan Indonesia.

Keempat, ada 10 poin Iran syarat gencatan senjata dengan AS.

Iran merilis 10 poin syarat gencatan senjata dengan AS, mencakup penghentian perang di Irak, Lebanon, dan Yaman. Pembebasan dana yang dibekukan. Pencabutan sanksi, kebebasan navigasi di Selat Hormuz, dan jaminan keamanan tanpa agresi. Guna mencapai gencatan senjata permanen. 

Analisis Problematis

Jika dianalisis, setidaknya ada empat pelajaran penting dalam perang AS-Iran. 

Pertama, AS dengan sekutunya, Israel. Tidak sekuat yang dibayangkan dunia sebagai negara adikuasa. Bahkan ketika AS melakukan serangan. Justru menjadi bumerang bagi negaranya sendiri. Sementara Iran membuktikan keberanian melawan AS. 

Kedua, tidak ada negara yang bersekutu secara permanen. Kecuali ada kepentingan tertentu. Dan perang AS-Iran menjadi bukti. 

Ketiga, pengkhianatan para penguasa negeri muslim. Melemahkan kesatuan umat. Betapa para penguasa negeri-negeri muslim lebih takut dengan AS dibandingkan ketakutannya kepada Allah Swt. Ketika bersekutu dengan musuh kaum muslimin. 

Keempat, potensi kesatuan negeri-negeri muslim. Bisa menjadi kekuatan global baru. Satu saja seperti Iran, bisa melawan kekuatan global. Apalagi jika negeri-negeri musim bersatu. Mulai dari kekuatan militernya sampai ruh jihad dan jumlah personelnya. 

Solusi Konstruktif dan Komprehensif

Dari analisis terhadap realita di atas, ada empat solusi yang ditawarkan. 

Pertama, membangun kesadaran umat. Bahwa kesatuan negeri muslim sangat urgen. Kesadaran ini meniscayakan juga pemahaman terhadap pemecah belah kesatuan. Yakni nation state dan nasionalisme. By design dari musuh-musuh kaum muslimin melalui perjanjian rahasia. Yakni perjanjian Sykes-Picot. Sehingga kaum muslimin tersekat dan terpecah-belah menjadi lebih dari 50 pemimpin. Padahal Rasulullah SAW bersabda, "Jika dibaiat dua khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya" (HR. Muslim). 

Kedua, kesatuan negeri muslim yang diikat dalam institusi politik Khilafah Islam. Berasaskan akidah IsIam. Konstitusi negaranya adalah Al-quran dan As-sunnah. Akan mampu mengalahkan hegemoni negara adidaya kafir. Bisa dihitung dari kekuatan ruh jihadnya, jumlah tentaranya, militer, alutsista, dll. Menjadi kekuatan nyata dalam menghadapi hegemoni adidaya. 

Ketiga, negara Khilafah Islam merupakan kepemimpinan umat IsIam sedunia. Menjadi pelindung yang akan membebaskan penderitaan negeri-negeri muslim yang terjajah. Baik terjajah secara fisik maupun pemikiran. 

Keempat, Khilafah Islam dengan dakwah dan jihad akan membawa rahmat bagi dunia. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-quran surat Al-Anbiya ayat 107

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

Artinya, dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Demikianlah ketika kesatuan kepemimpinan umat terwujud. Maka IsIam sebagai rahmat bagi semesta alam pun terealisasikan. Kasih sayang Allah Swt. tidak hanya bagi umat IsIam. Namun berlaku bagi seluruh manusia. Bahkan meliputi semesta alam. Karena seluruhnya dikelola dengan tatanan kehidupan IsIam. Saatnya mengakhiri hegemoni adidaya yang mendzalimi seluruh dunia. Berganti dengan kepemimpinan global yang diridhoi Allah Swt. 

Wallahu a'lam bishawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update