Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Alas Lali Jiwo (1)

Wednesday, April 22, 2026 | Wednesday, April 22, 2026 WIB
Pemandangan megah puncak Gunung Arjuno dan Welirang yang diselimuti kabut putih dan awan tebal di pagi hari

(HairudMh)

“Biarlah hati tetap bebas dalam perjalanan panjang ini, karena bumi terlalu luas untuk terburu-buru dimiliki.” 

Arjuno berdiri tegap, menantang langit yang belum sepenuhnya membuka matanya. Tubuhnya seperti ksatria tua yang menolak menunduk, memandang dunia dari punggung bumi dengan kesunyian yang agung. Di sebelahnya, Welirang menghembuskan napas putih, belerang yang menyelimuti udara dengan aroma rahasia, seakan menyimpan cerita yang tak pernah selesai. Ibarat jika pendaki adalah tamu maka hanya Arjuno yang tau siapa yang berhak jadi tamu nya.


Aku menapak tanah yang masih basah oleh embun, mendengar desah angin yang menembus pepohonan. Setiap batu yang diinjak seakan berbicara, menandai bahwa perjalanan ini bukan sekadar jarak yang ditempuh, tapi waktu yang harus dirasakan. Pagi itu, kabut masih menggantung rendah ketika Raka mengikatkan tali carrier di bahunya. Angin dingin menyelinap melalui jaketnya, membawa aroma pinus dan tanah basah. Di belakangnya, Sekar berdiri sambil merapikan buff di leher, matanya menatap jalur pendakian yang berliku.


“Masih yakin?” tanya Raka, menoleh.

Sekar tersenyum kecil. “Bukankah gunung selalu menunggu orang-orang yang yakin?”


Raka terdiam. Ia mengenal Sekar bukan sebagai pendaki pemula, tetapi sebagai seseorang yang selalu menaruh perasaan di tempat paling berbahaya termasuk pada gunung, dan mungkin… pada dirinya. Mereka memulai pendakian dari jalur Tretes. Langkah demi langkah menyusuri hutan yang rapat, suara ranting patah dan burung yang terkejut menjadi saksi. Jalur Arjuno tidak ramah, tapi jujur. Ia tidak menjanjikan kemudahan, hanya keindahan bagi mereka yang bertahan.


Di pos Lembah Kidang, mereka berhenti sejenak. Sekar membuka botol minum, napasnya sedikit terengah.

“Kamu ingat cerita Arjuno dan Welirang?” tanya Sekar tiba-tiba.

Raka mengangguk. “Dua gunung yang katanya dijodohkan alam, tapi terus saling menguji.”

“Kadang aku merasa,” lanjut Sekar pelan, “Manusia itu seperti dua gunung. Diam, kokoh, tapi menyimpan letupan.”


Raka menatap api kecil yang mereka nyalakan. Ada kata-kata yang ingin ia ucapkan, namun tertahan oleh takut dan ego. Seperti lava yang terkurung di perut gunung. Pendakian dilanjutkan. Semakin tinggi, jalur semakin curam. Angin berubah kasar, mencambuk wajah. Saat itulah langit mendadak menggelap. Awan tebal bergulung cepat terlalu cepat.


“Raka, awan naik!” teriak Sekar.

Belum sempat mereka berlindung, hujan turun deras disertai angin kencang. Jalur menjadi licin. Sekar terpeleset. “Sekar!” Raka refleks menarik tangannya. Namun tanah rapuh runtuh. Sekar tergelincir beberapa meter ke bawah, tubuhnya terbentur akar pohon. Raka menuruni jalur dengan tergesa, jantungnya berdentum lebih keras dari guntur.


“Jangan tidur! Lihat aku!” suara Raka bergetar.

Sekar meringis, kakinya berdarah. “Aku… nggak apa-apa,” katanya berusaha tegar, meski napasnya berat. Raka mengeluarkan P3K, tangannya gemetar saat membalut luka. Hujan belum reda. Mereka terjebak.


“Aku salah,” bisik Sekar. “Harusnya kita berhenti tadi.”

Raka menggeleng keras. “Tidak. Gunung tidak pernah salah. Kita hanya harus lebih jujur pada diri sendiri.”


Ia menatap Sekar basah, terluka, namun tetap berusaha tersenyum. Saat itulah Raka sadar, ia lebih takut kehilangan Sekar daripada gagal mencapai puncak. Malam datang tanpa permisi. Mereka berteduh di balik batu besar, berbagi jaket dan sisa makanan. Angin menderu seperti raungan gunung yang marah.


“Raka,” kata Sekar lirih, “kalau kita selamat… aku ingin jujur.”

Raka menahan napas. “Aku juga.”

“Manusia selalu bertemu manusia, tapi langkah tidak selalu harus sejalan. Dan itu tak apa”(HairudMh)

Alas Lali Jiwo

Malam datang tanpa permisi. Suhu turun drastis. Mereka mencari tempat yang agak terlindung dan akhirnya berhenti di balik batu besar, cukup untuk memotong arah angin. Raka mengeluarkan flysheet darurat dari tas dan membentangkannya seadanya, diikat ke batu dengan tali.

Sekar duduk bersandar, napasnya masih teratur meski wajahnya pucat.

“Kaki kiri aku nyeri, tapi masih bisa digerakkan,” katanya, jujur.

Raka mengangguk. Ia memeriksa pergelangan Sekar dengan senter kepala. Tidak ada tulang menonjol, hanya memar dan lecet. Ia membersihkan luka dengan air minum, lalu membalutnya rapat. “Kita nggak lanjut malam ini,” kata Raka. “Besok turun pelan-pelan.”

Sekar mengangguk tanpa membantah. “Iya. Aku juga mikir gitu.”

Mereka duduk berdampingan, berbagi jaket tebal. Raka memastikan Sekar tetap hangat—memberinya minum hangat dari termos kecil yang masih tersisa. Angin masih kencang, tapi setidaknya tidak langsung menghantam mereka.

Beberapa saat tak ada yang bicara. Hanya suara angin dan kain flysheet yang bergetar.

“Rak,” kata Sekar pelan, “makasih.”

Raka menoleh. “Karena?”

“Karena kamu berhenti.”

Raka menarik napas panjang. “Gunung ngajarin aku, berhenti itu juga keputusan.”

Sekar menyandarkan kepalanya sebentar, lalu duduk lagi.

“Kita gagal puncak.”

“Iya,” jawab Raka. “Tapi kita masih aman.”

Malam itu mereka tidur bergantian, saling membangunkan setiap satu jam untuk memastikan tidak kedinginan berlebihan. Tidak ada pengakuan besar, tidak ada janji. Hanya keputusan sederhana: bertahan sampai pagi, lalu turun.

Dan di gunung, keputusan seperti itu sering kali adalah bentuk keberanian paling nyata……

“Di punggung Arjuno dan Welirang, angin mengajariku bahwa ketinggian bukan untuk ditaklukkan, tapi untuk dirasakan.” (HairudMh)



BIOGRAFI PENULIS :

Moh. Hairud Tijani adalah seorang akademisi, penulis, dan peneliti yang aktif menulis tentang isu sosial, budaya, dan sejarah, serta baru saja menyelesaikan studi Sarjana Sosial di Prodi Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Info Tambahan 
Akun Medsos: IG @hairudtjnn_
Nomor HP: 085232010234

#Cerpen #SastraIndonesia #Prosa #Fiksi #AlasLaliJiwo #HairudMh #CeritaPendek #Literasi #ArjunoWelirang #GunungArjuno #Tretes #LembahKidang #CeritaPendaki #FilosofiGunung #PendakiIndonesia #MountainStory #PerjalananHati #RomansaGunung #SelfDiscovery

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update