Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Idul Fitri dan Perjuangan Meraih Kemenangan Umat

Sunday, March 22, 2026 | Sunday, March 22, 2026 WIB


Oleh: Neneng Sriwidianti

Pengasuh Majelis Taklim


Hari raya Idul Fitri selalu disambut dengan penuh suka cita. Setelah sebulan penuh menjalani ibadah Ramadan, umat Islam merayakan kemenangan. Kemenangan menahan lapar dan dahaga, kemenangan mengendalikan hawa nafsu, serta kemenangan memperbanyak amal ibadah.


Namun, benarkah kemenangan itu telah diraih secara hakiki?


Ramadan Bulan Perjuangan


Ramadan sejatinya bukan sekadar bulan ritual spiritual. Allah Swt. berfirman:


“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)


Ayat ini menegaskan bahwa tujuan Ramadan adalah membentuk ketakwaan. Ketakwaan bukan hanya tampak dalam ibadah personal, tetapi juga dalam ketaatan total kepada  seluruh aturan Allah dalam kehidupan. Dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh untuk meraih kemenangan hakiki ini. Tiga pilar yang menjadi pendukung terwujudnya kemenangan hakiki tersebut harus ada mulai dari individu yang takwa, masyarakat yang melakukan amar makruf nahi mungkar, dan negara yang menerapkan hukum Allah Swt. secara total.


Sejarah pun mencatat, Ramadan adalah bulan perjuangan. Perang Badar, yang menjadi pembeda antara yang hak dan batil, terjadi di bulan ini. Hal ini  menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya momentum ibadah individu, tetapi juga momentum kebangkitan umat.


Sayangnya, kesadaran ini belum sepenuhnya tumbuh di tengah kaum Muslimin. Ramadan lebih banyak dimaknai sebagai aktivitas individual, seperti puasa, tarawih, dan sedekah tanpa diiringi kesadaran ideologis tentang posisi umat Islam di tengah percaturan dunia. Akibatnya, perjuangan umat cenderung bersifat praktis dan pragmatis, belum menyentuh akar persoalan yang mendasar.


Di sisi lain, kondisi umat Islam hari ini masih jauh dari kata kuat. Padahal Allah Swt. telah memberikan predikat mulia:

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)


Namun realitasnya, umat justru berada dalam posisi politik yang lemah. Terpecah dalam berbagai batas negara, bahkan tidak sedikit yang bergantung dan bersekutu dengan kekuatan asing yang tidak berpihak pada kepentingan umat.


Padahal, jika dilihat dari potensi, umat Islam memiliki segala yang dibutuhkan untuk bangkit. Jumlah sumber daya manusia yang besar, kekayaan sumber daya alam yang melimpah, serta posisi geopolitik dan geostrategis yang sangat penting di dunia. Lebih dari itu, umat ini memiliki Islam sebagai sebuah ideologi yang sempurna dan bisa menyelesaikan seluruh problematika manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Hadis ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga urusan kepemimpinan dan pengelolaan masyarakat. Artinya, keberadaan kepemimpinan yang mengatur umat dengan hukum Islam adalah bagian penting dari ajaran Islam itu sendiri.


Pertanyaannya, mengapa potensi besar ini belum mampu mengantarkan umat pada kemenangan yang hakiki?


Di sinilah pentingnya kesadaran politik ideologis. Umat tidak cukup hanya baik secara individu, tetapi juga harus memahami bagaimana Islam mengatur kehidupan secara menyeluruh (kaffah). Allah Swt. berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah)...” (QS. Al-Baqarah: 208)


Tanpa kesadaran ini, umat akan terus berada dalam lingkaran kelemahan yang sama.

Upaya mengembalikan kehidupan Islam tentu bukan perkara sederhana. Ia membutuhkan perjuangan yang terarah, terorganisir, dan berlandaskan pemikiran Islam yang sahih. Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Barangsiapa yang mati sementara di lehernya tidak ada baiat (kepada seorang pemimpin), maka ia mati dalam keadaan jahiliah.” (HR. Muslim)


Hadis ini semakin menegaskan pentingnya keberadaan kepemimpinan yang menyatukan umat dalam satu ikatan. Umat juga membutuhkan partai politik ideologis yang berjuang sesuai dengan metode perjuangan Rasulullah saw. yaitu dakwah kepada pemikiran dan tidak dengan kekerasan. Partai politik inilah yang akan membimbing umat menuju terwujudnya kepemimpinan global.


Idul Fitri Momentum Perubahan


Idul Fitri seharusnya tidak hanya menjadi penutup Ramadan, tetapi juga menjadi titik awal. Momentum untuk melakukan refleksi yang lebih dalam bahwa sudah sejauh mana Ramadan membentuk kesadaran kita, bukan hanya sebagai individu, tetapi juga sebagai bagian dari umat.


Jika Ramadan telah melatih kesabaran dan ketakwaan, maka Idul Fitri semestinya menjadi awal untuk mengonsolidasikan kekuatan umat. Dari sekadar ibadah personal menuju kesadaran kolektif. Dari semangat spiritual menuju gerak perjuangan yang nyata.


Sebab kemenangan sejati bukan hanya ketika kita kembali suci secara pribadi, tetapi ketika umat Islam mampu bangkit, bersatu, dan menjalankan kehidupannya sesuai dengan tuntunan Islam secara menyeluruh.

Di situlah makna kemenangan yang sesungguhnya.


Saatnya Umat Sadar


Idul  Fitri ini semestinya tidak hanya kita rayakan dengan kebahagiaan secara individu. Ia adalah panggilan untuk melangkah lebih jauh. Tidak cukup jika kita hanya menjadi pribadi yang saleh, tetapi abai terhadap nasib umat.


Sudah saatnya kita mengambil peran, sekecil apapun itu. Meningkatkan pemahaman, menguatkan barisan, dan turut serta dalam perjuangan yang mengarah pada kebangkitan hakiki umat Islam.


Sebab, kemenangan hakiki itu tidak akan datang hanya dengan harapan, tetapi dengan kesungguhan langkah dan ikhtiar yang nyata serta terus diperjuangkan.


Wallahu a'lam bishshawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update