Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Razia Kedisiplinan Siswa Sia-sia Tanpa Penanaman Nilai Islam Kafah

Wednesday, March 25, 2026 | Wednesday, March 25, 2026 WIB

 


Oleh : Yusmi Ummu Nadia (Relawan Opini)

Satpol PP Kota Bengkulu mengamankan sejumlah pelajar perempuan yang nekat menyamar menjadi laki-laki untuk membolos sekolah. Mereka kedapatan sedang nongkrong dan merokok di warung saat jam pelajaran berlangsung, Jumat (13/3/2026).

 Kepala Satpol PP Kota Bengkulu, Sahat M Situmorang, menjelaskan bahwa penangkapan tersebut bermula saat petugas melakukan razia rutin terhadap pelajar yang berkeliaran di luar sekolah pada jam belajar. Saat dilakukan pemeriksaan, petugas sempat terkecoh karena penampilan para pelajar tersebut tampak seperti laki-laki. Namun, kecurigaan petugas terbukti saat melakukan pemeriksaan barang bawaan di dalam tas milik para siswi tersebut.

Menurut Sahat, para siswi tersebut diduga mengubah penampilan agar dapat membolos bersama pelajar laki-laki dengan lebih leluasa tanpa menimbulkan kecurigaan dari masyarakat sekitar. Atas perbuatannya, para pelajar tersebut kemudian dibawa ke kantor Satpol PP untuk diberikan pembinaan. Setelah itu, mereka diserahkan kembali kepada pihak sekolah agar mendapatkan pembinaan lebih lanjut dan pendisiplinan. Sahat mengimbau kepada seluruh orangtua dan pihak sekolah untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak mereka agar benar-benar mengikuti kegiatan belajar di sekolah. (Kompas.com) 

Fenomena razia kedisiplinan siswa sudah sering dilakukan oleh aparat Pemda maupun pihak sekolah. Hal ini di lakukan agar pelajar senantiasa taat pada aturan sekolah sehingga dapat menciptakan lingkungan yang aman dan juga tanggung jawab. Namun razia yang dilakukan tanpa adanya penanaman nilai aqliyah dan juga nafsiyah islam maka hal itu akan percuma saja. Para pelajar tersebut tidak akan pernah memahami kenapa mereka harus ke sekolah dan belajar. 

Hal ini menyebabkan membolos pada saat jam pelajaran sedang berlangsung adalah hal yang biasa di lakukan oleh kalangan pelajar. Pelakunya bukan hanya pelajar laki-laki, tetapi juga pelajar perempuan. Mereka melakukan berbagai macam cara agar bisa keluar saat jam pelajaran sedang berlangsung. Salah satunya dengan menyamar menjadi laki-laki. Mereka tidak memahami bahwa tindakan perempuan menyerupai laki-laki atau sebaliknya laki-laki menyerupai perempuan (tasyabbuh) adalah tindakan yang dilarang oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda "Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki" (HR. Bukhori). 



Hal ini terjadi karena penerapan sistem sekuler liberalisme yang di terapkan di tengah-tengah masyarakat. Dimana sistem ini mengakibatkan aturan agama tidak bisa mengatur kehidupan masyarakat. Masyarakat bebas berbuat apa saja sesuai keinginan mereka. Tanpa mempertimbangkan apakah perbuatan itu di larang oleh Allah SWT ataukah tidak. Kebebabasan adalah nilai utama kehidupan. Yang terpenting bagi mereka adalah mereka bahagia dengan apa yang mereka lakukan. Dan juga perbuatan mereka tidak merugikan orang lain. Karena memang sistem ini menjamin hal tersebut. Pada akhirnya mendorong para pelajar untuk menentang aturan, termasuk membolos, merokok hingga perbuatan tasyabbuh.  

Solusi yang diterapkan negara sekuler liberalis untuk menyelesaikan masalah ini pun tidak menyentuh akar persoalan. Razia, tertangkap kemudian diberikan pembinaan agar mereka tidak melakukannya lagi. Sanksi ini tentu tidak dapat membuat pelajar jera untuk bolos lagi. Sedangkan tujuan sanksi diberikan kepada seorang pelaku adalah agar pelaku maupun orang lain tidak melakukan kesalahan yang sama lagi. 

Dalam islam membina generasi adalah kewajiban bersama, mulai dari keluarga, masyarakat dan negara. Islam menanamkan akidah islam sebagai fondasi dalam berfikir dan bersikap. Islam menekankan pembentukan kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyah). Pendidikan tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syariat. Pelajar dibentuk menjadi pribadi yang memiliki rasa malu, tanggung jawab, dan kehormatan diri. Sehingga di manapun mereka berada, mereka akan takut untuk berbuat maksiat. Karena mereka paham bahwa nantinya segala perbuatan mereka akan di minta pertanggungjawaban oleh Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam qur'an surah Al-Muddatstsir ayat 38 yang berbunyi

كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah perbuatanya".

Islam juga memiliki aturan pergaulan yang jelas antara laki-laki dan perempuan. Aturan ini menjaga kehormatan dan identitas masing-masing. Larangan menyerupai lawan jenis, misalnya, bukan sekadar aturan simbolik, tetapi bagian dari penjagaan fitrah manusia. Negara dalam sistem Islam berperan aktif dalam menjaga moral generasi. Negara tidak hanya mengurus aspek administratif pendidikan, tetapi memastikan kurikulum, lingkungan sosial dan media mendukung terbentuknya generasi yang bersyakhsiyah Islamiyah. Islam juga menumbuhkan lingkungan masyarakat yang saling menjaga dalam kebaikan, amar makruf nahi munkar. Wallahu 'alam bishowab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update