Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Saat Dunia Anak Tak Lagi Ramah

Friday, March 20, 2026 | Friday, March 20, 2026 WIB


Oleh. Ummu Hamizan


Kabar tentang disepakatinya SKB kesehatan jiwa anak oleh sembilan kementerian dan lembaga sebenarnya membawa harapan. Negara mulai serius melihat persoalan kesehatan mental anak yang kian mengkhawatirkan. Namun di balik itu, ada satu hal yang perlu kita renungkan bersama: mengapa kondisi ini bisa sampai terjadi?


Data yang disampaikan menunjukkan fakta yang tidak sederhana. Dilansir dari antaranews.com Konflik keluarga menjadi pemicu terbesar, disusul masalah psikologis, perundungan, hingga tekanan akademik. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, tapi cerminan dari kehidupan anak-anak kita hari ini yang penuh tekanan, bahkan sejak usia dini.


Kalau kita jujur melihat, problem ini bukan berdiri sendiri. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang sering kali jauh dari ketenangan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, justru kadang menjadi sumber luka. Sekolah yang diharapkan membentuk kepribadian, tak jarang malah menjadi ruang kompetisi tanpa empati.


Belum lagi pengaruh media yang begitu kuat. Anak-anak terpapar berbagai standar hidup yang serba instan, serba terlihat “sempurna”, dan berorientasi pada pencapaian materi. Tanpa disadari, ini membentuk cara pandang yang rapuh seolah nilai diri ditentukan oleh pencapaian duniawi semata.


Kita juga perlu menyadari bahwa pendidikan hari ini sering kali hanya fokus pada aspek akademik. Anak didorong untuk berprestasi, tetapi kurang dibekali kekuatan mental dan spiritual. Akibatnya, ketika menghadapi masalah, mereka mudah merasa sendiri, tertekan, bahkan kehilangan arah.


Dalam Islam, anak bukan hanya dipandang sebagai individu yang harus “berhasil”, tetapi sebagai amanah yang harus dijaga secara utuh jiwa, akal, dan hatinya. Pendidikan tidak hanya soal ilmu, tapi juga pembentukan kepribadian yang kokoh, yang mengenal tujuan hidup dan memiliki sandaran nilai yang jelas.


Keluarga memiliki peran utama dalam hal ini. Orang tua bukan sekadar memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga menjadi tempat anak kembali, bercerita, dan merasa diterima. Ketika nilai-nilai Islam hadir dalam keluarga, hubungan menjadi lebih hangat, penuh kasih, dan menenangkan.


Negara pun memiliki tanggung jawab besar. Bukan hanya membuat kebijakan, tetapi memastikan lingkungan yang mendukung tumbuhnya generasi yang sehat secara mental. Sistem pendidikan, kesehatan, dan sosial seharusnya berjalan selaras dengan nilai yang menjaga manusia, bukan sekadar mengejar target duniawi.


Akhirnya, isu kesehatan jiwa anak ini bukan hanya soal program atau kebijakan, tetapi soal arah hidup yang kita pilih sebagai masyarakat. Sudah saatnya kita kembali menata ulang fondasi kehidupan dengan aturan Islam agar anak-anak kita tidak hanya tumbuh cerdas, tetapi juga kuat, tenang, dan penuh harapan kepada Allah SWT.

Wallahualam bii shawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update