Oleh Ruri R
Pegiat Dakwah
Desakan untuk Indonesia agar keluar dari BoP (Board Of Peaca) atau Forum Dewan Perdamaian oleh beberapa kalangan di berbagai lapisan masyarakat, semakin menguat setelah terjadinya serangan Amerika Serikat bersama sekutunya (zionis) terhadap Iran.
Operasi militer atau serangan tersebut menyebabkan gugurnya sejumlah tokoh penting di Republik Islam Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khosseini Khamenei. Padahal AS merupakan negara yang menginisiasi pembentukan BoP.
Peristiwa itu memicu kritik keras publik Indonesia. Mulai dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Koalisi Masyarakat Sipil, Perguruan Tinggi, hingga mahasiswa mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk menarik status keanggotaan Indonesia di BoP. (tempo.co, Kamis 05/04/2026)
Sistem Sekuler lah Dibalik Konflik Yang Terjadi
Konflik yang terjadi mengenai As-Iran menuai banyak kecaman, dan hal tersebut menunjukkan adanya kekecewaan publik terhadap peran lembaga internasional (BoP) yang dinilai tidak mampu mewujudkan perdamaian dunia.
Faktanya pelaku perang adalah ketua BoP itu sendiri (AS) dan Indonesia sebagai negara pengikut tidak memiliki kekuatan untuk menentukan arah BoP, melainkan hanya ikut rencana AS. Pemerintah memilih bersikap hati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Saat ini seluruh pembahasan terkait BoP ditangguhkan.
BoP adalah proyek kolonial AS untuk menguasai Palestina, melucuti Hamas, dan mengusir penduduknya. Proyek ini dibuat demi kepentingan strategis mereka yaitu untuk kepentingan geopolitik, stabilitas instrumen hegemoni, dan pencegahan kebangkitan kekuatan alternatif.
Ambisi AS, untuk menguasai dunia dan ingin agar negara-negara global tunduk pada narasi yang dibuatnya. Kebijakan dan strateginya sering sekali dipengaruhi oleh kepentingan geopolitik negara adidaya. Dalih menjadi perdamaian hanyalah untuk melancarkan dan melindungi kepentingan mereka.
Semua terjadi disebabkan oleh sistem demokrasi sekuler yang menjadi biang permasalahannya, karena agama dijauhkan maka kehidupan umat carut marut. Berbagai kemaksiatan banyak terjadi, apapun dilakukan oleh negara adidaya guna menguasai dunia.
Mirisnya, pemimpin negeri-negeri muslim pun tetap diam saja, mengikuti kebijakan-kebijakan negara adikuasa, adapun pembelaan yang dilakukan untuk Palestina hanya sebatas kecaman-kecaman saja tanpa ada aksi lain. Termasuk sikap pemerintah yang masih bertahan di BoP menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam dominasi AS, artinya Indonesia terjajah secara politik.
Solusi Atas Semua Konflik Hanya Dengan Penerapan Sistem Islam
Dalam Islam, semua permasalahan kehidupan diselesaikan dengan tuntas terutama perihal hubungan politik luar negeri. Seorang pemimpin (kholifah) akan bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup umatnya dengan memberikan perlindungan secara komprehensif. Sabda Rasulullah saw.:
"Imam/khalifah adalah raa'in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya." (HR al-Bukhari)
Hubungan politik luar negeri negara Islam dijalankannya berasaskan pemikiran yang tetap tidak berubah-ubah yang bersumber dari hukum syari'at, yaitu jihad dengan menyebarkan Islam (dakwah) ke seluruh negeri-negeri lain.
Untuk itu, Islam melarang kaum muslim untuk terlibat dalam proyek yang memperkuat penjajahan terhadap kaum muslim lainnya. Seperti yang terjadi saat ini, negara Indonesia haram bergabung dengan BoP yang menjadi strategi AS menguasai Palestina. Allah Swt berfirman :
"Allah tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin". (TQS an-Nissa : 141)
Adapun solusi dalam Islam untuk pembebasan Palestina adalah jihad di bawah komando Khilafah. Menghancurkan Zionis dan antek-anteknya hingga punah melalui kesatuan dan kekuatan global kaum muslim terutama bidang politik, ekonomi, dan militer.
Agenda utama umat Islam sedunia saat ini adalah bersatu mewujudkan Khilafah sebagai pembebas Palestina. Membutuhkan solidaritas kemanusiaan, kebangkitan kekuatan politik umat Islam secara menyeluruh, serta persatuan umat dan kepemimpinan yang mempersatukan kaum muslim, potensi besar dunia Islam dapat dihimpun menjadi kekuatan strategis untuk mengakhiri penjajahan dan mengembalikan kemerdekaan Palestina.
Wallahu'alam bishshawab.
No comments:
Post a Comment