Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty
Ramadan sudah berlalu. Ramadan telah pergi. Namun kehilangan esensi Ramadan sebagai sarana membangun ketakwaan yang mendorong kebangkitan belum tentu dirasakan oleh semua orang.
Memang, sampai saat ini Ramadan masihlah kental dengan sisi ruhiyah dan target meraih takwa individual. Namun Ramadan sebagai bulan perjuangan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. untuk mengukuhkan kedudukan umat Islam hingga mereka benar-benar tampil sebagai umat terbaik dan pertengahan belum menjadi bagian penting dalam cerminan kehidupan. Padahal momentum Ramadan mampu mengukuhkan posisi negara yang dipimpin Rasulullah dan para khalifah setelahnya sebagai negara pertama yang memimpin peradaban cemerlang.
Banyak peristiwa kemenangan umat Islam terjadi pada Ramadan. Perang Badar, Futuh Makkah, Perang Tabuk, Penaklukan Al-Quds, Andalusia, Sindh, dll., semuanya terjadi saat Ramadan. Semuanya terjadi saat umat Islam hidup di bawah satu kepemimpinan yang menerapkan seluruh aturan Islam sebagai wujud ketakwaan.
Sungguh, membangun kembali kesadaran bahwa Islam bukan sekadar agama ritual atau panduan moral yang bersifat individual seharusnya penting dilakukan. Sebagai agama politik spiritual, Islam adalah ideologi berdimensi ruhiyah. Islam mengurusi seluruh urusan kehidupan, termasuk politik pemerintahan, bahkan mengarahkan umat Islam untuk menjadi pemimpin dalam konstelasi politik internasional.
Kesadaran ini harus dibangun di tengah umat dan menjadi visi hidup mereka. Kondisi ini kelak akan mendorong mereka untuk melakukan perubahan mendasar. Perubahan itu berupa perubahan sistem dari sistem kepemimpinan kufur yang penuh dengan kerusakan dan menyebabkan mereka dalam keterpurukan menjadi sistem kepemimpinan Islam—Khilafah—yang siap menyatukan umat dalam satu ikatan politik dan siap menjadi junnah (perisai), seraya siap secara masif menebar rahmat bagi seluruh alam dan merebut kembali kepemimpinan global. Tanpa Khilafah, umat Islam akan terus dijajah dan terjajah.
Untuk keluar dari penjajahan ini butuh perjuangan penyadaran umat dengan Islam politik. Upaya membangun kesadaran akan kebutuhan adanya persatuan hakiki di bawah institusi Khilafah bukan hanya wacana.
Upaya ini butuh keseriusan. Tentunya perjuangan sebesar ini tidak mungkin dilakukan secara individual. Perlu kepemimpinan sebuah kelompok tulus berjuang demi izzul Islam wal muslimin. Bukan berjuang di jalan demokrasi yang menjauhkan umat dari kebangkitan hakiki.
Tidak sedikit umat yang masih mengharapkan perubahan hakiki dan kebangkitan Islam pada tampilnya sosok-sosok personal yang nampak garang di atas mimbar, padahal mereka bermesraan dengan musuh yang memudaratkan kehidupan umat Islam. Tidak jarang mereka berjuang dengan jalan yang diarahkan oleh sistem yang menafikan Islam. Tidak bisa dimungkiri penyadaran intensif dengan dakwah Islam kafah masih diragukan sebagai arah. Perang pemikiran dan menyingkap strategi musuh dan peran para penguasa muslim dalam melanggengkan agenda penjajahan menjadi upaya yang luar biasa bagi para pejuangnya.
Ramadan yang penuh dengan berkah dan ampunan telah meninggalkan kita. Umat Islam telah merayakan Idulfitri dengan penuh kegembiraan.
Ramadan sudah pergi namun apa yang dirasa? Ramadan dan Idulfitri hanya pengalaman ruhiyah. Ramadan hanya monen yang berlalu sejalan dengan munculnya berbagai persoalan hidup yang harus dihadapi dalam keseharian umat Islam. Hari kemenangan yang sering dikaitkan dengan momentum Idulfitri hanya narasi kosong. Hampa kebangkitan. Padahal seharusnya momentum Ramadan dan Idulfitri menjadi momen penting menguatkan umat untuk mewujudkan takwa baik takwa ndividu maupun takwa masyarakat. Sudah seharusnya umat bisa meraih sebenar-benar kemenangan, bukan hanya klaim kemenangan yang tidak berdampak apa-apa. Rasulullah saw. bersabda,
"Sesungguhnya imam/khalifah adalah perisai yang orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya, maka ia harus bertanggung jawab atasnya.”(HR. Muslim)
Puasa adalah perisai. Di sana ada kebangkitan yang seharusnya terbangun. Kebangkitan untuk mewujudkan kemenangan hakiki, kemenangan yang terwujud dengan tegaknya Islam Kaffah dalam seluruh lini kehidupan.
Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment