Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Razia Kedisiplinan Siswa: Solusi Semu Tanpa Penanaman Pola Pikir dan Pola Sikap Islam

Wednesday, March 25, 2026 | Wednesday, March 25, 2026 WIB

 


Oleh. Hj Iis Sartika
Muslimah Peduli Generasi

Fenomena kenakalan pelajar kembali menjadi sorotan publik. Di Kota Bengkulu, sejumlah siswi diamankan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) karena kedapatan membolos sekolah dengan cara menyamar sebagai laki-laki. Mereka nongkrong di warung dan merokok pada saat jam pelajaran berlangsung. Untuk menghindari kecurigaan, mereka mengenakan atribut laki-laki, sementara jilbab disimpan di dalam tas.


Peristiwa ini bukan sekadar pelanggaran tata tertib sekolah. Lebih dari itu, kasus tersebut mencerminkan adanya krisis mendalam dalam pembentukan kepribadian generasi muda. Sayangnya, solusi yang diambil selama ini cenderung bersifat parsial dan tidak menyentuh akar persoalan.


Razia Kedisiplinan: Menyentuh Permukaan Masalah

Upaya razia yang dilakukan oleh aparat maupun pihak sekolah pada dasarnya bertujuan menegakkan disiplin. Pelajar yang tertangkap akan diberikan pembinaan atau sanksi agar tidak mengulangi perbuatannya. Namun, pendekatan ini sejatinya hanya menyasar gejala, bukan penyebab utama.


Jika ditelaah lebih jauh, perilaku membolos, merokok, bahkan menyamar sebagai lawan jenis bukanlah tindakan spontan tanpa sebab. Tindakan tersebut lahir dari pola pikir dan pola sikap yang terbentuk dalam diri pelajar. Ketika pembentukan pola pikir ini tidak diarahkan dengan nilai yang benar, maka pelanggaran akan terus berulang meskipun razia dilakukan secara rutin.


Dengan demikian, razia kedisiplinan tanpa diiringi penanaman nilai yang kokoh ibarat memotong ranting tanpa mencabut akar. Masalah mungkin tampak reda sesaat, tetapi akan tumbuh kembali dalam bentuk yang sama atau bahkan lebih kompleks.


Tasyabuh dan Krisis Pemahaman Syariat

Perilaku siswi yang menyamar sebagai laki-laki menunjukkan adanya praktik tasyabuh (menyerupai lawan jenis). Dalam Islam, tindakan ini bukan sekadar persoalan penampilan, tetapi berkaitan dengan penjagaan fitrah manusia. Islam dengan tegas mengatur perbedaan identitas laki-laki dan perempuan sebagai bagian dari kehormatan dan kemuliaan manusia.


Ketidaktahuan atau pengabaian terhadap aturan ini menunjukkan lemahnya pemahaman terhadap syariat Islam. Generasi muda tidak lagi menjadikan halal dan haram sebagai standar dalam berperilaku. Sebaliknya, mereka lebih banyak dipengaruhi oleh standar lain yang berkembang di masyarakat.


Pengaruh Sekularisme Liberal dalam Kehidupan Pelajar

Salah satu faktor yang turut memengaruhi kondisi ini adalah dominasi nilai sekularisme liberal dalam kehidupan. Paham ini memisahkan agama dari kehidupan sekaligus menjadikan kebebasan sebagai nilai utama. Dalam kerangka berpikir ini, individu didorong untuk melakukan apa pun yang diinginkan selama dianggap tidak merugikan orang lain.


Akibatnya, pelajar merasa memiliki kebebasan untuk melanggar aturan, seperti membolos sekolah, merokok, hingga berpenampilan menyerupai lawan jenis. Standar benar dan salah tidak lagi merujuk pada ajaran agama, melainkan pada penilaian subjektif masing-masing individu.


Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka pelanggaran tidak hanya berhenti pada tindakan ringan, tetapi dapat berkembang menjadi perilaku yang lebih serius dan merusak.


Kegagalan Sistem dalam Membina Generasi

Realitas ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan dan pembinaan generasi saat ini belum mampu membentuk kepribadian yang kuat. Pendidikan lebih banyak menekankan aspek akademik, sementara pembentukan karakter sering kali hanya menjadi pelengkap.


Negara dalam sistem yang ada cenderung berperan sebagai pengatur administratif, bukan sebagai pembina moral generasi. Program-program seperti razia kedisiplinan menjadi solusi instan yang tidak menyentuh pembentukan pola pikir dan pola sikap.


Padahal, membina generasi bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga, masyarakat, dan negara secara keseluruhan. Ketika ketiga unsur ini tidak berjalan selaras, maka pembentukan karakter generasi akan mengalami kegagalan.


Pentingnya Pembentukan Syakhsiyah Islamiyah

Islam menawarkan solusi yang bersifat mendasar melalui pembentukan syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam). Kepribadian ini terbentuk dari dua aspek utama, yaitu pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) yang berlandaskan akidah Islam.


Dengan pola pikir Islam, seseorang akan menjadikan ajaran Islam sebagai standar dalam menilai setiap perbuatan. Sementara itu, pola sikap Islam akan mendorong seseorang untuk berperilaku sesuai dengan hukum syariat, bukan sekadar mengikuti keinginan atau tekanan lingkungan.


Melalui pembentukan ini, pelajar tidak hanya patuh karena takut pada sanksi, tetapi karena memiliki kesadaran internal untuk berbuat benar. Inilah yang membedakan antara disiplin semu dengan kedisiplinan yang lahir dari keimanan.


Peran Strategis Keluarga, Masyarakat, dan Negara

Dalam Islam, pembinaan generasi merupakan tanggung jawab bersama. Keluarga berperan sebagai lingkungan pertama dalam menanamkan nilai-nilai keimanan. Orang tua memiliki kewajiban untuk mendidik anak agar memahami ajaran Islam sejak dini.


Masyarakat juga memiliki peran penting melalui budaya amar makruf nahi munkar, yaitu saling mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran. Lingkungan yang baik akan membantu menjaga perilaku individu agar tetap sesuai dengan nilai-nilai Islam.


Sementara itu, negara memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan sistem yang mendukung terbentuknya generasi yang berkepribadian Islam. Negara tidak cukup hanya mengatur kurikulum, tetapi juga harus memastikan bahwa seluruh aspek kehidupan—termasuk media dan lingkungan sosial—selaras dengan nilai-nilai Islam.


Dari Razia Menuju Pembinaan Hakiki

Kasus siswi yang menyamar untuk membolos seharusnya menjadi bahan refleksi bersama. Permasalahan generasi tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan instan seperti razia semata. Dibutuhkan solusi yang menyentuh akar persoalan, yaitu pembentukan pola pikir dan pola sikap yang benar.


Tanpa penanaman nilai yang kokoh, pelanggaran akan terus berulang dalam berbagai bentuk. Sebaliknya, jika generasi dibina dengan akidah yang kuat dan pemahaman Islam yang menyeluruh, maka akan lahir pribadi-pribadi yang menjaga dirinya, bahkan tanpa pengawasan.


Inilah pentingnya beralih dari sekadar penegakan disiplin menuju pembinaan hakiki. Sebab, masa depan umat dan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya hari ini.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update