Oleh Irma Faryanti
Pegiat Literasi
Zionis sepertinya tidak akan pernah puas membumihanguskan wilayah Gaza. Sekalipun disusun berbagai skenario gencatan senjata, namun genosida tetap dilakukan. Serangan demi serangan terus dilancarkan hingga kembali memakan korban. Seperti yang dialami oleh warga sipil di Gaza tengah dan utara. Kamp pengungsi Bureij diserang dan menewaskan enam orang warga sipil. Juga di Beit Lahia, satu orang pun menjadi korban lainnya. Sehingga total tewas berjumlah 7 orang.
Hazem Qaseem selaku juru bicara Hamas menyebutnya sebagai pembantaian mengerikan pasca terbunuhnya enam orang di kamp pengungsi Bureij. Serangan yang dilakukan sebelum fajar itu menyasar kerumunan warga sipil dan melukai beberapa orang lainnya. Ia menyatakan bahwa Israel harus dipaksa menjalankan fase pertama kesepakatan, menghentikan seluruh pelanggaran sebelum masuk ke tahapan berikutnya. (www.metrotv.com, 12 April 2026)
Seperti yang diketahui bersama, gencatan senjata telah diberlakukan sejak Oktober lalu, tapi bangsa Yahudi itu masih saja melancarkan serangannya. Sejak kesepakatan berlaku, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, tidak kurang dari 749 orang tewas dan 2.000 lainnya luka-luka. Ada beberapa hal yang harus disepakati dalam kesepakatan itu, diantaranya AS meminta Hamas menyerahkan hampir seluruh persenjataannya dan menyerahkan peta jaringan terowongan bawah tanah di jalur Gaza.
Pada November 2025, PBB melalui Resolusi 2803 telah menyetujui implementasi rencana perdamaian Gaza, yang telah disepakati Hamas dan Israel. Di bulan Januari 2026, duta khusus Presiden AS, Steve Witkoff mengumumkan pelaksanaan tahap kedua diantaranya: penarikan tentara Zionis dari wilayah Gaza, pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional, dan pendirian struktur pemerintahan baru di bawah BoP yang dipimpin Donald Trump. Presiden Amerika itu mengundang sekitar 50 negara untuk bergabung pasca didirikan di bulan Januari lalu, dan langsung mengadakan pertemuan perdana di Washington.
Namun, seiring berjalannya transisi menuju tahap dua rencana perdamaian Gaza, bentrokan terus dilakukan oleh bangsa Yahudi itu. Menurut keterangan petugas medis dan warga setempat, drone-drone Israel terus menembakkan rudal ke area padat penduduk yang dihuni oleh pengungsi Palestina. Mereka diserang oleh anggota milisi pro-Israel yang beroperasi di jalur Gaza, kendati warga berusaha mempertahankan tempat tinggalnya, tapi tetap dijadikan sasaran serangan mereka.
BoP yang mendesak Hamas untuk segera menyelesaikan rancangan demiliterisasi, pada dasarnya ditujukan agar fase kedua dari perjanjian bisa segera dilaksanakan. PBB telah memberi mandat pada BoP untuk mengawasi gencatan senjata, mengelola rekonstruksi, mengawal demiliterisasi Hamas dan mengatur pemerintahan transisi di Gaza. Namun semua itu tidak lebih hanyalah kelanjutan dari penjajahan Zionis di sana dan membungkam perlawanan rakyat setempat.
Niat busuk Trump sejak awal tercium, sejak awal terpilih ia sudah berencana menjadikan Gaza sebagai tempat wisata, teknologi dan hunian mewah di bawah kendali AS. Ia ingin melakukan desain ulang tanpa melibatkan warga setempat, menghentikan berbagai perlawanan yang bisa menghambat mimpinya melalui demiliterisasi Hamas, yang dianggap sebagai entitas yang bisa mengancam kepentingannya dan kaum Zionis. Sayangnya, mata dunia justru berpandangan serupa, bahwa demiliterisasi Hamas dan pengakuan kemerdekaan Palestina adalah solusi.
Percaya bahwa BoP mampu memberi jalan keluar, adalah suatu kesalahan fatal. Di dalam piagamnya tidak tercantum kata freedom atau kebebasan bagi Palestina. Alih-alih bebas, negeri ini justru akan semakin sulit lepas dari bayang-bayang penjajahan Zionis. Karakter Yahudi sejak awal adalah bangsa yang tidak bisa dipercaya. Puluhan resolusi PBB tentang pendudukan Palestina pun tidak pernah ditaati. Dengan adanya demiliterisasi, mereka akan lebih leluasa mengendalikan politik dan militer Gaza.
Kolaborasi Zionis dengan AS tidak lain adalah untuk memadamkan spirit perlawanan yang masih ada, agar bisa menguasai Gaza secara penuh. Oleh karenanya, sikap para pemimpin muslim yang bersedia bergabung ke dalam BoP adalah bentuk pengkhianatan terhadap perjuangan rakyat Palestina. Karena dengan sendirinya negara-negara itu akan mengikuti arahan Barat, hal itu jelas sebuah bentuk kemungkaran.
Sikap yang seharusnya diambil oleh negeri-negeri Islam adalah mengirimkan pasukan militer untuk berjihad mengusir zionis, karena demikianlah Allah telah menetapkan syariat atasnya ketika negeri kaum muslim diserang. Tapi saat ini, kekuatan militer yang ada tidak mampu berfungsi sebagai perisai bagi umat. Perlindungan justru ditujukan pada kepentingan penjajah, sementara rakyat Palestina tetap mengalami genosida. Demikianlah ketika nasionalisme telah menguasai hati nurani penguasa-penguasa muslim. Penderitaan saudara seiman seakan tidak mereka rasakan.
Alih-alih membantu penderitaan saudaranya, para penguasa muslim itu justru bergabung dengan Abraham Accords untuk menormalisasi hubungan dengan Zionis, dan KTT Sharm El-sheikh yang menjadi cikal bakal berdirinya BoP. Para pemimpin itu telah terjangkiti wahn (cinta dunia takut mati). Sehingga lebih memilih tunduk patuh, lemah dan terjajah kepada Barat, dan bersikap abai terhadap penderitaan saudaranya.
Tidak ada solusi lain untuk masyarakat di Palestina selain dengan merebut kembali tanah yang dirampas. Karena sejatinya itu adalah tanah kharijiyah milik umat Islam. Caranya adalah dengan mengirim pasukan militer dan melakukan perlawanan secara fisik. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 191, yang artinya:
“Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusir kalian.”
Untuk menyolusikan masalah Palestina dibutuhkan adanya persatuan umat. Jika masih tersekat ikatan nasionalisme maka tidak akan pernah terwujud kekuatan. Maka harus ada kepemimpinan tunggal yang akan menaungi secara global. Di mana seluruh potensi termasuk militer akan bisa terkonsolidasi dalam satu komando. Hukum syariat pun akan ditegakkan secara sempurna dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia melalui pelaksanaan jihad.
Umat akan tersatukan dalam ikatan akidah, di bawah kepemimpinan Islam. Oleh karena itu, keberadaanya menjadi hal darurat yang tidak bisa ditunda lagi. Kehadirannya menjadi janji Allah yang pasti akan terwujud, dan mewujudkannya menjadi kewajiban mutlak yang tidak bisa ditawar lagi.
Wallahu alam bisawwab
No comments:
Post a Comment