Oleh Umi Lia
Member Akademi Menulis Kreatif
Iran pantas berbangga karena mampu bertahan hingga saat ini dari serangàn AS dan Israel. Mohammad Boroujerdi, Duta Besar Iran untuk Indonesia menyatakan bahwa target Amerika meleset. Tadinya ingin melumpuhkan dengan cepat termasuk dengan membunuh Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei. Namun akhirnya negeri Paman Sam ini terpaksa menerima 10 kerangka tuntutan gencatan senjata yang disodorkan pemerintah Khamenei sebagai acuan dalam negosiasi. Kesuksesan mengimbangi serangan-serangan AS menjadi modal dalam menaikan daya tawar Teheran dalam perundingan. Selama perang berlangsung tentara Iran berhasil menghancurkan 17 pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk, melumpuhkan sistem pertahanan udara Zionis dan meluluh-lantahkan kota-kota di Israel. (MediaIndonesia.com, 12/4/2026)
Di tengah eskalasi perangnya dengan Iran, AS mengajak negara-negara Eropa untuk membantunya. Namun tidak ada satu pun yang menyambut ajakannya tersebut. Menteri Pertahanan Amerika, Pete Hegseth dengan terus terang mengatakan bahwa sekutu tradisionalnya ragu-ragu dalam penggunaan kekuatan. Trump kecewa atas sikap PM Inggris, Keir Starmer yang memblokir penggunaan pangkalan militernya. Pada umummya negara-negara di Eropa tidak membantu AS karena perang ini tidak berdasar dan melanggar hukum internasional.
Sebaliknya negara-negara muslim yang ada di Timur Tengah berdiri di sisi AS dalam melawan Iran. Awalnya Arab Saudi, UEA, Qatar dan Kuwait tidak setuju perang, tapi ketika negara-negara Teluk terkena rudal Iran di bandaranya, kilang minyaknya, pelabuhannya serta Selat Hormuz juga terganggu, mereka akhirnya mendukung Amerika. Mereka membuka wilayah dan langitnya untuk AS serta memberi bantuan logistik. Kemudian menuntut negeri Paman Sam ini, untuk bisa melumpuhkan rudal dan drone Iran secara permanen dan membuka Selat Hormuz yang dijadikan sebagai sandera ekonomi global.
Walaupun sendirian tanpa bantuan negara-negara muslim lainnya, Iran bisa bertahan dan akhirnya mempunyai posisi tawar di hadapan AS. Dengan begitu Teheran bisa mengajukan 10 poin tuntutan yang menjadi syarat diadakannya perundingan. 10 klausul tersebut secara garis besar adalah: Tuntutan agar AS dan Israel tidak menyerang wilayah Iran dengan fasilitas nuklirnya. Menuntut pencabutan sanksi ekonomi, mengakui kendali Iran di Selat Hormuz, meminta ganti rugi akibat serangan AS dan Israel ke sembilan ribu lebih target di Iran dan meminta pertanggungjawaban politik AS atas meninggalnya pimpinan tertinggi Ali Khamenei, menghentikan serangan kepada proksi Iran di empat negara Teluk, pembatasan aktivitas pangkalan AS di enam negara Timur Tengah dan Amerika harus berkomitmen untuk tidak menggulingkan pemerintahan Iran. Perundingan belum final dan AS sendiri mempunyai daftar gugatan yang ingin dipenuhi pihak Iran.
Perang masih berlangsung sudah lebih dari sebulan, meski awalnya Trump mengklaim bisa melumpuhkan Iran dalam beberapa hari. Namun fakta yang terjadi klaim tersebut keliru dan karena terdesak Presiden Amerika ini meminta bantuan kepada sekutunya di Eropa dan NATO. Selain itu dia memohon juga kepada Cina, Australia dan Jepang untuk mengamankan pelayaran di Selat Hormuz. Permintaan ini menunjukkan bahwa AS dan Israel tidak sekuat yang dimitoskan. Mengajak negara lain untuk memerangi Iran bertentangan dengan klaimnya sendiri yang sesumbar akan mengalahkan negeri para mullah ini dalam waktu singkat. Realitas ini meruntuhkan keadikuasaan Amerika yang selama ini dipercaya dunia. Hanya Iran yang berani membuktikan keroposnya negara sombong tersebut.
Sebelum tahun 1979, Iran adalah negara satelit AS. Setelah diboikot selama 40 tahun para pemimpinnya pasca revolusi tidak mau tunduk menjadi negara agen yang melayani kepentingan Amerika. Selain itu Eropa juga terlihat ragu untuk bersekutu dengan kepemimpinan Trump dalam menjaga navigasi mereka di perairan Teluk. Realitas ini membuktikan bahwa tidak ada kawan abadi atau persekutuan permanen. Semua ditentukan oleh ada atau tidaknya kepentingan. Jadi kawan boleh, jadi lawan pun tidak masalah asal menguntungkan.
Alasan kepentingan inilah yang membuat posisi para penguasa negara-negara Arab menjadi dilematis. Mereka takut kehilangan kekuasaan jika tidak mendukung serangan AS dan Israel ke Iran. Kedudukan mereka terancam seperti yang terjadi pada Presiden Mursi di Mesir atau Maduro di Venezuela. Namun perang ini memunculkan kekecewaan di antara para pemimpin Timur Tengah. Bagaimana tidak, pangkalan militer Amerika yang diharapkan mengamankan mereka justru menjadi target serangan Iran. Sehingga akhirnya ada langkah-langkah diplomasi rahasia dengan pemerintah Iran untuk membatasi serangan. Harusnya menjadi pelajaran, bahwa setelah diisolasi dengan embargo ekonomi selama 40 tahun, negeri para mullah ini mampu mengejutkan dunia dengan mampu bertahan dan membalas serangan AS dan Israel. Negara-negara Arab yang lain pun sebenarnya mampu asal ada kemauan. Keberanian itu bisa dibangun, apalagi jika mereka bersatu.
Kekuatan umat Islam sangat besar, hanya saja masih tersebar. Jika disatukan potensi yang besar itu bisa merubah wajah dunia saat ini. Di antara potensi tersebut adalah pertama, militer di berbagai negeri muslim. Kedua, sumber daya alam yang melimpah, terutama migas yang sangat dibutuhkan semua negara. Produksinya menyumbang kurang lebih 30 persen dari minyak dunia. Hal ini menjadikan negara-negara Islam sangat berpengaruh dalam energi global. Ketiga, geopolitik yang strategis karena menguasai Selat Hormuz, Terusan Suez, Selat Malaka dan lain-lain. Tempat-tempat tersebut merupakan jalur pelayaran dan perdagangan yang penting dan berpengaruh.
Sayangnya potensi besar ini belum disadari oleh sebagian besar umat Islam. Sebaliknya yang terjadi justru orang-orang kafir memanfaatkan kekayaan dan potensi strategis negeri-negeri muslim untuk kepentingan mereka. Ini adalah bencana besar yang terjadi pada umat hari ini dan itu karena tidak adanya sosok pemimpin yang menyatukan. Sejak Khilafah Utsmani runtuh tahun 1924, wilayah yang dulu bersatu terpecah belah menjadi puluhan negara bangsa yang lemah dan bergantung pada asing dalam bidang ekonomi dan politiknya. Secara tidak langsung, mereka dijajah, para pemimpinnya tunduk pada kepentingan penjajah Barat. Perlawanan Iran terhadap serangan AS dan Israel harusnya membangkitkan kesadaran bahwa umat bisa terlepas dari penjajahan ini, jika ada kemauan untuk melawan. Iran berjuang sendiri saja, Amerika kewalahan apalagi jika negeri-negeri muslim bersatu. Tentu dalam hitungan hari, negara yang mengaku polisi dunia ini akan bertekuk lutut menyerah kalah.
Kesatuan negara muslim di bawah naungan Khilafah akan mampu mengalahkan dominasi negara kafir. Inilah satu-satunya solusi yang bisa membalikkan keadaan yang timpang atau ketidakadilan yang ada hari ini. Seruan persatuan umat ini bukan slogan yang bersifat emosional sesaat, tapi harus menjadi energi gerak yang terstruktur, terorganisasi dan berakar pada ideologi atau akidah yang benar. Bukan karena nsionalisme yang sempit dan rapuh serta bukan hanya adanya ikatan kemanusiaan. Islam dan institusinya (Khilafah) akan mampu menyatukan umat manusia lintas bangsa dan warna kulit. Sejarah telah mencatat bagaimana negara yang menerapkan hukum Allah ini sanggup melindungi wilayahnya yang luas beserta rakyatnya. Sebagaimana dulu Khalifah Abu Bakar menjaga kaum muslim dari gerakan orang-orang murtad, hasutan nabi pàlsu dan ancaman Romawi.
Saat ini orang-orang kafir menyerang umat Islam dari segala arah dan lewat berbagai cara dari yang halus sampai yang brutal. Sejauh ini belum ada yang mampu menghilangkan serangan masif tersebut bahkan perang Iran pun belum final. Gencatan senjata yang diselenggarakan hanya memberi waktu rehat bagi musuh karena sudah terpojok. Sementara penduduk Gaza terus digempur dan entitas Yahudi di saat perundingan berlangsung terus membombardir beberapa tempat di Libanon. Selain itu kaum muslim yang jadi minoritas di negerinya hidup dalam kerentanan seperti di Rohingya, Uighur India dan lain-lain. Jika persatuan umat terwujud dan Khilafah tegak, institusi inilah yang akan membebaskan bangsa-bangsa tersebut dari penderitaannya. Lebih dari itu, Islam sebagai agama yang hak sesuai fitrah manusia akan tersebar ke seluruh penjuru dunia lewat dakwah dan jihad. Sehingga kebaikan atau berkah Allah akan tercurah dari langit dam bumi. Karena itu bersatulah kaum muslim, maka kalian akan dimenangkan. Allah berfirman:
"Berpeganglah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai." (QS.Ali Imran ayat 103)
Wallahu a'lam bish shawab.
No comments:
Post a Comment