Oleh: Neneng Sriwidianti
Pengasuh Majelis Taklim
Fenomena kenakalan pelajar kembali mencuat. Di Kota Bengkulu, sejumlah siswi kedapatan menyamar menjadi laki-laki demi membolos sekolah. Mereka nongkrong dan merokok saat jam pelajaran berlangsung. (Jumat, 13/3/2026). Sebuah perilaku yang tak hanya melanggar disiplin, tetapi juga menunjukkan kaburnya batas identitas dan nilai dalam diri generasi muda.
Berbagai upaya penertiban pun dilakukan, salah satunya melalui razia kedisiplinan oleh aparat dan pihak sekolah. Namun, pertanyaannya: apakah langkah ini benar-benar menyentuh persoalan mendasar?
Kapitalisme Sekuler Penyebabnya
Realitasnya, razia siswa selama ini lebih banyak menyentuh permukaan, sementara akar masalah justru kerap terlupakan. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, persoalan ini tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari sistem kehidupan yang saat ini diterapkan yakni sistem kapitalisme sekuler yang menjauhkan agama dari kehidupan.
Razia mungkin mampu menertibkan secara sesaat. Namun, ia tidak akan pernah mampu menumbuhkan kesadaran dari dalam. Tanpa penanaman nilai yang benar, pelanggaran hanya akan berpindah tempat dan waktu, bukan benar-benar hilang.
Akar persoalan dari fenomena ini adalah kegagalan dalam menanamkan nilai aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) Islam pada generasi. Ketika seorang siswi merasa wajar menyamar menjadi laki-laki, bahkan merokok di ruang publik saat jam pelajaran, ini menunjukkan adanya krisis pemahaman terhadap syariat.
Dalam Islam, perilaku menyerupai lawan jenis (tasyabuh) merupakan hal yang dilarang. Rasulullah ﷺ bersabda, “Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari). Larangan ini bukan sekadar soal penampilan, melainkan bagian dari penjagaan fitrah manusia.
Allah Swt. juga berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan manusia tidaklah bebas tanpa batas, melainkan terikat dengan aturan Sang Pencipta.
Namun, sistem kehidupan hari ini justru bergerak ke arah sebaliknya. Sekularisme yang menjadi fondasi kapitalisme telah menyingkirkan agama dari ruang publik. Nilai benar dan salah tidak lagi dikembalikan pada wahyu, tetapi pada standar kebebasan manusia.
Pelajar pun tumbuh dalam lingkungan yang memandang kebebasan sebagai hak utama. Selama tidak dianggap merugikan orang lain, apa pun seakan sah dilakukan. Dari sinilah lahir keberanian untuk melanggar aturan, membolos, merokok, hingga menyamar demi kebebasan bergaul. HAM menjadi sesuatu yang diagung-agungkan dalam sistem ini.
Inilah yang membuat solusi yang ditempuh menjadi jauh panggang dari api. Razia hanya menyentuh gejala, bukan akar. Ia tidak menyentuh cara berpikir dan cara bersikap generasi.
Lebih dari itu, persoalan ini sejatinya bersifat sistemik. Selama negeri ini masih menerapkan sistem kapitalisme sekuler yang menjauhkan agama dari kehidupan, maka pendidikan pun kehilangan ruhnya. Generasi tidak lagi dibentuk untuk tunduk pada aturan Allah, tetapi diarahkan menjadi individu yang otonom tanpa batas.
Islam Syariat yang Sempurna
Berbeda dengan Islam. Dalam pandangan Islam, pembinaan generasi adalah tanggung jawab bersama, keluarga, masyarakat, dan negara. Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Islam menanamkan akidah sebagai fondasi berpikir dan bersikap. Dari sinilah lahir kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyah), yakni kesatuan antara pola pikir dan pola sikap yang selaras dengan syariat. Seorang pelajar tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki rasa malu, tanggung jawab, dan menjaga kehormatan dirinya.
Islam juga menetapkan aturan pergaulan yang jelas antara laki-laki dan perempuan, sebagai bentuk penjagaan terhadap kehormatan dan identitas. Di saat yang sama, masyarakat didorong untuk menjalankan amar makruf nahi mungkar, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran: 104.
Negara pun memiliki peran strategis, bukan sekadar mengatur administrasi pendidikan, tetapi memastikan bahwa seluruh sistem mulai dari kurikulum, lingkungan sosial, hingga media wajib mendukung terbentuknya generasi yang berkepribadian Islam.
Sudah saatnya kita berhenti merasa cukup dengan solusi tambal sulam. Generasi ini tidak butuh sekadar diawasi, tetapi dibina. Tidak cukup ditakuti dengan razia, tetapi harus ditumbuhkan kesadaran imannya.
Selama akar masalahnya tidak disentuh yakni sistem kapitalisme sekuler yang menjauhkan agama dari kehidupan, maka berbagai upaya penertiban hanya akan berulang tanpa hasil yang berarti.
Karena itu, perubahan hakiki tidak cukup pada level individu semata, tetapi juga pada sistem yang menaunginya. Pendidikan harus kembali berlandaskan akidah, masyarakat harus menghadirkan suasana yang menjaga, dan negara harus mengambil peran sebagai pelindung sekaligus pembina generasi.
Wallahu a'lam bishshawwab

No comments:
Post a Comment