Oleh Pusparini
Ibu Rumah Tangga
Bulan Ramadhan hampir usai, namun nasib penduduk gaza masih diselimuti asap dan duka. Serangan udara penjajah Zionis, menambah daftar panjang syuhada di tanah yang tak pernah benar-benar merasakan jeda dari derita. Gaza menanti keadilan ditengah kepungan dan luka yang tak kunjung reda.
Genosida yang dilakukan Zionis atas Gaza telah menewaskan puluhan ribu penduduk Gaza dengan berbagai macam bentuk kekerasan. Ibarat luka menganga di taburi garam, penderitaan saudara kita diperparah dengan dibentuknya Dewan Perdamaian (Board of Peace) oleh Presiden AS, Donald Trump dan beberapa negara yang berkhianat pada saudara seakidah kita. Bahkan Israel dan Indonesia pun menjadi anggota BoP duduk berdampingan dengan Israel sang penjajah Palestina. dan yang lebih mengherankan mana mungkin membicarakan kemerdekaan Suatu bangsa sedang bangsa tersebut tidak dilibatkan.
Secara kasat mata kita melihat BoP dibentuk demi kepentingan AS dan Zionis Yahudi semata, tidak melibatkan Palestina sama sekali sebagai korban penjajahan Israel.
Serangan yang dilancarkan oleh Zionis Yahudi dan AS kepada Iran saat ini membuktikan bahwa BoP terbukti tidak berhasil mewujudkan perdamaian karena pelaku perang adalah AS dan Zionis Yahudi. AS selaku ketua BoP itu sendiri dan Indonesia sebagai negara pengikut tidak memiliki kekuatan untuk menentukan arah BoP.
BoP adalah proyek kolonial AS untuk menguasai Palestina, melucuti persenjataan Hamas dan mengusir penduduk Palestina. Namun ironisnya sikap pemerintah Indonesia masih bertahan di BoP, hal ini menunjukkan bahwa Indonesia terjajah secara politik, berada dalam dominasi AS. Tak ayal uang triliunan pun mengalir ke kantong BoP, padahal kondisi ekonomi negeri ini sedang krisis, saudara kita di tempat bencana masih belum mampu tegak berdiri menata kehidupan, karena lambatnya penanganan.
Aturan Islam jelas memberikan batasan, haram hukumnya bersekutu dengan negri kafir penjajah. Urusan negeri kaum muslimin dengan negeri kafir harbi fi'lan hanyalah urusan jihad, tidak ada yang lain. Allah mengharamkan persekutuan dalam dosa dan kezaliman, sebagai mana dijelaskan dalam QS. Al-Maidah ayat 2 "Tolong menolonglah kalian dalam kebajikan dan takwa jangan kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan". BoP jelas menempatkan negara-negara Muslim untuk kepentingan geopolitik kekuatan penjajah, baik melalui koordinasi militer, keamanan dan kebijakan luar negeri mereka.
Alasan tersebut di atas menjadikan berbagai elemen masyarakat mendesak pemerintah untuk keluar dari BoP. Presiden Prabowo sendiri berjanji jika BoP tidak memberikan keadilan bagi Palestina, maka Indonesia siap untuk keluar dari keanggotaan. walaupun sebenarnya sangat terang benderang organisasi ini tidak akan berpihak pada kepentingan Palestina.
Negeri kaum Muslim sudah seharusnya cerdas membaca geopolitik saat ini yang dikendalikan oleh kepentingan dan kekuasaan AS. Menolak seluruh komando Trump untuk mengokohkan penjajahan Yahudi di Palestina. Negeri-negeri Muslim semestinya bersatu dalam satu kepemimpinan dibawah naungan daulah Khilafah yang menyerukan jihad fi sabilillah melawan penjajahan Zionis Yahudi dan AS.
Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 190 memerintahkan "Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, tetapi jangan melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai kaum yang melampaui batas". Oleh karena itu solusi persatuan umat dan kepemimpinan yang mempersatukan kaum Muslim adalah solusi yang shahih, karena akan mempersatukan potensi besar dunia Islam dalam menghimpun kekuatan strategis untuk mengakhiri penjajahan dan mengembalikan kemerdekaan Palestina. Mari berisikkan dan pahamkan pada dunia, bahwa solusi Persatuan umat inilah yang akan memberikan jaminan perlindungan bukan hanya pada warga Palestina tapi seluruh kaum muslimin.
Waallahu a'lam
No comments:
Post a Comment