Penulis : Neni Maryani
Pendidik
Luka Palestina kembali menganga. Di saat dunia mengaku menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, realitas di Gaza justru menunjukkan sebaliknya. Serangan udara kembali dilancarkan, tidak hanya menghancurkan bangunan sipil, tetapi juga merenggut nyawa para tenaga medis, mereka yang seharusnya dilindungi dalam konflik apa pun. Ratusan korban jiwa berjatuhan, dan krisis kemanusiaan semakin dalam.
Tidak berhenti di sana, akses ke Masjid Al-Aqsa kembali ditutup bagi warga Palestina. Ini bukan sekadar pembatasan biasa, tetapi simbol nyata dari upaya sistematis untuk menguasai, mengontrol, dan menghapus identitas kaum Muslim di tanah suci mereka. Peristiwa ini menjadi salah satu momen paling mencolok dalam sejarah modern, ketika tempat suci umat Islam diperlakukan seolah tidak memiliki penjaga.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: Dimana perisai umat Islam?
Fakta yang Tak Terbantahkan
Rentetan kejadian ini bukan peristiwa terpisah, melainkan bagian dari pola panjang agresi. Serangan terhadap Gaza telah berulang kali terjadi, menargetkan wilayah padat penduduk yang minim perlindungan. Korban sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, selalu menjadi pihak yang paling menderita.
Penutupan akses ke Masjid Al-Aqsa juga bukan kejadian baru, tetapi kali ini skalanya semakin luas dan tegas. Ini menunjukkan adanya perubahan strategi: dari sekadar tekanan militer menjadi kontrol total atas simbol-simbol keagamaan.
Di tengah semua ini, respons dunia internasional cenderung normatif, sekadar pernyataan keprihatinan tanpa tindakan nyata yang mampu menghentikan agresi.
Jika ditelaah lebih dalam, persoalan Palestina bukan sekadar konflik wilayah, melainkan persoalan ideologis dan geopolitik. Entitas Zionis berdiri bukan dalam ruang kosong, tetapi sebagai bagian dari proyek kolonial modern yang didukung kekuatan besar dunia.
Selama tidak ada kekuatan nyata yang melindungi umat Islam secara kolektif, penindasan ini akan terus berulang. Umat Islam saat ini terpecah dalam batas-batas negara bangsa, yang sering kali lebih mengedepankan kepentingan nasional masing-masing daripada kepentingan umat secara keseluruhan.
Di sisi lain, berbagai inisiatif perdamaian yang dimotori kekuatan global kerap kali tidak netral. Alih-alih menjadi solusi, banyak di antaranya justru memperkuat dominasi politik dan ekonomi pihak tertentu. Perdamaian yang ditawarkan sering kali bersyarat—dan syarat itu cenderung menguntungkan pihak yang lebih kuat.
Lebih jauh lagi, sistem global yang saat ini mendominasi yang berakar pada kapitalisme sekuler, tidak menjadikan kebenaran sebagai standar utama. Yang diutamakan adalah kekuatan dan kepentingan. Dalam logika ini, keadilan menjadi relatif, dan penderitaan suatu bangsa bisa diabaikan selama tidak mengganggu kepentingan strategis.
Di Mana Letak Solusi?
Dalam perspektif Islam, penjajahan dan penindasan adalah sesuatu yang harus dihapuskan. Islam tidak hanya mengatur ibadah individu, tetapi juga memiliki konsep politik dan pemerintahan yang bertujuan menjaga agama dan melindungi umat.
Salah satu konsep yang sering dibahas dalam diskursus Islam adalah keberadaan kepemimpinan umat yang bersatu—yang mampu menjadi pelindung dan pengayom bagi seluruh kaum Muslim. Dalam sejarah, kepemimpinan semacam ini pernah berperan dalam menjaga wilayah-wilayah Islam dan melindungi tempat-tempat suci.
Dalam kerangka syariat, pembebasan wilayah yang terjajah bukan sekadar pilihan, tetapi bagian dari tanggung jawab kolektif. Upaya ini tidak hanya bersifat militer, tetapi juga mencakup aspek politik, ekonomi, dan persatuan umat.
Selain itu, Islam juga menolak pengakuan terhadap penjajahan. Setiap bentuk legitimasi terhadap perampasan tanah dan hak suatu kaum bertentangan dengan prinsip keadilan dalam syariat.
Namun, perlu disadari bahwa perubahan besar tidak terjadi secara instan. Ia membutuhkan kesadaran, pemahaman, dan perjuangan yang terarah. Umat Islam perlu kembali memahami ajaran agamanya secara menyeluruh, tidak parsial, serta membangun kekuatan yang nyata, baik dari sisi pemikiran maupun institusi.
Peran Umat: Bukan Sekadar Simpati
Pertanyaan penting berikutnya adalah: apa yang bisa dilakukan umat saat ini?
Pertama, membangun kesadaran. Umat harus memahami bahwa isu Palestina bukan isu lokal, tetapi bagian dari persoalan umat secara global.
Kedua, menjaga persatuan. Perpecahan hanya akan melemahkan posisi umat dan memperpanjang penderitaan.
Ketiga, berkontribusi sesuai kapasitas—baik melalui edukasi, dakwah, maupun dukungan kemanusiaan.
Keempat, mendorong perubahan sistemik. Tanpa perubahan pada level struktur dan kepemimpinan, solusi yang dihasilkan akan selalu bersifat sementara.
Agresi yang terjadi hari ini bukan sekadar konflik bersenjata, tetapi cerminan dari ketimpangan kekuatan dan absennya perlindungan nyata bagi umat Islam. Selama kondisi ini tidak berubah, luka Palestina akan terus terbuka.
Umat Islam tidak kekurangan jumlah, tetapi kekurangan kekuatan yang terorganisir dan visi yang menyatukan. Pertanyaannya bukan lagi apakah penindasan akan berhenti, tetapi kapan umat ini benar-benar bangkit dan menjadi perisai bagi dirinya sendiri.
Dan mungkin, jawaban dari semua ini bermula dari satu hal sederhana: kesadaran bahwa diam bukan lagi pilihan.
Wallahu ‘alam bishowab
No comments:
Post a Comment