Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Panic Buying BBM dan Realita Konflik Timur Tengah

Saturday, March 21, 2026 | Saturday, March 21, 2026 WIB



Oleh Arini Faiza

Pegiat Literasi 

Konflik geopolitik di Timur Tengah menyebabkan keprihatinan dan kekhawatiran masyarakat dunia. Perang Iran dan Israel yang didukung oleh Amerika Serikat telah memicu lonjakan harga minyak dunia. Gangguan pasokan minyak pasca penutupan Selat Hormuz mengakibatkan panic buying bahan bakar minyak di berbagai negara.

Di Korea Selatan, antrian kendaraan di SPBU naik secara signifikan. Menurut data Korea National Oil Corporation harga bensin menyentuh angka tertinggi dalam 29 hari terakhir, naik 3,16 persen menjadi 1.777,52 won per liter. Sementara di Srilanka, warga berbondong-bondong membeli BBM meski pemerintah telah memastikan bahwa stok bensin mencukupi hingga 30 hari ke depan. Kejadian yang sama juga terjadi di Australia, Inggris, dan German. Di Indonesia, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan bahwa ketahanan BBM nasional relatif aman hingga 20 hari ke depan. (cnnindonesia.com, 05 Maret 2026)

Perang Amerika Serikat, Israel versus Iran telah mengancam stabilitas perekonomian dunia, dan menghambat pasokan minyak ke berbagai negara termasuk Indonesia. Hal ini mengakibatkan harga minyak dunia melonjak dan memicu panic buying. Padahal BBM adalah salah satu komoditas strategis, kelangkaanya akan memicu gejolak ekonomi, mulai dari sektor transportasi,  industri, hingga distribusi kebutuhan pokokm karena bergantung pada energi.

Maka jika BBM langka, yang terjadi bukan hanya soal kenaikan harga, tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial bahkan ketegangan politik. Kekhawatiran masyarakat akan pasokan BBM nyatanya hanya memperburuk situasi, hal ini terlihat dari antrean panjang di berbagai SPBU. Keberadaan energi menjadi faktor yang sangat krusial bagi stabilitas ekonomi.  Negara yang bergantung pada impor energi akan  lebih rentan terkena tekanan eksternal terutama jika terjadi konflik di kawasan produsen energi. Ketergantungan ini membuat kebijakan energi nasional tidak sepenuhnya dalam kendali negara itu sendiri.  Melainkan dipengaruhi oleh dinamika pasar global dan kepentingan negara-negara besar.

Realitas di atas tidak dapat dipisahkan dari sistem kapitalisme global yang menguasai tata kelola energi dunia. Dalam sistem ini sumber daya energi dikuasai  dan dieksploitasi korporasi besar dan negara-negara kuat untuk meraih keuntungan ekonomi sebesar-besarnya. Negara-negara yang memiliki SDA melimpah kerap terjebak dalam ketergantungan struktural,  sementara negara yang lemah secara ekonomi dipaksa menjadi pasar dan konsumen energi. Dengan demikian kapitalisme tidak hanya menjadikan energi sebagai komoditas ekonomi tetapi juga sebagai alat dominasi dan penjajahan yang memperkuat ketimpangan global.

Kebutuhan energi sifatnya mendesak bagi setiap negara, karena keberadaannya mampu menjadi penopang utama aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat. Dalam pandangan Islam, SDA yang menjadi hajat hidup orang banyak tidak boleh dikuasai oleh individu atau korporasi tertentu sebagaimana dalam kapitalisme. Pengelolaannya pun harus dilakukan oleh negara dan ditujukan untuk kepentingan seluruh rakyat.  Sebagaimana Sabda Rasulullah saw.: “Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara: air, Padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Para ulama menjelaskan bahwa kata ‘api’ dalam hadis ini mencakup berbagai energi yang dibutuhkan manusia. Karena itu Islam menegaskan bahwa energi termasuk kepemilikan umum yang harus dijaga dan dikelola oleh negara demi kemaslahatan rakyat. Dalam sistem pemerintahan Islam, pengelolaan sumber daya alam seperti tambang, minyak, gas, dan mineral tidak boleh diserahkan kepada swasta atau pihak asing untuk dikuasai apalagi hanya menguntungkan segelintir pihak.

Negara bertugas mengelolanya secara langsung kemudian mendistribusikan hasilnya kepada rakyat baik berupa energi dengan harga murah maupun dalam bentuk layanan publik yang dibiayai dari pengelolaannya. Jika SDA dikelola sesuai dengan syariat, kekayaan alam yang melimpah di negeri-negeri muslim sebenanya sangat mampu menyejahterakan umat. Sebab, banyak wilayah dunia Islam yang memiliki cadangan minyak, gas, serta berbagai cadangan mineral strategis yang besar. Jika semua itu dikelola dengan amanah hasilnya bisa menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat luas.

Oleh karena itu penjajahan ekonomi oleh kapitalisme global yang selama ini mengeruk kekayaan negeri-negeri muslim harus dihentikan. Jalan untuk mengakhiri adalah dengan cara menegakkan kem

bali syariat Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan, yang termanifestasi dalam sebuah negara yang menerapkan pemerintahan Islam. Dengan demikian kekayaan umat akan kembali di tangan kaum muslimin dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan bersama, seperti yang pernah terjadi dahulu ketika Islam mampu berjaya selama 13 abad memimpin dunia. Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update