Nusantaranews.net, Internasional, Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi sorotan dunia. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukan hanya persoalan regional, tetapi telah menjelma menjadi ancaman global.
Dilansir dari The New York Times, Presiden Donald Trump memilih menunda serangan militer terhadap Iran selama 10 hari. Keputusan ini dianggap sebagai peluang terakhir bagi diplomasi untuk bekerja.
Namun di balik itu, situasi tidak sepenuhnya mereda.
Di Selat Hormuz, salah satu jalur paling vital bagi distribusi energi dunia, ketegangan justru meningkat. Dilansir dari Reuters, gangguan di wilayah ini berdampak langsung pada pasokan minyak global.
Harga minyak pun melonjak tajam, menembus angka psikologis 100 dolar AS per barel. Bagi banyak negara, ini bukan sekadar angka—melainkan sinyal bahaya bagi stabilitas ekonomi.
Sementara itu, korban terus berjatuhan. Dilansir dari The Guardian, ribuan nyawa melayang dan jutaan orang kehilangan tempat tinggal akibat konflik yang kian meluas.
Upaya diplomasi masih berlangsung, tetapi jalan menuju perdamaian tampak terjal. Dunia kini berada dalam posisi menunggu—apakah konflik ini akan mereda, atau justru menjadi krisis global yang lebih besar. (*/intnl)

No comments:
Post a Comment