Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ramadhan di Ufuk Senja - Catatan Seorang Wakil Bupati

Tuesday, March 17, 2026 | Tuesday, March 17, 2026 WIB

 

Ahlul Badrito Resha
Wakil Bupati Lima Puluh Kota

Ramadhan sedang menapaki langkah-langkah terakhirnya.

Seperti siang pada senja yang perlahan tenggelam di balik perbukitan, ia pergi dengan tenang tanpa suara, menyisakan getar yang panjang di dalam jiwa.

Di penghujungnya, hati sering diliputi kesedihan yang lembut. Kesedihan yang tidak selalu bisa diucapkan dengan kata-kata. Bukan semata karena Ramadhan akan pergi, tetapi karena kita menyadari sebuah niscaya tidak utuh memuliakan kehadirannya.

Ramadhan datang setiap tahun umpama seorang guru yang sabar. Ia tidak membawa kemewahan dunia, hanya membawa latihan-latihan sunyi bagi jiwa manusia. Ia mengajarkan kita menahan lapar agar kita belajar menahan diri. Ia mendidik kita menundukkan keinginan agar kita mampu meninggikan kejujuran. Ia mengajak kita berpuasa bukan hanya dari makanan dan minuman, tetapi dari keserakahan, kelalaian, dan godaan untuk mengkhianati amanah.

Di gerbang perpisahan bulan yang mulia ini, kita sering terdiam dengan perasaan yang belum sepenuhnya lega. Sebab kita tahu, Ramadhan belum sepenuhnya bergaung dalam kehidupan kita.

Di ruang-ruang kerja, di kantor-kantor pelayanan, bahkan dalam tanggung jawab pemerintahan, semangat Ramadhan belum selalu menjelma menjadi tenaga yang memperkuat integritas. Tidak jarang, bulan yang seharusnya menjadi bulan penempaan justru terasa seperti bulan perlambatan.

Disiplin mengendur. Ritme kerja melambat. Tanggung jawab kadang terasa lebih ringan dari yang seharusnya.

Saya menuliskan ini dengan kerendahan hati. Karena jika ada yang pertama kali harus bercermin, maka saya pun berada di barisan yang sama.

Sebagai manusia, saya juga masih belajar memaknai Ramadhan. Sebagai bagian dari pemerintahan, saya menyadari bahwa amanah yang diberikan masyarakat tidak boleh ikut berpuasa bersama tubuh kita.

Para ulama besar sejak dahulu telah mengingatkan hakikat Ramadhan sebagai bulan perjuangan bagi jiwa manusia.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa memiliki tingkatan. Puasa yang paling tinggi bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi menjaga seluruh anggota tubuh dari dosa dan kelalaian. Menurut beliau, puasa adalah sarana untuk menundukkan hawa nafsu agar manusia mampu hidup dalam kejujuran dan kesadaran spiritual. (Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Kitab Asrar al-Shawm / Rahasia Puasa)

Hasan Al-Basri seorang ulama besar generasi tabi’in, pernah berkata:

“Sesungguhnya Allah menjadikan Ramadhan sebagai medan perlombaan bagi hamba-hambaNya dalam kebaikan. Maka ada yang bersegera lalu menang, dan ada yang tertinggal lalu menyesal.” (Diriwayatkan dalam karya Ibn Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif fi Ma li Mawasim al-’Am min al-Wazaif)

Dalam zaman yang lebih dekat dengan kita, *Syekh Yusuf Al-Qaradawi* menegaskan bahwa puasa Ramadhan adalah madrasah ruhiyah (sekolah spiritual) yang melatih manusia untuk membangun kedisiplinan moral dan tanggung jawab sosial. Puasa tidak berhenti pada ibadah personal, tetapi harus melahirkan pribadi yang lebih jujur dan amanah dalam kehidupan masyarakat. (Yusuf Al-Qaradawi, Fiqh al-Shiyam / Fiqih Puasa)

Sementara Buya Hamka, ulama dan sastrawan besar Indonesia, menulis bahwa puasa adalah latihan kemerdekaan jiwa. Orang yang mampu menahan dirinya dari sesuatu yang halal demi ketaatan kepada Allah, kata beliau, semestinya lebih mampu lagi menahan diri dari yang haram, termasuk dari kecurangan dan pengkhianatan terhadap amanah. (Hamka, Tafsir Al-Azhar, tafsir QS. Al-Baqarah: 183)

Petuah para ulama itu terasa seperti cermin yang jernih bagi kita semua.

Ramadhan ternyata bukan sekadar bulan ibadah, tetapi bulan perjuangan yang paling sunyi yaitu perjuangan manusia melawan dirinya sendiri.

Dan kita harus jujur mengakui, perjuangan itu sering kali tidak mudah.

Menahan lapar mungkin dapat kita jalani. Tetapi menahan diri dari kelalaian jauh lebih berat.

Menegakkan integritas dalam keseharian sering kali lebih sulit daripada sekadar menahan dahaga.

Karena itu di penghujung Ramadhan ini, saya tidak ingin berbicara tentang keberhasilan besar. Yang lebih terasa justru kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita masih harus berjalan lebih jauh.

Kepada masyarakat Kabupaten Lima Puluh Kota, izinkan saya menyampaikan permohonan maaf apabila sepanjang Ramadhan ini pelayanan dan kinerja pemerintahan belum sepenuhnya memenuhi harapan. Amanah yang diberikan masyarakat adalah kepercayaan yang harus dijaga dengan kesungguhan, sementara kami pun masih terus belajar menunaikannya dengan lebih baik.

Ramadhan akan segera pergi.

Namun semoga ia tidak benar-benar pergi dari hati kita.

Semoga ia meninggalkan jejak yang halus tetapi kuat seperti cahaya fajar yang perlahan membuka gelap malam. Ia mengingatkan kita bahwa bekerja dengan jujur, melayani dengan tulus, dan menjaga amanah adalah bagian dari ibadah yang tak pernah mengenal musim.

Ketika suatu hari Ramadhan kembali mengetuk pintu kehidupan kita, mudah-mudahan kita tidak lagi menjadi manusia yang sama seperti hari ini. Setidaknya dapat lebih jujur, lebih amanah dan lebih layak menyambut bulan yang suci itu.

Taqabbalallahu Minna Waminkum

Ahlul Badrito Resha

Wakil Bupati Lima Puluh Kota

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update